FEMINISME (Sebuah Racun (?) dalam Agama) [1]



Saya teringat, pada suatu sore yang hangat di depan fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga awal tahun kemarin. Sore itu saya mengajak teman saya untuk menghadiri kajian yang diselenggarakan oleh HMI Fakultas Adab. Temanya menarik, mengenai wanita, mengenai feminisme. Berbicara mengenai feminisme, ada dua hal yang saya rasakan pada saat itu, senang sekaligus merasa miris. Mengapa senang? karena feminisme ialah sebuah ideologi pembebasan di mata saya. Feminisme, saya ibaratkan sebagai kacamata ajaib, yang ketika kita memakainya kita bisa melihat semua kekerasan yang tidak kasat mata, kita bisa melihat apa itu ketidakadilan. Mengapa saya berkata demikian? karena memang setelah saya menyeruput secangkir ideologi feminisme, saya merasa bahwa saya dan juga kawan-kawan saya sebagai seorang wanita, ternyata telah di-setting untuk masuk kedalam suatu sistem yang bernama patriarki. 

Di dalam sistem tersebut, kami sebagai wanita dengan halus dan tidak terdeteksi dibentuk untuk menjadi manusia yang sesuai dengan kemauan pasar (masyarakat). Ternyata masyarakat diam-diam membentuk bagaimana cara kita bersikap, cara kita berbicara dan tertawa, cara kita bergaul, bekerja,berjalan,bahkan berpakaian dan tentunya masih banyak sekali hal-hal yang kita (wanita) tidak sadari dari hal tersebut. Memang, feminisme ini adalah ideologi yang boleh kita bilang lama, tapi belum pernah ia bisa menjadi sebuah tren ataupun sebuah ideologi yang membuat wanita-wanita di Indonesia untuk rise up alias bangkit untuk melawan sistem patriarki yang sudah ada ini. Mengapa? karena sistem patriarki (sistem yang menjadikan lelaki sebagai manusia yang superior) sangatlah kuat melekat dalam budaya kita sejak zaman kerajaan dahulu.

            Mungkin sangat biasa bagi kita terutama masyarakat Indonesia, mengenai pembagian kerja antara lelaki dan perempuan. Perempuan, setinggi-tinggi ilmu yang dia dapat pasti akan ‘ditempatkan’ dalam pekerjaan domestik (rumah tangga) oleh masyarakat. Bahkan saya ingat betul  ucapan ayah dari sahabat saya yang mengatakan ‘Perempuan itu mau sekolah setinggi apapun, nanti pasti baliknya ke dapur’. Mungkin pada saat itu saya mengiyakan pemikirannya, karena memang selama ini peran wanita yang saya lihat kebanyakan dalam wilayah domestik rumah tangga saja. Walaupun wanita telah memiliki pekerjaan sendiri pun (seperti menjadi dosen, guru, wiraswasta dsb) mereka juga tetap mengurusi urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak, mengurus anak dan sebagainya. 

Uniknya mereka tidak merasa keberatan terhadap hal itu, karena mereka menganggap itu adalah kewajiban mereka. Tak jarang saya juga melihat para lelaki yang justru menganggur, tidak memiliki pekerjaan dan sang wanitalah yang justru bekerja. Tapi soal urusan rumahtangga, tetaplah si wanita yang mengurusi seusai dia bekerja. Atau bahkan ketika suami istri yang sama-sama bekerja, urusan rumah tangga tetap dibebankan kepada perempuan. Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya, ialah; apakah ini yang diajarkan islam? apakah memang keadaan seperti ini, dimana dominasi laki-laki terhadap perempuan dibenarkan, merupakan sesuatu yang agama Islam sendiri ajarkan?

Tentu saja, feminisme bukan mengotak-atik permasalahan rumah tangga semata, dia mencoba untuk menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi hak kita (para wanita) dan menyatakan bahwa ternyata wanita tidaklah memiliki strata yang berbeda dengan laki-laki. Wanita bukan makhluk yang lemah, yang lantas harus menggantungkan hidupnya kepada  laki-laki, ia bukan semata-mata diciptakan sebagai pemuas laki-laki, sejatinya dia diciptakan sebagai patner laki-laki. Begitupula sebaliknya, laki-laki lah yang juga menjadi patner perempuan. Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi.

Seperti yang telah dituliskan dalam Al-Quran;

Q.s. Al-Hujurat?49 : 13
“ Wahai manusia  Kami ciptakan  kamu dari laki-laki dan perempuan  dan Kami jadikan  kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa  agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah  adalah yang paling  bertaqwa kepada Nya “.

Q.s  At-Taubah? 9:7 
“ Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, laki-laki dan perempuan saling membantu  dalam kerja  mengajak kepada kebaikan  dan mencegah  dari kemungkaran”

Kita semua sebenarnya sama, tidak ada tinggi atau rendah (dalam hal kelas) yang membedakan masing-masing dari kita hanyalah TAQWA. Al-Quran sendirilah yang sudah menerangkan perihal kesetaraan gender tersebut, dan tidak membedakan makhluk-makhluknya kecuali dalam hal ketaqwaan. Islam sendiri datang membawa pemikiran kesetaraan untuk membenahi sistem patriarki yang sudah dilakukan pada zaman jahiliyah dahulu. Atau lebih tepatnya  memperbaiki sistem patriarki yang ada di seluruh dunia sebelum Nabi Muhammad datang membawa ajaran Islam.

Pada zaman sebelum nabi Muhammad menyebarkan Islam, terdapat peradaban-peradaban di berbagai belahan dunia, seperti di Yunani, Cina, India , Roma, Babilonia, Persia dan Mesir. Sumber sejarah mengatakan bahwa di cina dahulu wanita sepenuhnya harus tunduk pada otoritas laki-laki, seorang ayah memiliki kekuasaan yang mutlak dan bahkan sebagai tirani dalam semua persoalan keluarga, lebih ekstrem lagi, sang ayah bisa memutuskan untuk menjual anak dan istrinya sebagai budak. 

Dalam budaya Hindu, Romawi dan Yunani kuno, kehidupan perempuan bahkan harus berakhir ketika sang suami meninggal dunia. Mereka (untuk menunjukkan kesetiaan) haruslah mengikuti sang suami ke alam baka alias dibunuh ataupun dibakar hidup-hidup. Agaknya di India sendiri masih terdapat hal seperti ini, meskipun tentunya bukan lagi dibunuh, namun tidak diperbolehkan ia menikah kembali alias menjanda sampai akhir hayatnya. Memang pada peradaban kuno, seorang wanita ketika diperistri oleh seseorang, lantas dijadikan hak milik oleh lelaki. Para lelaki yang berkuasa penuh atas kehidupan wanitanya. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. 

Hukum Roma mencabut dan menghilangkan hak-hak sipil kaum wanita, dan segala hasil usaha wanita menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Wanita juga dianggap sebagai objek, dimana suami membayar sejumlah uang tertentu kepada ayah sang isteri, dan sebagai imbalannya isteri harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lainnya tanpa boleh menolak. Isteri tidak mempunyai hak untuk mengajukan keberatan atas semua ketidakadilan tersebut, bahkan seorng isteri tidak memiliki hak untuk menuntut kekayaan suaminya setelah suaminya meninggal dan jika mau, suami boleh mencabut hak waris bagi isterinya.[1]

            Pada peradaban Yunani Kuno, para wanita tidak diperkenankan untuk menuntut ilmu layaknya seorang lelaki, bahkan para lelaki disana dibolehkan untuk menikah dengan berapapun wanita yang ia mau, tanpa ada batasan. Setelah menikah, wanita pun sepenuhnya menjadi milik seorang laki-laki. Begitulah kondisi perempuan yang terjadi pada masa sebelum Islam datang, perempuan tidak lebih dari layaknya benda. Ia bisa dimiliki, dan bisa ‘dibeli’ dengan cara membayar pada ayah si perempuan. Dia juga bisa dijual sebagai budak, tubuhnya bisa untuk dimiliki laki-laki, dan kalau laki-laki tidak suka, dia bisa saja melukainya atau bahkan membunuhnya.

Perempuan seperti bukan seorang manusia, karena dia tidak memiliki dirinya sendiri. Dia ada untuk memuaskan laki-laki, tubuhnya difungsikan untuk melayani laki-laki dan anak-anaknya, pikirannya pun juga tidak bisa bebas dan harus patuh kepada hukum patriarki saat itu. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan dirinya sendiri pun tidak pernah menjadi miliknya. Pada peradaban jahiliyah pun, perempuan tidak jauh beda kondisinya dengan peradaban diatas. Saat masih bayi pun, perempuan sudah dianggap sebagai malapetaka yang kemudian dibunuh oleh mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. An-Nahl ayat 58-59 yang menyatakan;

 “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” 

Mengenai ayat-ayat di atas, Ibnu Kathir (1980:201) berkata:

 ‘’Allah s.w.t mengatakan (kepada kita) tentang (kebiasaan) buruk orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah, dari patung dan berhala dan menyekutukan-Nya tanpa adanya pengetahuan. Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi pucat dan dia terpukul oleh rasa duka cita dan menghindari pergaulan dengan orang-orang. Dia akan merawatnya, namun, dengan terus menindas dan tidak memberikan kasih sayang dan mereka lebih memuliakan anak-anak laki-laki daripada anak perempuan, kalau tidak, dia akan menguburnya hidup-hidup, sebagaimana yang biasa mereka lakukan di zaman jahiliyah’’

Bisa kita fahami berdasarkan hal tersebut, bahwa ‘perempuan’ adalah sebuah kesialan. Dan lelaki adalah sebuah kebahagiaan. Perempuan dipandang sangat rendah, tidak bernilai dan hina dan satu-satunya yang dianggap sebagai manusia (dalam hal ini yang diberi perlakuan manusiawi) hanyalah lelaki. Perempuan dianggap sebagai sesuatu yang menyusahkan hati karena dia tidak bisa diajak untuk berperang, karena fisiknya lebih lemah dari pada lelaki. Dan hal inilah yang hendak diruntuhkan oleh Islam. Islam datang dengan membawa pernyataan bahwa kita lelaki-perempuan adalah sama di mata Allah, hanya taqwa lah yang membedakannya. Islam ingin menghancurkan pandangan bahwa perempuan ada dibawah laki-laki, setiap lelaki dan perempuan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan hal tersebut dimaksudkan agar keduanya bisa saling melengkapi. 

Tunggu kelanjutannya di post selanjutnya.. 

Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)



[1] Tri Handayani dan Deddy Ilyas , ‘’Isu Gender : Potret Relasi Masa Lampau, At A Glance’’. Jurnal JIA. Th.XIV  No.1,2013, 1-20


Komentar

  1. Menarik, kajian gender-feminisme perlu dibedah sedemikian rupa. Lanjutkan. Ditunggu tulisan berikutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus itu, pak ketu.. HMI punya kohati, wajib untuk diberi pemahaman :)))

      Hapus
  2. Semoga kelak anak perempuanku bisa seperti Wonder Woman, Black Widow, atau mungkin Scarlet Witch.

    BalasHapus
  3. Bagus tulisannya namun Mungkin lebih di tembhakn tafsir annisa' ayat 3 supy lbh memperjls dalam mksd ayat tersebt dlm kajian gender

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga untuk bahan di tulisan berikutnya.. terimakasih :)

      Hapus

Posting Komentar