Saya teringat, pada suatu sore
yang hangat di depan fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga awal
tahun kemarin. Sore itu saya mengajak teman saya untuk menghadiri kajian yang
diselenggarakan oleh HMI Fakultas Adab. Temanya menarik, mengenai wanita,
mengenai feminisme. Berbicara mengenai feminisme, ada dua hal yang saya rasakan
pada saat itu, senang sekaligus merasa miris. Mengapa senang? karena feminisme
ialah sebuah ideologi pembebasan di mata saya. Feminisme, saya ibaratkan
sebagai kacamata ajaib, yang ketika kita memakainya kita bisa melihat semua
kekerasan yang tidak kasat mata, kita bisa melihat apa itu ketidakadilan.
Mengapa saya berkata demikian? karena memang setelah saya menyeruput secangkir
ideologi feminisme, saya merasa bahwa saya dan juga kawan-kawan saya sebagai
seorang wanita, ternyata telah di-setting untuk masuk kedalam suatu sistem yang
bernama patriarki.
Di dalam sistem tersebut, kami
sebagai wanita dengan halus dan tidak terdeteksi dibentuk untuk menjadi manusia
yang sesuai dengan kemauan pasar (masyarakat). Ternyata masyarakat diam-diam membentuk
bagaimana cara kita bersikap, cara kita berbicara dan tertawa, cara kita
bergaul, bekerja,berjalan,bahkan berpakaian dan tentunya masih banyak sekali
hal-hal yang kita (wanita) tidak sadari dari hal tersebut. Memang, feminisme
ini adalah ideologi yang boleh kita bilang lama, tapi belum pernah ia bisa
menjadi sebuah tren ataupun sebuah ideologi yang membuat wanita-wanita di
Indonesia untuk rise up alias bangkit untuk melawan sistem patriarki
yang sudah ada ini. Mengapa? karena sistem patriarki (sistem yang menjadikan
lelaki sebagai manusia yang superior) sangatlah kuat melekat dalam budaya kita
sejak zaman kerajaan dahulu.
Mungkin
sangat biasa bagi kita terutama masyarakat Indonesia, mengenai pembagian kerja
antara lelaki dan perempuan. Perempuan, setinggi-tinggi ilmu yang dia dapat
pasti akan ‘ditempatkan’ dalam pekerjaan domestik (rumah tangga) oleh
masyarakat. Bahkan saya ingat betul
ucapan ayah dari sahabat saya yang mengatakan ‘Perempuan itu mau sekolah
setinggi apapun, nanti pasti baliknya ke dapur’. Mungkin pada saat itu
saya mengiyakan pemikirannya, karena memang selama ini peran wanita yang saya
lihat kebanyakan dalam wilayah domestik rumah tangga saja. Walaupun wanita
telah memiliki pekerjaan sendiri pun (seperti menjadi dosen, guru, wiraswasta
dsb) mereka juga tetap mengurusi urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak,
mengurus anak dan sebagainya.
Uniknya mereka tidak merasa
keberatan terhadap hal itu, karena mereka menganggap itu adalah kewajiban
mereka. Tak jarang saya juga melihat para lelaki yang justru menganggur, tidak
memiliki pekerjaan dan sang wanitalah yang justru bekerja. Tapi soal urusan
rumahtangga, tetaplah si wanita yang mengurusi seusai dia bekerja. Atau bahkan
ketika suami istri yang sama-sama bekerja, urusan rumah tangga tetap dibebankan
kepada perempuan. Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya, ialah; apakah ini
yang diajarkan islam? apakah memang keadaan seperti ini, dimana dominasi
laki-laki terhadap perempuan dibenarkan, merupakan sesuatu yang agama Islam sendiri
ajarkan?
Tentu saja, feminisme bukan
mengotak-atik permasalahan rumah tangga semata, dia mencoba untuk menyampaikan
apa yang sebenarnya menjadi hak kita (para wanita) dan menyatakan bahwa
ternyata wanita tidaklah memiliki strata yang berbeda dengan laki-laki. Wanita
bukan makhluk yang lemah, yang lantas harus menggantungkan hidupnya kepada laki-laki, ia bukan semata-mata diciptakan
sebagai pemuas laki-laki, sejatinya dia diciptakan sebagai patner laki-laki.
Begitupula sebaliknya, laki-laki lah yang juga menjadi patner perempuan.
Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi.
Seperti yang telah dituliskan
dalam Al-Quran;
Q.s. Al-Hujurat?49 : 13
“ Wahai
manusia Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan
Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu
saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah adalah yang paling bertaqwa kepada Nya “.
Q.s At-Taubah?
9:7
“ Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, laki-laki dan
perempuan saling membantu dalam kerja mengajak kepada
kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”
Kita semua sebenarnya sama, tidak
ada tinggi atau rendah (dalam hal kelas) yang membedakan masing-masing dari
kita hanyalah TAQWA. Al-Quran sendirilah yang sudah menerangkan perihal
kesetaraan gender tersebut, dan tidak membedakan makhluk-makhluknya kecuali
dalam hal ketaqwaan. Islam sendiri datang membawa pemikiran kesetaraan untuk
membenahi sistem patriarki yang sudah dilakukan pada zaman jahiliyah dahulu.
Atau lebih tepatnya memperbaiki sistem
patriarki yang ada di seluruh dunia sebelum Nabi Muhammad datang membawa ajaran
Islam.
Pada zaman sebelum nabi Muhammad
menyebarkan Islam, terdapat peradaban-peradaban di berbagai belahan dunia,
seperti di Yunani, Cina, India , Roma, Babilonia, Persia dan Mesir. Sumber
sejarah mengatakan bahwa di cina dahulu wanita sepenuhnya harus tunduk pada
otoritas laki-laki, seorang ayah memiliki kekuasaan yang mutlak dan bahkan
sebagai tirani dalam semua persoalan keluarga, lebih ekstrem lagi, sang ayah
bisa memutuskan untuk menjual anak dan istrinya sebagai budak.
Dalam budaya Hindu, Romawi dan
Yunani kuno, kehidupan perempuan bahkan harus berakhir ketika sang suami
meninggal dunia. Mereka (untuk menunjukkan kesetiaan) haruslah mengikuti sang
suami ke alam baka alias dibunuh ataupun dibakar hidup-hidup. Agaknya di India
sendiri masih terdapat hal seperti ini, meskipun tentunya bukan lagi dibunuh,
namun tidak diperbolehkan ia menikah kembali alias menjanda sampai akhir
hayatnya. Memang pada peradaban kuno, seorang wanita ketika diperistri oleh
seseorang, lantas dijadikan hak milik oleh lelaki. Para lelaki yang berkuasa
penuh atas kehidupan wanitanya. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual,
mengusir, menganiaya dan membunuh.
Hukum Roma mencabut dan
menghilangkan hak-hak sipil kaum wanita, dan segala hasil usaha wanita menjadi
hak milik keluarganya yang laki-laki. Wanita juga dianggap sebagai objek,
dimana suami membayar sejumlah uang tertentu kepada ayah sang isteri, dan
sebagai imbalannya isteri harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan
pekerjaan lainnya tanpa boleh menolak. Isteri tidak mempunyai hak untuk
mengajukan keberatan atas semua ketidakadilan tersebut, bahkan seorng isteri
tidak memiliki hak untuk menuntut kekayaan suaminya setelah suaminya meninggal
dan jika mau, suami boleh mencabut hak waris bagi isterinya.[1]
Pada
peradaban Yunani Kuno, para wanita tidak diperkenankan untuk menuntut ilmu
layaknya seorang lelaki, bahkan para lelaki disana dibolehkan untuk menikah
dengan berapapun wanita yang ia mau, tanpa ada batasan. Setelah menikah, wanita
pun sepenuhnya menjadi milik seorang laki-laki. Begitulah kondisi perempuan
yang terjadi pada masa sebelum Islam datang, perempuan tidak lebih dari
layaknya benda. Ia bisa dimiliki, dan bisa ‘dibeli’ dengan cara membayar pada
ayah si perempuan. Dia juga bisa dijual sebagai budak, tubuhnya bisa untuk
dimiliki laki-laki, dan kalau laki-laki tidak suka, dia bisa saja melukainya
atau bahkan membunuhnya.
Perempuan seperti bukan seorang
manusia, karena dia tidak memiliki dirinya sendiri. Dia ada untuk memuaskan
laki-laki, tubuhnya difungsikan untuk melayani laki-laki dan anak-anaknya,
pikirannya pun juga tidak bisa bebas dan harus patuh kepada hukum patriarki
saat itu. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan dirinya sendiri pun tidak pernah
menjadi miliknya. Pada
peradaban jahiliyah pun, perempuan tidak jauh beda kondisinya dengan peradaban
diatas. Saat masih bayi pun, perempuan sudah dianggap sebagai malapetaka yang
kemudian dibunuh oleh mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. An-Nahl ayat
58-59 yang menyatakan;
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi
kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan
dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan
buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya
dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah
(hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
Mengenai ayat-ayat di atas, Ibnu Kathir
(1980:201) berkata:
‘’Allah s.w.t mengatakan (kepada kita) tentang
(kebiasaan) buruk orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah, dari
patung dan berhala dan menyekutukan-Nya tanpa adanya pengetahuan. Apabila
seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya
menjadi pucat dan dia terpukul oleh rasa duka cita dan menghindari pergaulan
dengan orang-orang. Dia akan merawatnya, namun, dengan terus menindas dan tidak
memberikan kasih sayang dan mereka lebih memuliakan anak-anak laki-laki
daripada anak perempuan, kalau tidak, dia akan menguburnya hidup-hidup,
sebagaimana yang biasa mereka lakukan di zaman jahiliyah’’
Bisa kita fahami berdasarkan hal
tersebut, bahwa ‘perempuan’ adalah sebuah kesialan. Dan lelaki adalah sebuah
kebahagiaan. Perempuan dipandang sangat rendah, tidak bernilai dan hina dan
satu-satunya yang dianggap sebagai manusia (dalam hal ini yang diberi perlakuan
manusiawi) hanyalah lelaki. Perempuan dianggap sebagai sesuatu yang menyusahkan
hati karena dia tidak bisa diajak untuk berperang, karena fisiknya lebih lemah
dari pada lelaki. Dan hal inilah yang hendak diruntuhkan oleh Islam. Islam
datang dengan membawa pernyataan bahwa kita lelaki-perempuan adalah sama di
mata Allah, hanya taqwa lah yang membedakannya. Islam ingin menghancurkan
pandangan bahwa perempuan ada dibawah laki-laki, setiap lelaki dan perempuan
memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan hal tersebut dimaksudkan
agar keduanya bisa saling melengkapi.
Tunggu kelanjutannya di post selanjutnya..
Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi
Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)
[1] Tri Handayani dan Deddy Ilyas , ‘’Isu Gender : Potret Relasi Masa
Lampau, At A Glance’’. Jurnal JIA. Th.XIV
No.1,2013, 1-20

Menarik, kajian gender-feminisme perlu dibedah sedemikian rupa. Lanjutkan. Ditunggu tulisan berikutnya.
BalasHapusHarus itu, pak ketu.. HMI punya kohati, wajib untuk diberi pemahaman :)))
HapusSemoga kelak anak perempuanku bisa seperti Wonder Woman, Black Widow, atau mungkin Scarlet Witch.
BalasHapusAamiin
HapusBagus tulisannya namun Mungkin lebih di tembhakn tafsir annisa' ayat 3 supy lbh memperjls dalam mksd ayat tersebt dlm kajian gender
BalasHapusBisa juga untuk bahan di tulisan berikutnya.. terimakasih :)
Hapus