SEKILAS TENTANG ISIS DAN PIMPINANNYA


Akbar Buntoro
Pemerhati Gerakan Terorisme 

1 ramadhan 1435 bertepatan dengan tanggal 29 Juni 2014, Daulah Islamiyah Fil ‘iraq Was-syam mendeklarasikan gerakan jihad mereka menjadi satu gerakan jihad yang mengusung penerapan khilafah di seluruh dunia sebagai tujuan utama gerakan ini. perubahan nama menjadi IS (Islamic State) sebagai legitimasi bahwa gerakannya tidak sebatas tanah Syam dan Iraq.
Setelah penggantian namanya tersebut, para separatis ini dengan cepat menyebarkan video propaganda kepada kaum muslimin melalui website Youtube agar bergabung dan mendukung gerakan ini. Pasca deklarasi IS itu, di Indonesia ramai perbincangan tentang munculnya satu video simpatisan IS asal Indonesia bernama Bahrumsyah dengan nama samaran Abu Muhammad Al-Indunisi dan beberapa simpatisan IS yang berasal dari Asia Tenggara yang mengajak masyarakat untuk bergabung dan mendukung IS ini termasuk berbai’at kepada Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai seorang khalifah. Lalu siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi ini sehingga dia diangkat sebagai seorang khalifah?.
Dalam dunia terorisme, untuk mencari biografi seorang simpatisan atau pimpinannya pasti menemukan kesulitan. Memang ada semacam peraturan yang diterapkan oleh beberapa gerakan terorisme ini untuk selalu menyembunyikan identitasnya, mungkin alasan utamanya untuk menjaga keamanan simpatisannya atau karena menganggap gerakan ini adalah gerakan jihad yang suci, sehingga sangat tidak diperbolehkan untuk membuka wajahnya dan lebih memilih untuk menutup wajahnya untuk tetap menjaga hati agar tidak terkena penyakit riya’.
Tahun 2006 Baghdadi dan pengikutnya memilih untuk bergabung dengan Dewan Syuro Mujahidin (DSM) yang lagi-lagi Al-Baghdadi dipercaya menjadi anggota Komite Syariah. Fase ini menjadi sejarah pertemuan kelompok Al-Baghdadi dengan AQI (Al-Qaida Iraq) yang dipimpin oleh Abu-Mush’ab Az-zarqawi (mantan anggota Militan Afghanistan saat melawan Soviet) yang kemudian hari mereka merubah nama menjadi ISIS.
Perjalanan sejarah yang pelik dirasakan oleh DSM ini. Memulai pemberontakan di tanah Iraq dengan ditandai pengeboman bunuh diri di Masjid Syi’ah, warga sipil dan beberapa lokasi instansi pemerintah. Namun seiring berjalannya waktu, tampuk kepemimpinan DSM yang awalnya di pegang oleh Az-Zarqawi ini harus dialihkan kepada seorang Abu Omar Al-Baghdadi karena Az-Zarqawi tewas dalam salah satu serangan AS pada tahun 2005.  
Setalah naiknya Omar, gerakan ini malah menjadi lebih progresif. Terbukti pada awal 2007 gerakan ini menyatakan merubah nama menjadi ISI (Islamic State of Iraq). Dan pada gerakan selanjutnya ISI berhasil melancarkan beberapa serangan untuk menjatukan pemerintahan di Iraq, usahanya itu menemukan keberhasilan tatkala mereka berhasil menguasai Baghdad, Mosul dan Al-Anbar. Namun kondisi itu tidak bertahan lama, memasuki tahun 2008, ISI mengalami krisis besar-besaran dan berujung lepasnya Al-Anbar dari cengkraman.
Nampaknya krisis ini tidak bisa bertahan lama, terlihat dari laporan Jenderal Ray Odierno yang dipaparkan pada tahun 2009 bahwa gerakan ISI telah membesar kembali karena telah diisi oleh penduduk lokal (Iraq), artinya gerakan ini mendapat simpati dari masyarakat sekitar. Namun berselang satu tahun, tepatnya tanggal 18 April 2010 dua pimpinan ISI (Abu Ayyub Al-Misri dan Abu Omar) tewas di tangan pasukan AS.
Praktis pasca tewasnya dua pimpinan ISI tersebut, tinggal nama seorang Abu Bakar Al-Al-Baghdadi yang memiliki pengalaman lebih di kalangan simpatisan ISI itu. Sehingga pada 16 mei 2010 Al-Al-Baghdadi diangkat menjadi Amir dari ISI. Langkah awal yang diambil oleh Al-Baghdadi pasca pengangkatannya menjadi Amir adalah merekrut mantan Intelijen dan pejabat militer yang sangat berafiliasi ke partai Baa’this saat era Saddam Husain dan dijadikan pimpinan di tubuh ISI dan Pengangkatan inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu alasan seorang Yusuf Qardhawi menolak gerakan ini (ISI). Menurut Qardhawi, “mengapa harus menjadikan mantan simpatisan Ba’atis yang berideologi sosialis dan banyak melawan umat islam Iraq untuk menjadi pasukan”.
Langkah Al-Baghdadi selanjutnya adalah mulai menerapkan 4 hal yang diamanatkan oleh Az-Zarqawi yaitu Memperluas kekuasaan, mengusir pasukan AS dari Negeri Arab, menegakkan khilafah dan memperpanjang perseteruan dengan israel. Berbekal  amanat itu, akhirnya tahun 2011 Al-Baghdadi mulai mengirimkan beberapa anggota ISI untuk mulai ikut campur dalam perang saudara di Suriah. Setahun mengikuti perang saudara di suriah itu, dengan resmi ISI membentuk sayapnya di sana yang bernama Jabhat Al-Nusra dan dipimpin oleh Abu Muhammad Al-Jaulani. Sayap ini lebih memiliki tugas vital untuk semakin mendekat ke Israel dan menumbangkan rezim Nushairiyah.
     Tahun 2014 Al-Baghdadi mengumumkan peleburan ISI dan Jabhat Al-Nusra, dan mengangkat dirinya sebagai seorang Amir tunggal. Namun kabar ini dibantah oleh Al-Jaulani, karena menurut dia hanya seorang Ayman Az-Zawahiri yang sah untuk memimpin dua kelompok ini jika digabungkan. melihat tanggapan Al-Jawahiri yang seperti itu, Al-Baghdadi lebih memilih untuk merubah nama ISI menjadi ISIS untuk melegitimasi kepemilikannya atas beberapa daerah di Suriah. Selanjutnya  ia menerapkan satu lagi amanat Az-Zarqawi untuk menegakkan Khilafah dengan mengangkat dirinya sebagai khalifah dengan batas teritoarial awal antara Suriah dan Iraq. walaupun kisah dari seorang  Al-Baghdadi berhenti karena ada berita meninggalnya pria asal Iraq ini, namun Selama simpatisan dan kelompok bawah tanahnya belum musnahkan, pemikiran dan gerakan terorismenya akan terus berkembang  khususnya pada saat ini.

Komentar