Oleh : Ali Yazid Hamdani
Kader HMI MPO Ushuluddin
Cinta? Kata yang sangat familiar di kalangan para pemuda. Semua manusia telah tuhan berikan perasaan ini, sekarang mungkin semua telah merasakan, namun sulit didefinisikan. So, apa sih sebenarnya definisi cinta yang sangat diagung-agungkan oleh para pemuda hingga rela menjadikan dirinya sebagai budak cinta? Mengapa sedemikian agung dan dapat mempengaruhi kehidupan sesorang?
Pembicaraan tentang cinta pernah dibahas oleh Plato. Ia merupakan seorang filsuf Yunani yang hidup pada tahun 427 SM menanyakan perihal CINTA terhadap gurunya yang bernama Socrates. Suatu hari Plato datang menghadap gurunya, dan bertanya, “apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Lalu sang guru menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting, jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”
Plato pun berjalan sesuai arahan sang guru, dan tak lama kemudian, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa satupun. Gurunya bertanya, “mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “saya hanya boleh mengambil satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). sebenarnya saya telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi saya tak mengetahui apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak ku ambil ranting tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru ku sadari bahwa ranting-ranting yang ku temukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatang pun pada akhirnya.”
Gurunya kemudian menjawab, “Jadi ya itulah cinta. Cinta itu semakin dicari semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan, tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya”.
Dialog cerita di atas sebagai pembuka pembahasan mengenai cinta. Persoalan cinta seakan tiada habisnya dan selalu saja ada yang membincangkan. Mungkin ketika membahas tentang cinta, yang timbul mungkin orang yang sedang bercinta atau yang berpacaran? Antara yang jomblo dan yang tidak? Tapi tidak hanya itu menurut Plato. Cinta memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dan banyak memiliki pengaruh besar dalam melejit tinggi ke atas.
Cinta yang terdiri dari 5 huruf C.I.N.T.A dalam bahasa Indonesia, Terkadang kita sering mengucapkan kata cinta namun tidak mengetahui arti dan berasal dari bahasa apa kata tersebut. Dan setelah ditelusuri cinta memiliki arti yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang dipahami banyak orang. cinta berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti pertimbangan pemikiran, sungguh jauh bukan? Pendapat lain mengatakan bahwa cinta bukanlah dari bahasa sansekerta akan tetapi berasal dari bahasa spanyol yang dibawa oleh orang-orang portugis ke indonesia yang berarti tali, cinta bisa putus bisa nyambung karena hubungannya dengan tali tadi. Orang yang putus cinta berarti talinya putus, orang yang jatuh cinta berarti terikat dengannya. pada
zaman dahulu jika ada orang yang jatuh cinta dan bertunangan simbol yang digunakan ialah diikat dengan tali berwarna merah.
Plato memberikan sebuah permisalan terkait cinta dan komponenkomponen yang terkait dengannya. Menurutnya, ibarat kereta dengan dua kuda bersayap sebagai pemacunya satu berwarna putih dan lainnya berwarna hitam yang dikendalikan oleh sais atau kusirnya. Kereta melambangkan diri kita sendiri yang dapat dibawa kemana saja, kuda hitam sebagai lambang dari nafsu-nafsu rendah (Epithumia) dalam hal ini wilayahnya meliputi perut dan dibawahnya yaitu urusannya hanya makan, minum dan seks, Epithumia ini bersifat irrasional dan mortal karena letaknya yang jauh dari kepala. Sebagai contoh ketika seseorang mengikuti sebuah pengajian dan dia mengalimi kehausan dan kelaparan yang sangat luar biasa, maka akalnya tidak difungsikan yang ada hanyalah keinginanya agar dapat makan dan minum tidak peduli isi dari pengajian penting atau tidaknya yang terpenting keinginannya terkabul.
Jika seseorang telah jatuh dalam wilayah ini, susah pengendaliannya dari pada kuda putih. “stand off from the body as far as he can” begitulah Plato menyarankan dalam wilayah ini, ambilah jarak dari nafsu rendah ini sejauh mungkin yang kau bisa, perlu digarisbawahi pesan ini yakni mengambil jarak bukan membuangnya jauh-jauh apalagi nafsu ini sampai dibunuh, tidak makan, tidak minum, dan semua hal yang berkaitan dengan wilayah perut ke bawah. Maka ini dapat merusak kita begitu pula sebaliknya berlebihan dalam mengurus wilayah ini, hanya makan, minum dan seks. Maka tak jauh beda kehidupan seorang manusia dengan hewan yang hidup di hutan sana.
Sementara kuda putih lambang dari hasrat dan harga diri (Thumos). wilayah dari atas perut sampai leher. Dan sifatnya afektifitas, rasa, semangat, agresifitas. Tidak terlalu peduli dengan wilayah epithumia, “saya baik-baik saja walaupun tidak makan dan minum asalkan status dan nama baik tetap terjaga” kurang lebih begitu seseorang yang berada pada maqam ini yakni yang terpenting baginya
hanyalah status hidupnya. seseorang harus juga memiliki ini dalam kebutuhan hidupnya hanya saja harus dikontrol dan dikendalikan oleh rasio pula. Orang yang terlalu cinta pada harga dirinya, harga diri keluarga dan harga diri bangsa bisa meninggalkan segala pertimbangan rasional, melakukan hal-hal bodoh yang dapat membahayakan dirinya.
Sebagai contoh seseorang ingin dianggap dermawan, segala hartanya pun diberikan kepada orang lain tanpa sisa, tidak peduli dengan dirinya sendiri. Dermawan yang awalnya baik dapat menjadi bumerang baginya. Boleh dermawan asal tidak berlebihan. Janganjangan sekarang jadi penyumbang, hari esok menjadi yang disumbang. Di sinilah rasio berperan mengendalikan thumos dalam mengontrol kendali wilayah ini agar seimbang karena keinginan melakukan kebaikan pun harus tetap dikendalikan karena jika tidak kebaikan yang berlebihan juga dapat merusak diri kita sendiri jika tidak sesuai porsi dan proporsinya.
Sebagai contoh seseorang ingin dianggap dermawan, segala hartanya pun diberikan kepada orang lain tanpa sisa, tidak peduli dengan dirinya sendiri. Dermawan yang awalnya baik dapat menjadi bumerang baginya. Boleh dermawan asal tidak berlebihan. Janganjangan sekarang jadi penyumbang, hari esok menjadi yang disumbang. Di sinilah rasio berperan mengendalikan thumos dalam mengontrol kendali wilayah ini agar seimbang karena keinginan melakukan kebaikan pun harus tetap dikendalikan karena jika tidak kebaikan yang berlebihan juga dapat merusak diri kita sendiri jika tidak sesuai porsi dan proporsinya.

Komentar
Posting Komentar