Falsafah Cinta Plato/ Part 2

Oleh : Ali Yazid Hamdani
Kader HMI MPO Ushuluddin

Sains adalah lambang dari rasio (logostikon), berfungsi sebagai pengendali segala hal khususnya kedua kuda hitam dan putih tersebut. Akal sebagai kendali utama harus dapat mengendalikan epithumia dan thumos. karena jika tidak keduanya tidak beraturan bisa tarbrak kanan tabrak bisa dapat saja membuat keretanya rusak bahkan bisa saja hancur belah dua sebagai akibat ketidakberaturannya kedua kudanya.
Sementara sayap sebagai simbol dari eros atau cinta itu sendiri. Mengapa harus ada sayap? Agar kuda ini tidak hanya berjalan di muka bumi saja dan dapat naik ke atas sebagai dengan kuda-kuda yang lainya. Begitu juga manusia untuk dapat naik ke atas dalam artian memiliki hidup yang bernilai dan bermakna maka dari itu seseorang butuh cinta, hidup tanpa cinta hidupnya biasa-biasa saja. Selain itu, eros juga sebagai sebuah dorongan (drive) yang menghidupkan ketiga bagian jiwa.
Di dataran epithumia, eros terwujudkan dalam salah satu nafsu epithumia, yaitu nafsu seks. Eros ini menghasilkan 'immortalitas relatif', yang membuat seseorang bisa 'mengekalkan diri' dan spesiesnya Dalam dataran thumos, eros berwujud keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan heroic demi cinta pada tanah air, profesi, keluarga, agama, dan lain sebagainya.
Dalam dataran logostikon eros mewujud dalam diri para pemikir melalui hasrat mereka 'mengekalkan diri' melalui pewarisan-pewarisan penemuan dan pemikiran mereka. Logos ketika dikonsolidasikan dengan eros maka yang terlahir adalah filsafat yang menjadi keutamaan tertinggi Cinta kebijaksanaan atau cinta pengetahuan.
Kemudian Plato membagi jenis Cinta menjadi 3 bagian.
1) Cinta Jasmaniyah, dalam bahasa Yunani disebut Eros keinginan untuk memiliki dan mencari suatu objek keindahan atau kebajikan demi kesenangan atau kepuasan. pada level ini masih tahap awal atau level mawaddah belum mencapai level mahabbah apalagi rahmah, pada level ini dapat dikonotasikan pada level pacaran atau cinta monyet yang hanya melihat fisik belaka.
2) Cinta Persahabatan, dalam bahasa Yunani disebut Philia perasaan cinta yang ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali. Didorong oleh ketulusan hati, semata-mata demi kebahagiaan dan kesenangan orang lain.
3) Cinta ketuhanan, dalam bahasa Yunani disebut Agape manifestasi dari adanya karunia tuhan dan ciptaan-Nya kepada manusia.
Aku mencintaimu bukan karena apa agamamu dan bagaimana fisikmu. Tetapi, aku mencintaimu karena ada ruh Tuhan yang bersemayam dalam dirimu.” Begitulah ungkapan yang sesuai dengan pengertian cinta level ini. Cinta level puncak yang tak pandang kalkulasi lagi, bukan karena itu ataupun ini, akan tetapi dengan dalih ada ruh tuhan yang bersemayam dalam dirinya. Maka dari itu, cinta erat kaitannya dengan jiwa dan ketiga unsurnya, yang mewarnai kehidupan seseorang. Dalam bercinta harus melewati 3 tahapan yang telah dipaparkan di atas. Tidak berhenti pada level pertama yakni cinta keindahan fisik yang menjadi sorotan utama. Cinta pada level ini sifatnya sementara dalam jangka pendek bagaimana jika yang dicinta lambat laun menua dan fisiknya tak seindah awalnya? Maka yang harus dilakukan adalah upgrade cinta hingga mencapai level puncak tertinggi yakni cinta ilahiyah atau cinta ketuhanan yang dapat membuatnya sakinah dalam hidupnya. Bangunlah cinta karena menurut Plato hakikat dari cinta itu sendiri ialah semacam pendidikan, dalam artian kamu tidak dapat mencintai seseorang kalau kamu tidak mau dididik oleh pasanganmu. Di dalam cinta dua orang berusaha untuk berkembang bersama, dan juga membantu satu sama lain untuk terus berkembang. Artinya untuk mewujudkan hal itu, kamu perlu hidup dengan orang yang memiliki
kualitas-kualitas yang belum kamu miliki, untuk melengkapi bagian-bagian yang tidak ada pada dirimu dan terus berevolusi hingga menjadi lebih baik lagi seterusnya.

“Jangan biarkan siapa pun menyewa ruang di kepalamu, kecuali mereka penyewa yang baik! Sebab cinta adalah kebahagiaan dalam kebaikan. Jika ruang dikepalamu telah disewa oleh penyewa yang tidak baik, maka alamat hidupmu akan jatuh pada lubang kesengsaraan.”
“Jika kau tidak dapat mencintai seseorang yang kau cinta,
cintailah seseorang yang kau punya” (Plato).

Komentar