Abadinya Seniman Affandi dan Cinta



Nurhanifah
Mahasiswa Studi Agama Agama

UIN Sunan Kalijaga


Sore itu di awal tahun 1980, kuamati dibalik kaca kampus pinggir sungai Gajah Wong  seorang seniman sedang berkarya di balkon rumahnya. Kuamati lagi, sang seniman terus konsentrasi. Hingga selesai satu karya. Kulihat wajah puas sang seniman mengamati hasil lukisannya.

“Gus jangan melihat sang seniman terus. Ayo turun ke sungai. Mandi bareng”.
“Iyo Elang. Ayo”.

Setiap hari di sepanjang aliran sungai gajah wong ada kebiasaan masyarakat mandi bersama dan menyuci bersama. Beberapa mahasiswa kampus di dekatnya terkadang ikut turun menikmati sejuknya aliran air sungai yang berasal dari gunung merapi yang berujung di pantai selatan. Laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu dengan pakaian penutup.


Aku dan Elang juga suka berangkat pagi dari Pondok Pesantren melewati jembatan depan sungai gajah wong dan melihat pemandangan masyarakat beraktifitas di bawah sungai gajah wong. Tidak ketinggalan sesekali Sang Seniman bernama Affandi nampak di balik rumahnya.


Suatu sore di jembatan samping rumah sang seniman Affandi. Aku dan Elang mandi usai kuliah di kampus. Elang melirik ke arah seorang wanita di seberang jembatan.

“Gus... wanita itu cantik banget ya”
“Yang mana to lang?”
“Tuh di dekat batu tengah sungai pakai jarik ungu”
“Wooo iyo lang. Itu sudah jadi inceranku. Mahasiswa fakultas Adab. Jangan kamu incer lo”.
“Dasare kamu itu Gus. Punya inceran tidak bilang-bilang”.

Keindahan yang kunikmati berada di tepi sungai gajah wong ini tidak hanya sang seniman. Namun juga wanita cantik yang kerap mandi dengan jarik beragam warna. Aku tidak tau identitas wanita cantik itu. Namun dari seringnya Aku melihat wanita itu di fakultas Adab, Aku jadi meyakini dia benar mahasiswa Fakultas Adab.


Waktu itu Aku hanya dapat melukis wajahnya di dalam kertas. Sama seperti sang seniman. Tidak mengambil gambar sang pujaan secara langsung, namun mengabadikan di lukisan. Sesekali lukisan yang Aku gambar sendiri di pinggir sungai gajah wong pada suatu pagi itu Aku lihat kembali saat wanita cantik itu tidak tampak.


Tiga tahun berlalu Aku memuja sang wanita cantik. Hingga suatu pagi Aku sendirian berjalan di atas jembatan sungai gajah wong, sang wanita cantik berjalan di sebelahku. Jantung berdebar kencang.

“Hai... Perkenalkan Aku Gus Arjuna” ucapku berani.
“Iyaa Gus Arjuna... Aku Larasati”

Perbincangan singkat itu menjadi perbincangan pertama dan terakhir sebelum Aku pergi melanjutkan kuliah ke Universitas Al-Azhar Mesir dan melanjutkan karir di Mesir.

25 Tahun Kemudian

Langkahku kembali menyusuri sungai gajah wong setelah 25 tahun berada di Mesir dan menikah dengan seorang wanita cantik di tambah sholehah anak kyai yang dijodohkan untukku.


Kali ini ada yang hilang di gajah wong. Tak lagi ku temui sang seniman Affandi di balkon rumahnya dan tak ada masyarakat yang mandi di bawah sungai gajah wong.


Sungai sudah tampak tercemari limbah. Bangunan pencakar langit di sekitar sungai sudah menjamur. Namun Aku takjub dengan pengabadian nama sang seniman di jalan di sekitar UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Jalan yang pernah dinamai sebagai Jalan Gejayan. Kemudian di ganti dengan nama sang seniman Affandi.


Sang seniman sudah meninggal dunia pada 23 Mei 1990. Rumahnya saat ini di jadikan museum. Tepat di depan kampus UIN Sunan Kalijaga, Aku memasuki museum.


“Bapak... Ayo cepat masuk”. Dua anak belasan tahun laki-laki dan perempuan menggandeng tanganku. Di ikuti seorang wanita cantik yang masih tampak muda di samping kanan anakku.


Di dalam museum kutemui lukisan sepasang mahasiswa di tepi jembatan sedang berbincang. Persis wajah Aku dan Larasati sewaktu muda. Iya... itu jelas Aku dan Istriku Larasati. Rasa syukur hadir. Sang seniman yang kukagumi mengabadikan Aku dan kekasihku di dalam lukisan.



Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, 26 Desember 2019 (17:21)

Komentar