Oleh : Siti Sarah Rahmaini
Dalam mensyiarkan agama Islam, Nabi Muhammad
menggunakan banyak metode untuk mengajak umat manusia agar mau bersaksi akan
ketauhidan Tuhan. Di satu waktu, nabi memperlihatkan kepada dua wanita musyrik
yang diutus oleh kaumnya untuk mencari air, suatu mukjizat berupa air dalam mazadah
(wadah) yang tidak berkurang meski telah diminum oleh orang banyak di kaum itu.
Kedua wanita itupun masuk Islam beserta seluruh kaumnya. Di waktu yang lain,
nabi memberikan harta yang banyak kepada seorang kafir zimmi, sehingga si kafir
itu mau masuk Islam. Banyak lagi metode-metode lain yang digunakan oleh nabi
untuk menarik hati orang-orang agar masuk Islam, bahkan sekalipun metode itu
terdengar sangat pragmatis bagi kita sekarang.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa nabi
tidak semata-mata hanya menarik orang-orang agar masuk Islam, akan tetapi juga
mengajarkan keindahan Islam kepada mereka, sehingga mereka yang tadinya masuk
Islam karena alasan pragmatis, menjadi orang yang benar-benar mencintai Islam
dengan setulus hati. Tidak sampai disitu, nabi juga membangun ukhuwah
(persaudaraan) orang-orang yang telah masuk Islam. Sehingga mereka menjadi
orang-orang yang militan terhadap Islam.
Konsep penyiaran Islam yang demikian sangat
layak untuk diadopsi ke dalam sistem perkaderan HMI. Boleh saja kita melakukan
perekrutan dengan cara pragmatis sekalipun selama masih dalam batas kewajaran,
untuk menarik hati para calon kader. Akan tetapi yang menjadi esensi perkaderan
(penyiaran ajaran HMI) adalah baagaimana setelah mereka masuk HMI tumbuh dalam
hati mereka kecintaan (militansi) dengan setulus hati terhadap HMI, dan ukhuwah
(kolektifitas) antar para alumni LK 1. Inilah esensi dari tugas pengader
sebagai pemimpin, pendidik dan penjuang
Akan tetapi idealitas hampir selamanya tidak
pernah sesuai dengan realitas. Sering kali kita temukan problem dalam
komisariat, seorang pengader hanya menjalankan tugasnya sebagai pemandu semata.
Namun, pasca lk para nabi HMI ini seakan lepas tanggung jawab dan merasa tidak
lagi bertanggung jawab untuk mengawal perkaderan, yang dalam hal ini
menumbuhkan kecintaan terhadap HMI dan ukhuwah antara mereka. Hal ini
diperparah dengan pengurus komisariat yang sering kali absen dalam mnegkader
para alumni LK 1 tersebut. Akibatnya, banyak kader yang hilang satu persatu
karena merasa asing di komisariat dan merasa tidak dirangkul oleh orang-orang
di HMI.
Dalam kasus lain, naik turunnya kesehatan
komisariat juga dipengaruhi oleh peran para pengader di dalamnya. Banyak kader
yang merasa tidak diayomi oleh HMI, terjadinya konflik dalam internal jajaran
kepengurusan, hingga mandegnya suatu komisariat tidak lepas dari tanggung jawab
seorang pengader. Itulah mengapa dikatakan bahwa seorang pengader itu telah
selesai dengan dirinya, karena ia akan bertugas untuk menyelesaikan
permasalahan bagi orang lain. Namun sekali lagi, pada kenyataannya, di internal
kader dan komisariat masih terdapat banyak masalah di sana-sini.
Bila hal demikian terjadi, siapa kah yang
bisa disalahkan? Jawabannya tentu pengader. Dalam menjalankan tugasnya sebagai
pemimpin, dikatakan bahwa pengader adalah penjaga ukhuwah islamiyah di kalangan
kader-kader HMI, khususnya di kalangan pengurus. Pada posisi ini pengader HMI
harus berperan sebagai integrator dari setiap bentuk “konflik dan friksi”, yang
timbul di kalangan kader HMI. Dalam posisi yang sama pula, berperan sebagai
pengamat perkembangan HMI, guna mengidentifikasi permasalahan yang timbul serta
berupaya untuk mengusahakan pemecahannya secara konsepsional maupun operasional
(Muqaddimah Pedoman Pengader).
Problem
di atas sudah seharusnya didiskusikan lebih mendalam oleh para pakar pengader
di HMI. Solusi yang terbaik adalah dengan cara menanamkan sedari dini karakter
jujur, amanah, adil dan bertanggung jawab dalam diri pengader. Dikatakan dalam
sebuah hadis “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawabannya kelas nanti”. Hadist tersebut menjelaskan bahwa setiap
diri kita masing-masing adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung
jawaban atas apa yang telah kita perbuat sebelumnya di dunia ini. Setelah
penanaman karakter ini, barulah difahamkan kepada para pengader akan tugasnya
dalam membina komisariat. Keberadaan seorang pengader yang memiliki karakter
jujur, amanah, adil dan bertanggung jawab, serta memahami tugas-tugasnya
sebagai pengawal perkaderan, secara tidak langsung akan meningkatkan kesehatan
komisariat tersebut.
Islam
mengajarkan kita untuk senantiasa bertanggung jawab atas apa yang telah kita
pilih. Islam juga telah memberikan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan
suatu permasalahan. Yaitu dengan cara musyawarah sebelum keputusan itu diambil.
Karena bermusyawarah itu penting, dimana kita semua berhak untuk bersuara dan
mengungkapkan ide-ide terbaik dan kongkret yang kita miliki. Musyawarah juga
memiliki kelebihan yaitu bersifat tebuka sehingga siapapun bisa dengan mudah
mengetahui dan tidak ada pemalsuan apapun.
Problem
yang dialami oleh banyak komisariat saat ini, merupakan sisa-sisa dari
usaha-usaha para pengader terdahulu yang bisa dikatakan belum sempurna dalam
mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai pengader yaitu menjadi pendidik,
pemimpin, dan pejuang. Mereka hanya dapat mengantarkan sebuah pemahaman dan
pengertian nilai-nilai tersebut, tapi tidak pada realisasi dalam kehidupan
sehari-harinya. Oleh karena itu pentingnya pengajaran nilai-nilai pengader
secara mendalam dan langsung dipraktekaan di lapangan, agar nilai tersebut meresap
dalam diri kader-kader, sehingga timbul kesadaran akan arti perjuangan bahwa
suatu keberhasilan dalam organisasi tidak akan dapat diraih apabila pengadernya
kurang baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Komentar
Posting Komentar