Oleh: Yurista Dinata (HMI MPO UGM)
Kita sering terjebak dengan
diksi, ketika media mengeluarkan diksi baru, semisal ekstremis, radikal,
teroris. Sebagai insan akademik, kita tidak mengklarifikasinya terlebih dahulu,
bahkan tidak mendefinisikan secara akademis apa sebetulnya makna dari kata-kata
itu. Kita boleh menyebut Bom Tamrin itu dilakukan oleh seorang ektrimis Islam,
bisa jadi bagi mereka itu berjuang. Hari-hari ini kita dididik untuk tabu
melihat simbol: simbol jari, bahkan oral yaitu diksi kata. Media menjadi
kompor, sehingga otak kita terdoktrin horor. Orang ribut soal hal yang receh,
sementara dipusat orang pada ketawa karena rakyat tergiring oleh simbol-simbol
semacam itu. Absennya presiden pada
sidang umum PBB 4 kali berturut-turut, kasus penyandang dana untuk rapat
tahunan IMF di Bali tempo lalu, tidak adanya statement address terhadap muslim
Uighur di China, ada menteri yang merangkap 3 fungsi sekaligus, dan banyak lagi
yang lainnya. Hal-hal tersebut merupakan sedikit dari banyak faktor yang
membuat Indonesia di Bully oleh pers asing, dan lebih lanjut dapat diremehkan
oleh negara lain.
Seharusnya
pemerintah bisa lebih berkomitmen dalam memperbaiki citra dan martabat bangsa.
Pemerintah harus lebih meningkatkan komitmen dalam meningkatkan kualitas SDM
negara, bukan infrastruktur, apalagi ajalan tol. Memang tidak akan mudah dan
dilematis. Karena, dalam meningkatkan SDM, dibutuhkan ketajaman literasi.
Indonesia adalah cinta sejati kami, jika definisi cinta sejati yang dipakai
kami mencintainya meski tak terbalas. Terkadang kami berfikir, bulan agustus
nanti kami akan bilang tak bisa memberikan kado apapun untuk pemerintah, karena
pemerintah belum memberi sesuatu yang sesuai dengan apa yang kami harapkan.
Hidup kami berbeda dengan hidup pemerintah, yang hanya hidup 8 (delapan jam).
Kader-kader pergerakan ekstra kampus terbiasa mengobrol aktivitas pengaderan
hingga sepertiga malam. Hampir 24 jam ide kami terus tumbuh, berupaya melayani
yang ada dilingkungan, sembari terus mencicil kaderisasi guna menumbuhkan
harapan bagi bangsa ini ke depan.
Tetapi itulah
resiko dan tantangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai pihak
yang dipercayai untuk menjalankan roda pemerintahan negara, demi kepentingan
bangsa dan negara sendiri, pemerintah kita seharusnya harus lebih maksimal
dalam memperbaiki citra dan martabat bangsa ini. Jangan sampai kita justru
terkucilkan dari pergaulan internasional. Semoga rasa dan kepekaan dalam hidup
berbangsa dan bernegara bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa semakin
ditingkatkan untuk memperbaiki citra dan martabat bangsa ini sebagai bangsa
besar dan beradab. Jangan kita menjadi negara Tukul, yang hanya demi
kepentingan materi semata, hanya mengangguk dan tertawa, bahkan tambah ngelucu,
ketika negara lain mentertawakan kita dan menjadikan kita sebagai bahan ocehan
dan ejekan.
Fenomena-fenomena
tersebut menunjukkan pergeseran ide, gagasan yang kemudian menjadi landasan
gerak. Dulu era orde baru kita kenal ide-ide tentang developmentalist/pembangunan,
diksi-diksi pemberdayaan, kekaryaan, penerangan sering muncul. Fenomena
tersebut mirip gagasan anarkis. Apa itu anarkis? Kata anarki adalah sebuah
kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Perancis),
yang juga mengambil dari kata Yunani anarchos/anarchia. Ini
merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan).
Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan.
Sementara itu, Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Indonesia memiliki banyak komunitas anarkis yang benar benar hidup dan eksistensinya memang ada, pengertian anarki di Indonesia masihlah amat sempit di akibatkan pembodohan pemerintahannya yang tidak mau tersaingi dan mempengaruhi semua elemen masyarakat dengan pembohongan publik tentang apa sebenarnya anarki itu.
Sementara itu, Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Indonesia memiliki banyak komunitas anarkis yang benar benar hidup dan eksistensinya memang ada, pengertian anarki di Indonesia masihlah amat sempit di akibatkan pembodohan pemerintahannya yang tidak mau tersaingi dan mempengaruhi semua elemen masyarakat dengan pembohongan publik tentang apa sebenarnya anarki itu.
Anarki
menentang 7-isme, yaitu
1. Melawan kapitalisme– biang diskriminasi ekonomis ialah
selalu berujung pada privilese lapisan atas. Kaum anarkis, sebagai bagian
sirkuit masyarakat lapisan bawah, yakin bisa melakukan banyak hal secara
independen.
2. Melawan
rasisme. Kaum anarkis menandaskan semua bangsa, ras, warna kulit, dan golongan
adalah sederajat.
3. Melawan sexisme. Kaum anarkis menganggap semua jenis
seks: wanita, pria, dan bahkah di luar dua jenis seks itu, memiliki hak yang
sama atas apapun.
4. Melawan fasisme atau supranasionalis. Kaum anarkis
beranggapan tak ada bangsa yang melebihi bangsa lain. Semua setaraf dalam
perbedaannya.
5. Melawan xenophobia - ketakutan dan kebencian
apriori pada hal baru atau asing. Kaum anarkis melawannya sebab xenophobia bisa
berkembang jadi fasisme ialah anti terhadap dan menganggap buruk semua hal dari
luar.
6. Melawan perusakan lingkungan, habitat dan
segala bentuk perusakan dan atau tindakan kekerasan terhadap semua makhluk
hidup.Maka kaum anarkis menentang segala bentuk percobaan dengan hewan. Itu
berarti sewenang-wenang terhadap kehidupan. Padahal, kehidupan tak bisa
diciptakan manusia, harus dihargai. Maka banyak kaum anarkis yang hidup
vegetarian.
7.
Melawan perang dan 1.001 sumber, alat dan perkakasnya, misalnya
militerisme. Bagi kaum anarkis, segala bentuk kekerasan atau penghancuran
kehidupan adalah nista. Perang adalah sesuatu hal yang sangat tidak berguna
bagi dunia dan penghuninya. Maka segala sumbernya harus segera dihapuskan.
Baik atau
buruk sistem ideologi anarkis belum bisa di tetapkan, karena belum ada negara
yang merdeka dengan ideologi ini, yang paling mendekati ialah revolusi spanyol.
Namun jika suasana pemerintahan kita dijalankan dengan anarkis, dan itu belum
waktunya. Maka istilah ngrusa-nggrusu, itu
terjadi sekarang. Oleh sebab itu, sekarang negara ini seperti “banteng” berlari
cepat, tapi tidak berfikir tentang apa yang akan terjadi ke depan. Ibarat
banteng yang menunduk untuk bersiap menanduk, terlihat menunduk untuk
mempertahankan status quo tetapi
ingin “menanduk” dengan capaian yang dicitrakan, ironis. Negara ini seperti
beringin, seolah teduh dan mengayomi, tetapi feodal. Negara terlihat
menggunakan hati nurani, tetapi dirasa tak ada keakraban sesama warga negara.
Banyak persoalan yang luput dari perhatian pemerintah sekarang. Seakan-akan
pemerintah hanya disibukkan oleh masalah mempertahankan, melanjutkan dan meraih
kekuasaan. Menjadi Maciavellis, mempertahankan status quo, dan pembiayaan praktik politik feodal. Seolah semua
pihak bahu membahu untuk mendadani calon 01 atau 02, demi elektabilitas.
Pemahaman tentang marwah kebangsaan yang bernafaskan
nilai-nilai keislaman ini lah yang perlu dikaji. Bagaimana seharusnya
kepemimpinan Islam bisa menjadi rahmatalil alamin dirumuskan. Bukan hanya untuk
kepentingan satu golongan saja namun untuk semuanya. Bukan hanya berbicara
tentang sistem ketatanegaraannya tapi juga berbicara proses perkaderan calon
pemimpin islam itu sendiri. Perebutan kuasa adalah sebuah keniscayaan, yang
terpenting adalah yang menang adalah rakyat yang menjadi pemegang daulat
tertinggi Republik Indonesia tercinta.

Komentar
Posting Komentar