Masih ingatkah
kalian ketika awal menjadi mahasiswa baru?. Di lobi-lobi kampus ada banyak
berderet stand-stand pendaftaran untuk masuk menjadi anggota organisasi. Yang
layaknya stand-stand orang berjualan aneka macam dagangan. Seperti itulah
kira-kira pemandangan yang di dapat oleh mahasiswa baru. Stand-stand
pendaftaran organisasi berderet menawarkan keunggulan masing-masing dan
berharap ada orang yang mendaftar. Karena memang stand-stand itu bertujuan
untuk mencari kader atau anggota. Sehingga berbanggalah oraganisasi yang
bersangkutan jika jumlahnya sudah cuku p banyak.
Dan ingatkah kalian ketika mencoba
mendaftar ke satand-stand pendaftaran itu atau sekedar bertanya tentang tetek
bengek apa yang ditawarkan dan apa sebenarnya organisasi yang bersangkutan
tersebut? Tentu kalian akan di berikan jawaban-jawaban yang ideal. Bahwa ketika
ikut organisasi, kalian tidak sekedar kuliah-pulang-kuliah-pulang atau kuliah
kantin-pulang-kuliah-kantin pulang, Tetapi kalian akan punya pengalaman dan
kegiatan lebih di organisasi. Selain itu, jawaban yang di dapat “bahwa
berorganisasi akan menambah sensitifitas terhadap persoalan-persoalan yanng
terjadi”. Jawaban lainnya misalnya, bahwa berorganisasi akan menambah jaringan
dan di organisasi itu juga berteman lebih dari keluarga. Dan yang tak kalah
menarik dari jawaban-jawaban itu seemua adalah berorganisasi selalu di iming
imingi dengan membangun sikap kritis.
Dalam konteks HMI-MPO misalnya dalam
setiap Basic Training, kalian dituntut untuk bertanya, menjawab dan menganalisa
persoalan. Dan di forum itu kalian beromba-lomba untuk bertanya dan memberi
jawaban ketika di persilahkan.
Terlepas dari itu semua pertanyaan
selanjutnya adalah, sudahkah kalian mendapatkan apa-apa yang diming-imingi oleh
para penjaga stand-stand itu? Apakah kalian sudah benar-benar berorganisasi?
Apakah sensifitas kalian terbangun ketika masuk dalam organisasi? Atau apakah
kalian benar-benar berteman lebih dari keluarga? Dan apakah kalian sudah
menjadi kader-kader yang kritis? Ataukah kalian hanya menjadi kader pembeo dan
menerima begitu saja apa yang disampaikan oleh pengurus, pemateri dan
sekeliling kalian?
Inilah yang perlu kalian pikirkan.
Ada segudang persoalan yang terjadi disekitar kalian. Baik dalam skop lingkaran
komisariat hingga lingkaran yang lebih luas atau rakyat di negeri ini. Mari
kita berangkat dari keadaan komisariat yang kalian tempati itu. Tentu
pertanyaan ini akan diulangi lagi. Apakah kalian sudah bersikap kritis.
Misalnya, apakah kalian sudah merasa bahwa kalian misalnya kurang diwadahi baik
dalam potensi dan kreativitas kalian? Apakah kalian merasa bahwa diantara
pengurus kalian itu ternyata kurag solid? Apakah kalian juga merasa
diantara sesama kader juga kurang memiliki soliditas dan solidaritas yag kuat? Dan
apakah kalian merasa bahwa ketua komisariat kalian misalnya kurang mendampingi,
mengontrol dan mengawasi kalian? Lalu bagaimana membangun berteman lebih
dari keluarga jika seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini
jika belum muncul dalam pikiran kalian, maka muncukanlah. Dan jika
pertanyaan semcam ini sudah ada dalam benak kalian wahai kader, sampaikanlah
kegelisahan itu kepada pengurus kalian. Kritiklah pengurus-pengurus kalian itu
di komisariat, kalau perlu bantai sampai mereka menangis dan mengakui kesalahan.
Jangan sampai kalian gelisah karena kurang diwadahi, lalu diam begitu saja dan
tak mau menyampaikannya. Jika kalian diam dalam keadaan yang tak baik-baik saja
itu, sama saja kalian membiarkan kehancuran terjadi.
Kenapa sikap kritis terhadap
pengurus dalam skala komisariat ataupun cabang menjadi penting? Karena sikap
kritis dengan mempertanyakan, mengkritik secara lisan atau tulisan akan
mengingatkan pengurus-pengurus kalian yang lalai itu. Apakah kalain masih
berpikir bahwa kritik dan evaluasi harus menunggu momen RAK? Jika harus
menunggu RAK maka evaluasi itu hanya sekadar seremonial. Sebelum RAK itulah
jika kalian merasakan persoalan terjadi dalam wadah kalian itu, sampaikanlah
kritik. Karena dengan kritik itulah akan terjadi perbaikan. Jika dilarang
mengkritik dan dianggap Subversif? Maka pengurus komisariatmu itu tak jauh beda
dengan ORBA.
Mengapa hal ini penting dan perlu
dibangun? Dengan tradisi kritik inilah akan melahirkan dialektika di skop yang
kecil sampai yang yang lebih luas. Jika di internal komisariat kalian sudah
terbiasa mengkritik, maka kalian akan mudah menangkap persoalan dan mengkritik
kebijakan kampus higga kebijakan pemerintah yang tidak adil. Sebaliknya jika kalian
sudah tumpul nalar kritisnya dalam lingkup komisariat apalagi dalam skala yang
lebih luas, kampus hingga pemerintahan dalam negara pun hal itu tak akan
terbangun.
Lalu dari pemaparan-pemaparan itu,
masih bolehkah kader bersikap kritis? Tentu saja sangat boleh dan wajib bagi
seorang kader. Kritiklah pernyataan-pernyataan, tindakan, sikap bahkan program
kerja yang perlu dikritik baik dari seorang pengurus dan seluruh pengurus,
pemateri diskusi hingga pemangku kebijakan. Jika diskusi yang kalian dapat misalnya
monoton, kritiklah. Jika pengurusmu kurang mewadahi atau kurang mendampingi,
kritiklah!!jika ketua komisariat kalian itu leye-leya dan jarang
munculkepermukaan, maka kritiklah!! Lebih luas, jika para dosen atau pemangku
kebijakan dikampus kurang tepat, kritiklah!!! Lebih-lebih pemangku kebijakan.
Ingatkan mereka semua.!!
Bangun lagi
tradisi kritis di himpunan. Jangan sampai beberapa gelintir orang yang pemalas
dan memiliki tanggung jawab tidakmelaksanakan tanggung jawabnya.
Wallahua’lam bis
showab.
Max Udin

Komentar
Posting Komentar