[ Refleksi Atas Kasus
Pelengseran Saddam Al-Jihad]
Belum lama ini, saya mendengar berita
tentang dilengserkannya ketua umum PB HMI yang bermarkas di jl. Sultan Agung.
Awalnya saya sangat terkejut, memang ada masalah di organisasi tersebut,
bagaimana bisa seorang ketum PB dilengserkan begitu mudahnya? Saya jadi
teringat beberapa bulan lalu ketika
menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan oleh HMI MPO UII, disana saya
masih ingat salah seorang narasumber yang memuji-muji pidato dari Saddam
Al-Jihad yang pada masa itu baru hangat-hangatnya menduduki jabatan ketua PB
HMI. Saya juga pernah mendengar mengenai program-program kerja yang dicanangkan
oleh HMI yang diketuai oleh beliau, dimana beliau melebarkan sayap untuk
membuka cabang-cabang HMI baru di luar negeri, berfokus pada wilayah asia.
Menurut saya hal itu luar biasa, saya sendiri merupakan orang yang setuju
dengan ide bahwa kemajuan suatu organisasi seharusnya juga memperhatikan
banyaknya kuantitas dan cakupan wilayah yang luas dari suatu organisasi
tersebut. Maka dari itu, meskipun tidak dalam satu garis organisasi yang sama
saya pun bersukacita dengan gagasan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya
itu, dan tentunya saya menjadi berharap dan membayangkan kira-kira gebrakan apa
lagi yang sekiranya akan dilakukan oleh Saddam Al-Jihad.
Sudah agak lama pula kemudian saya
tidak mengikuti perkembangan dari program kerja HMI yang diketuai beliau. Dan
baru minggu ini saya tiba-tiba dikejutkan oleh berita yang menyatakan bahwa
Saddam Al-Jihad dilengserkan dari kursinya sebagai ketum PB. Saya berusaha untuk
mencari tahu apakah sebabnya melalui laman-laman berita yang ada di internet,
dan saya menemukan alasan bahwa beliau dilengserkan dikarenakan telah melakukan
tindakan asusila. Belum puas, saya pun ikut mengecek akun instagram hmicerdas,
ternyata berita itu betul. Komentar yang datang pun beragam, ada yang mengutuk
beliau karena tindakannya yang memalukan keluarga HMI seluruh Indonesia (dan
mungkin juga diluar Indonesia) ada pula yang karena terlalu malu menyuruh akun
hmicerdas untuk menghapus postingan tersebut, karena itu akan semakin memalukan
kalau diketahui oleh banyak orang, ada pula yang berpendapat bahwa hal tersebut
sejatinya tidak baik kalau diberitakan secara luas, karena hal itu adalah
masalah internal milik HMI jadi sebaiknya biarkan itu jadi urusan orang dalam.
Memang berita bahwa seseorang yang menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi
mahasiswa islam tertua di Indonesia melakukan tindakan asusila memang berita
yang sangat sensasional. Saya pun mencoba untuk melakukan dialog dengan anggota
HMI yang diketuai oleh beliau. Teman saya berpendapat kalau semakin keatas
struktur organisasi HMI memang dinamikanya rumit dan kompleks, dan dia juga
mencontohkan kalau orang-orang di pemerintahan seperti di DPR misalnya
melakukan hal yang lebih parah dari yang dilakukan Saddam. Tapi, walaupun dalam
dunia PB HMI itu dialektikanya rumit dan
kompleks, bisakah itu dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan asusila yang
dilakukan oleh ketuanya?
Saya sendiri tidak begitu faham
bagaimana cara berfikir Saddam Al-Jihad yang diberitakan melakukan tindak
asusila (kalau berita tersebut memang benar). Apakah dia sendiri tidak sadar
bahwa dialah ketua dari HMI se-Indonesia? Apakah dia juga sudah lupa diri bahwa
ia juga seorang pemuda yang sepatutnya menjunjung tinggi idealisme serta
menjaga marwah dari organisasinya? Ataukah dia tidak begitu ngeh mengenai konsekuensi apa yang akan
publik jatuhkan kepada dia ketika dia melakukan tindakan asusila? Ataukah dia
juga tidak pernah terbersit di kepalanya tentang bagaimana penilaian orang
Indonesia tentang tindakan asusila? Tindakan asusila memiliki makna nilai yang
berbeda dalam setiap wilayah suatu negara. Kalau semisal ada ketua organisasi
di Amerika yang katakanlah having sex
dengan pacarnya, mungkin hal itu tidak akan terlalu heboh karena kultur di
Amerika lebih liberal daripada budaya timur. Namun bagaimana jika seandainya
itu dilakukan oleh ketua suatu organisasi di Indonesia? Yang mana orang
Indonesia sangat men-tabu-kan hal-hal seperti itu, apalagi organisasi itu merupakan
organisasi keagamaan. Dan kebetulan ia menyandang nama ‘ISLAM’ pada
organisasinya yang jelas-jelas mengatur secara ketat hubungan antar lawan jenis
ataupun sesama jenis yang menjurus kepada zina. Menjadi ketua PB HMI saya
yakini memiliki tanggungjawab yang sangat berat, maka dari itu saya salut
dengan mereka yang mewakafkan dirinya untuk menjadi ketua dalam sebuah
organisasi, apalagi organisasi yang setua dan sekaliber HMI, karena dalam
pandangan saya mereka berarti sudah memilih dan bersedia untuk memikul besarnya
tanggungjawab serta keruwetan yang terjadi di Internal HMI.
Kasus Saddam ini sebenarnya menjadi ‘shock therapy’ bagi kita semua.
Bagaimana tidak? Konstruk pemikiran kita selama ini mengenai pemuda-pemuda
Indonesia yang idealis dan pemberani seketika bisa runtuh dengan mendengar
kabar tersebut. Dulu kemenangan-kemanangan bangsa ini tidak terlepas dari peran
pemuda Indonesia. Memangnya siapa menurut kalian yang berani menculik Soekarno
Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaan bangsa kalau bukan golongan muda?
Bukankah tangan anak-anak HMI juga ikut berdarah dalam menggulingkan rezim
Soekarno yang mengacau pada tahun 60-an? Siapa pula yang berani meruntuhkan
imperium cendana milik Soeharto yang telah bertengger selama 32 tahun lamanya
kalau bukan golongan pemuda?. Sejarah pemuda di Indonesia, selalu tentang
sejarah mengenai fungsi mereka sebagai kaum yang membereskan golongan tua yang
mengacau. Begitu pula fungsi dari organisasi-organisasi mahasiswa yang tumbuh
di Indonesia, walaupun berbeda bendera, hakikat dari visi mereka sebenarnya
sama; untuk menciptakan indonesia yang lebih baik bagi semua. Memang itulah
semangat pemuda Indonesia, semangat untuk memperbaiki hal-hal yang kacau,
menumpas segala hal yang merugikan masyarakat banyak, memprotes birokrat yang
tidak bekerja dengan benar, menunjukkan kesalahan para pejabat supaya mereka
bergegas untuk berbenah. Hal-hal itu dinamakan dengan IDEALISME. Kita sering
mengaitkan kata idealisme dengan sosok segerombolan pemuda yang berani
memprotes ketidakadilan yang ada di bumi Indonesia, kata idealisme sendiri
rasanya punya kekhasan untuk kita sematkan pada sosok anak-anak muda. Sangat
jarang kita menyematkan kata ‘idealis’ kepada para orang tua, (apalagi pada
mereka yang duduk di Senayan). Seperti Tan Malaka yang pernah berkata bahwa
‘idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda’’ agaknya perlu
kita pertimbangkan lagi apakah pada masa ini hal tersebut sesuai dengan realita
yang ada atau tidak.
Kembali kepada sejarah pergerakan
kaum muda Indonesia, memang kita semua sepakat kalau tugas golongan muda ialah
membereskan golongan tua yang mengacau. Itulah kenapa kita harus memberikan
jarak antara kita sebagai anak muda dan mereka para generasi tua. Kita sebagai
pemuda tentunya diharapkan untuk bisa memegang teguh idealisme dan harga diri
kita sebagai pemuda. Ketika teman saya bilang kalau skandal yang dialami Saddam
tidak sebanding dengan yang dilakukan anggota dewan, saya pun justru
bertanya-tanya. Sejak kapan memangnya kita ikut-ikutan gaya para anggota dewan?
Sejak kapan kita ini generasi muda mengikuti tingkah laku pejabat yang curang
dan terkenal korup itu? Kita kan yang bertugas mengontrol tingkah laku para
anggota dewan dan pejabat lainnya, kok malah kita ikut-ikutan tingkah laku
mereka? Kok pemuda sekarang malah jadi prototype
pejabat-pejabat yang kotor?. Tinggalkan jauh-jauh pendapat kalau kelakuan
Saddam belum apa-apanya dibanding anggota dewan. Saddam memang bukan anggota
dewan , dia adalah seorang aktivis. Ayo kita tegaskan apakah tindakan asusila
itu benar atau salah kalau dilakukan oleh seseorang, terlepas apakah dia adalah
seorang pemuda atau orang yang menjabat di pemerintahan.
Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa
idealnya pemuda harus bisa mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai
salah. Kadang hal se-sederhana itu masih sulit kita terapkan hingga sekarang.
Suatu hal yang tidak umum memang ketika ketua organisasi setingkat PB justru
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan doktrin keislaman. Sehingga
anggota-anggota yang berada dibawah organisasi tersebut pun ikut dipandang
buruk ataupun tidak berperilaku sesuai dengan khittah karena ketua masih
dianggap tauladan bagi kita hingga saat ini. Namun kejadian ini agaknya bisa
menjadi bahan untuk berkaca bagi gerakan kepemudaan yang lain di Indonesia,
untuk tidak terjerumus dan mengikuti tingkah laku para pejabat pemerintahan
yang logikanya belok alias tidak benar. Perlu ditanamkan kembali bahwa kita
semua adalah pemuda yang punya fungsi untuk mengontrol generasi tua yang
mengacau, maka dari itu kita perlu untuk menjaga jarak dengan mereka, supaya
tetap objektif. Dan pastinya kita harus menggembleng kesadaran kita, bahwa kita
merupakan anak muda yang tidak boleh meniru tingkah laku oknum-oknum yang
melakukan kerusakan untuk Indonesia. Dalam sejarahnya, generasi tua lebih
berpotensi untuk melakukan tindakan yang merugikan banyak lapisan masyarakat
daripada generasi muda. Lantas pada siapakah negara ini bisa berharap kalau
bukan kepada anak-anak muda yang idealis? Yang jumlahnya teramat minim di zaman
sekarang ini? Bahkan orang yang masuk dalam organisasi pergerakan pun belum
tentu seorang yang idealis dan bisa menjaga marwah dari organisasinya sendiri.
Saddam Al Jihad hanyalah salah satu contoh dari wajah idealisme
pemuda yang penuh bopeng pada zaman ini.

admin tolong lampirkan setiap penulis yang publish di web.
BalasHapus