ARTI SAHABAT


            Sahabat adalah segalanya, sahabat akan selalu mengerti keadaan kita. Tak pantang menyerah tuk bantu teman yang duka. Suka duka selalu bersama itulah sahabat sejatiku.
Terbitnya fajar, aku bergegas berangkat ke sekolah dengan Embun, temanku. Kami menaiki sepeda ontel dengan penuh keringat, aku tetap mengayuh sepeda.
“Ayo Fira, ayo Fira, semangat!”
“Aduh cape banget, Mbun “

“Sebentar lagi sampe ko, Fir. Ayo fighting”
“Iya, aku harus semangat ’’
(Dengan sepenuh tenagaku ku percepat langkah sepedaku hingga akhirnya sampailah aku di sekolah).
        Jam pertama adalah pelajran matematika. Bu Mawar mulai membagikan ulangan minggu kemarin. Aku mendapatkan nilai 7 sedangkan Embun mendapatkan nilai 10. Perasaan kecewa mulai aku rasakan, Embun saja bisa mendapatkan nilai 10, kenapa aku hanya mendapatkan nilai 7? padahal Embun kemarin belajar denganku.
“Fira, kenapa nilaimu turun?”

“ Maaf, Bu. mungkin saya kurang teliti.” 
“ Lain kali kamu jangan terburu-buru ya? Supaya nilaimu bisa maksimal.”
“ Iya, Bu. Terimakasih.”

Sore harinya, aku pulang dengan Embun. aku tidak berkata apa-apa padanya dan mungkin dia merasakan sesuatu tentangku
“Fir, berapa nilai matematikamu tadi?”

“ Aku dapat nilai 7, Mbun”
“ Loh? Kok bisa? Kan kamu yang ngajarin aku, ko kamu nilainya di bawah aku?”
“ Aku kayanya lagi ngga konsen, Mbun. “

“Aku yakin ko Fir, kamu pasti bisa dapet 10 lagi besok.”
“ Iya harus, Mbun.”
Aku dan Embun memang sahabat sejak dari bangku TK hingga di bangku SMA. Setiap manusia wajar jika mempunyai rasa iri ataupun kecewa walaupun itu dengan sahabatnya sendiri. Esok harinya aku tak biasanya dengan teman yang lain. Embun duduk sendiri di pojok kelas, aku ingin mendekat tapi malas rasanya.
Setelah bel masuk Ibu Guru mengumumkan bahwa minggu depan ulangan matematika, Embun mendekatiku ’’Fira, nanti sore aku ke rumahmu ya? aku sedikit bingung tentang trigonometri, aku minta tolong ajarin aku ya, Fir”
“ Maaf, Mbun. Aku tidak bisa, aku sibuk membantu ibu, lain kali saja ya’’ Tanpa menjawabnya lagi aku langsung pergi ke perpustakaan .
            Aku mengerti betapa kecewanya Embun ketika aku tak empati padanya. Tapi semua ini aku lakukan untuk mempertahankan nilaiku. Saat ulangan harian matematika tiba, Embun terlihat tergesa-gesa, setiap menit ia selalu memegang kepalanya dan berkata:
’’Aduh susah banget sih.’’ Dan ternyata nilainya pun di bawah rata-rata , ia mendapatkan nilai 5 sedangkan aku mendapat nilai 10. Bu Mawar memujiku karena aku mendapat nilai tertinggi di kelasku.
Aku lihat dari pojokan, Embun seperti murung, bingung, dan seperti putus asa. Nuraniku mulai tergerak untuk membantunya kembali. Tapi segala perasaan bercampur aduk, aku takut jika nilai Embun lebih tinggi lagi dariku.
Ah tidak aku bukan sahabat yang baik untuknya, bukankah sahabat yang baik akan selalu memberikan motivasi kepada teman yang sedang kesusahan. Sahabat tidak akan digantikan oleh apapun, apa artinya nilai tinggi tapi tak memiliki sahabat .
Aku sadar aku tidak bisa jika harus selalu sendiri, aku butuh Embun untuk untuk selalu memberikanku motivasi.
’’ Embun kamu jangan sedih’’

“ Tidak , aku tidak sedih, Fir’’ 
“ Tapi kamu menangis’’

“Aku hanya ingin mengeluarkan beban fikiranku’’ 

“Aku minta maaf Mbun, aku belum bisa jadi sahabat yang baik untukmu’’ 
“Tidak Fir, kamu udah jadi sahabat yang baik untukku, bukan masalah bagiku jika kamu seperti itu.’’“Kamu memang sahabat terbaikku, Mbun, tidak seperti aku yang ingkar akan janji persahabatan kita.’’
“ Tidak apa-apa Fir, selamat ya Fir kamu dapat nilai 10’’
“ Ya Mbun makasih, oya Mbun aku mengajakmu untuk mengerjakan PR matematika di rumahku   nanti jam tiga, jangan lupa Mbun datang tepat waktu.’’
“ Ya aku akan coba nanti.”
Kemudian aku pulang dengan Embun. Sampai di rumah Embun, aku kembali mengingatkannya untuk datang tepat waktu. Jam satu aku sampai di rumah, aku ganti baju, makan, dan kemudian menyiapkan buku untuk belajar kelompok bersama Embun.
Jam tiga lewat Embun belum datang juga, aku jadi berfikir apakah Embun ingin membalasku atau  dia hanya…? “Tidak-tidak aku tidak boleh berfikir negatif  pada Embun.”
Kring, kring, kring, terdengar dering sepeda Embun.
’’Embun, aku sudah menunggumu terlalu lama, kenapa kamu baru datang?’’
“ Sorry Fir, setelah aku pikir-pikir ternyata aku harus bisa sendiri, aku ngga boleh tergantung sama kamu, aku harus mandiri dan akhirnya tuhan membantuku, aku bisa mengerjakan PR  matematikanya’’
’’ Wah , hebat Embun , selamat Embun cantik.’’
            “Iya makasih, tapi mujinya telat nih  heee, kita main sepeda ke lapangan desa yuk.’’
“ Ayo, gimana kalo kita balapan,siapa yang menang nanti harus ditlaktir  pizza sama yang kalah, gimana?’’
“Okeh, siapa takut’’ Ye Fira didepan’’
Dengan canda tawa, ku genjot sepeda dengan cepat. Kulihat di belakang Embun seperti senang sekali dengan keadaan ini, begitu pula denganku, aku bahagia bisa melihat Embun tersenyum lagi.
Kini aku menyadari , apa arti sahabat itu. Sahabat itu segalanya, begitu juga dengan Embun, dia segalanya bagiku tak pandang seperti apa diriku tapi Embun tetap mau bersamaku. Aku yakin kita akan selalu bersama, dalam suka duka, tak terpisahkan, dan hanyalah Embun sahabat sejatiku tuk meraih impianku. Terima kasih Embun, kamu terbaik, kamu memang tahu kapan kamu harus menolong dan kapan kamu harus memotivasi sahabatmu.
Sahabat lebih baik dari apapun, tanpa sahabat apa yang bisa kita lakukan, tanpa sahabat hidup terasa hampa, kesana kemari tidak ada yang menemani, jika ada masalah siapa yang akan menasehati? Pastilah sahabat yang lebih dari segalanya di dunia ini. Jadilah seorang sahabat yang terbaik, karena dengan itu kepercayaan akan kita dapatkan.
                                                                     SELESAI



Komentar