Kala itu senja di Kaliurang kami
bertemu dan bercengkrama kembali. Merajut persahabatan yang telah lama hancur
sambil Menatap senja yang merekah. Membawa keromantisan.
Awalnya canggung. Saat kami
bertengkar lama dan kembali baikan. Dengan sisa permasalahan yang kami anggap
usai. Namun seiring waktu, kami kembali biasa. Tidak ada rasa canggung.
Usai senja... 2 jam... 3 jam... Dan
akhirnya kami berpisah kembali. Dari puncak bukit yang menghadap gunung merapi.
Dengan janji akan kembali merajut persahabatan di Jogja.
Dosen dan Pilot memanglah berjauhan.
Tapi kami tetap ingin merajutnya di kala waktu luang. Menggunakan sisa waktu
yang entah kapan akan berakhir.
Pertemuan kedua 1 bulan usai
pertemuan pertama di candi Prambanan. Kami berjanji bertemu tanpa chat.
Siang itu, aku menunggu nya di jalan
masuk ke candi. Cukup lama 2 jam. Tapi sang pilot tak kunjung datang. Hingga
senja, ia tak kunjung datang. Aku
menyerah. Dengan kecewa. Ku tutup pintu mobil dengan keras. Tanpa peduli
tatapan orang.
Perjalanan melewati bandara
Adisucipto. Ada keramaian. Ada polisi. Ada ambulance. Ada asap. Jantung ku pun berdegup kencang.
"Sahabatku... Tidakkkk". Di ambang keraguan.
Tanpa peduli lagi, langsung keluar
mobil di tengah jalan, dan menembus keramaian. Melihat ke arah kepulan asap.
"Pesawattt..."
"Rioooo..."
Dia disana. Terbujur lemah di dekat
para medis yang tengah berjuang menyelamatkan hidupnya. Mereka menyerah. Rio
kaku. Ambulance membawanya pergi.
Di rumah sakit aku mencarinya. Di
lorong itu aku melihatnya. Aku mengejar. Dan tangis terus mengalir. Kugenggam
tangannya sambil terus melaju menuju Ruang jenazah. Namun, tanganku merasa di
genggam juga.
"Deaaa...".
Rio kembali. Rio hidup kembali...
Sahabatku...
End
Yogyakarta, 5 Juni 2018. 13:58
Nur Hanifah Ahmad
(Penulis merupakan Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agam)

Komentar
Posting Komentar