FEMINISME (Sebuah Racun (?) dalam Agama) [2]



Kelanjutan post sebelumnya.. 
 
Saya juga pernah mendengar kalimat yang menfsirkan perihal penciptaan manusia, terutama mengenai kisah Adam-dan Hawa, belum lama ini saya baru tersadar bahwa ternyata Hawa tidaklah menggoda Adam untuk memakan buah Khuldi. Bukan salah Hawa ketika manusia dihukum oleh Allah untuk turun ke Bumi. Sejak kecil saya seringkali mendengar bahwa di dalam neraka, ada lebih banyak wanita daripada lelaki, itu karena kelakuan sang wanita yang suka menggoda laki-laki entah dalam bentuk pakaian, suara atau semacamnya, dan hal tersebut dikaitkan dengan kisah Adam Hawa di surga. 

Bahkan belum lama ini, teman saya pernah mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa ‘kalau hawa tidak menggoda adam, kita semua sudah berada di surga sekarang’  yang membuat saya pribadi menjadi keheranan atas pandangannya yang menunjukkan seakan-akan seluruh manusia di muka bumi ini kena kutukan dikarenakan perilaku Hawa. Belum lama ini, saya mendapati bahwa tuduhan hawa yang menggoda Adam adalah tafsiran dari Ibnu Kathīr yang menurut saya dan para penafsir feminis lainnya tidaklah tepat dengan apa yang ayat Al-Quran kemukakan sebenarnya dalam surat at-Ta ha ayat 116-123

Ayat 116. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Lalu mereka pun sujud kecuali Iblis; dia menolak.

Ayat 117. Kemudian Kami berfirman, "Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkanmu berdua dari surga, nanti kamu celaka.

Ayat 118. Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang

Ayat 119. dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari."

Ayat 120. Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, "Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"

Ayat 121. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

Ayat 122. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Ayat 123. Dia (Allah) berfirman, "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Berdasarkan kutipan Al-Quran diatas, kita bisa tahu bahwa adam dan hawa memang secara bersama-sama digoda oleh setan, mereka bersama-sama memakan buah khuldi, hawa tidak menggoda siapa-siapa. Mereka berdualah yang dibujuk oleh setan untuk mencicipi buah khuldi, meskipun Allah telah menyatakan bahwa musuh keduanya ialah setan. Selain itu, tergoda atau tidaknya Hawa dan Adam, sejatinya mereka tetap akan ditunkan ke bumi. Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Jadi, apapun yang terjadi, manusia memang akan ditempatkan di bumi, karena mereka memang diciptakan untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi, bukan di surga. 

      Tidak bisa dipungkiri lagi, Islam adalah agama yang membawa apa yang biasa kita sebut dengan keadilan bagi seluruh manusia. Memang banyak terdapat tafsiran-tafsiran yang notabene lebih patriarki dan lebih menempatkan lelaki sebagai makhluk yang lebih superior. Hal tersebut agaknya bisa dimaklumi mengingat 25 nabi yang wajib kita ketahui semuanya adalh lelaki (tapi konon, nabi ada ratusan jumlahnya dan bisa jadi nabi-nabi selain yang 25 tersebut ialah wanita) dan juga banyak penafsir al-quran atau ahli hadits adalah lelaki, maka tafsiran-tafsiran populer yang digunakan hingga saat ini ialah tafsiran dari sudut pandang laki-laki, yang mana dalam melakukan penafsiran terdapat kepentingan ke-laki-lakian didalamnya.

       Hal tersebutlah yang membuat para feminis Islam zaman sekarang menciptakan apa yang disebut ‘tafsir feminis’ yang mengkaji Al-Quran dalam sudut pandang yang netral terhadap gender. Tokoh-tokoh feminis pun (lelaki maupun perempuan) sudah banyak jumlahnya, diantaranya Malak Hifni Nashif, Aisyah Taimuriyah, Nabawiyah Musa, May Ziyadah dan Huda Sya’rawi, Rifa’ah al-Tahtawi, Mohammad Abduh, Qasim Amin dan Sa’ad Zaghlul, dan Tahir al-Haddad dari Tunisia. 

      Meskipun kajian feminis sudah bisa dibilang cukup berkembang dan cocok terhadap budaya modern saat ini,dimana semua orang telah bebas untuk menyampaikan pendapatmya dan kaum wanita banyak yang bekerja, ternyata masih ada beberapa orang yang istilahnya ‘anti’ terhadap feminisme (biasanya kaum lelaki) yang menganggap bahwa feminisme ialah racun, feminisme dianggap bisa merusak rumah tangga seseorang, membuat sang istri lebih berani terhadap suaminya, membuat wanita menjauhkan diri dari keluarga, wanita tidak akan menjalankan apa yang sudah menjadi kodratnya (dalam hal ini ialah mengurus rumah tangga), dan ketakutan bahwa perempuan nanti akan bersikap sewenang-wenang dan menjadi tidak bertanggung jawab, juga terdapat doktrin bahwa feminisme ialah ideologi barat, yang mana identik dengan ketidaksesuaiannya dengan nilai-nilai islami. Well, percaya atau tidak pemikiran seperti ini masih ada dan masih sangat amat banyak. Silahkan mencari ‘bahaya feminisme’ di browser atau di youtube, akan banyak sekali sumber-sumber yang berbicara demikian. 

      Padahal islam sendiri datang membawa ide-ide kesetaraan antar manusia, namun karena memang kebanyakan dari kita masih sedikit banyak mengadopsi budaya jahiliyah (seperti uang panai yang ada di daerah sulawesi, perjodohan paksa, pemikiran bahwa lelaki adalah makhluk yang superior daripada wanita, perempuan ada untuk melayani laki-laki, perempuan makhluk yang lemah dsb) membuat pemikiran feminisme tidak bisa tumbuh subur meskipun negara kita lebih dari 80% memeluk agama islam, hal tersebut juga dikarenakan perempuan sendiri yang justru dibutakan kedalam konstruk sosial yang sebenarnya merugikan dirinya, dan juga masih banyaknya hadits-hadits yang sifatnya patriarki yang diambil oleh para ustad Indonesia, dan hal tersebut menciptakan stigma bahwa memang laki-laki adalah superior alias lebih istimewa daripada wanita. 

Feminisme dianggap sebagai racun dalam beragama, padahal nabi Muhammad sendiri yang mencontohkan dan mengamalkan kesetaraan antar manusia. Dia mencontohkan bagaima perilakunya yang halus terhadap istri-istrinya, dan pada zaman Rasul sudah mulai pula keterlibatan wanita dalam hal-hal politik dan peperangan, yang menunjukkan bahwa posisi wanita juga diperhitungkan pada saat itu. 

Bahkan pada zaman rasulullah dan setelahnya terdapat wanita-wanita yang ikut berperang, seperti Khaulah binti Azur, Nursaybah binti Ka’ab di perang Uhud, Khawla binti al-Azwar yang memerangi tentara Roma, Aisyah binti Abu Bakar yang memimpin perang Basra, dan Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah yang ikut berperang dalam perang Uhud. Apakah itu kalau namanya bukan emansipasi, apakah itu namanya kalau bukan feminisme? Dahulu, mungkin belum ada kata ‘feminis’ sehingga ahli agama saat ini ada yang mengatakan kalau feminisme itu tidak berasal dari Islam, tapi dari barat. Memang nama ‘feminis’ berasal dari Barat, namun perilaku dan pergerakannya tidak lah lepas dari nilai-nilai keislaman. 

Sayangnya, sepeninggalan Rasulullah, dominasi laki-laki yang belum bisa dihilangkan sepenuhnya kembali menguat. Hal tersebut juga disebabkan karna sangat kurangnya akses wanita di bidang penafsiran al-Qur`an dan penetapan hukum Islam (fiqh), serta dominasi daripada sahabat laki-laki di bidang penafsiran ayat-ayat al-Qur`an dan penetapan hukum Islam. Dari sini dapat difahami mengapa perspektif wanita tidak pernah hadir dalam khazanah ke-Islaman, dan revolusi sosial yang dibawa Rasullullah s.a.w dalam hal kesetaraan antara laki-laki dan wanita kian pudar. Seiring dengan berjalannya waktu,dalam sejarah umat Islam telah lahir berbagai karya tafsir yang ditulis oleh para ulama dalam rangka memberi penjelasan terhadap al-Qur`an. 

Tidak jarang dalam kitab tersebut memuat suatu pendapat, fikiran atau wacana yang melihat perbedaan kelamin sebagai cara pandang terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang berakibat terjadinya diskriminasi gender dalam berbagai literatur tafsir yang ada, dan secara umum dapat dikatakan , pemahaman yang dimunculkan dari tafsir-tafsir klasik terhadap ayat-ayat gender selama ini bersifat memihak kepada laki-laki, dimana laki-laki diberikan peran dominan di bidang publik, sedang wanita hanya terbatas pada wilayah domestik[1]

Maka dari itulah, kita bisa fahami mengapa banyak sekali hadits-hadits yang sifatnya mendukung dominasi lelaki dan sedikit yang menerangkan mengenai emansipasi  perempuan, tidak lain dan tidak bukan ialah karena penulisnya adalah sesorang yang bukan feminis. Namun, penafsiran kembali tentunya akan bisa terus kita lakukan, Al-Quran adalah kitab yang tak lekang oleh waktu, ia sangat dinamis dengan lika-liku zaman, dan yang membuatnya dinamis ialah karena bisa ditafsirkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman. 

Di zaman beyond post modern ini masih banyak orang yang anti terhadap kesetaraan gender, dan lebih nyaman dengan sikap ke-patriarkian-nya dan menganggap feminisme adalah sesuatu yang membahayakan. Namun, feminisme bukan racun bagi agama, ia ada bersama agama Islam sebagai pembebasan manusia dalam belenggu ketidakadilan. Ia hanya akan menjadi racun bagi orang-orang yang tidak mau membuka pemikiran dan pemahaman, dan dibenci oleh mereka [terutama kaum lelaki] yang memiliki semangat zaman Jahiliyah, semangat untuk menjadikan perempuan sebagai hak milik yang bisa dia gunakan  dan menjadikan dirinya sendiri sebagai manusia superior.

 
Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)

Daftar pustaka
Tri Handayani dan Deddy Ilyas. 2013.Isu Gender : Potret Relasi Masa Lampau, At A Glance. Jurnal JIA. Th.XIV  No.1 : 1-20
https://www.makintau.com/2015/12/wanita-wanita-tangguh-di-zaman-rasulullah.html


[1] Tri Handayani dan Deddy Ilyas , ‘’Isu Gender : Potret Relasi Masa Lampau, At A Glance’’. Jurnal JIA. Th.XIV  No.1,2013, 1-20

Komentar

  1. Kajian mengenai feminisme selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya, sejauh saya mencari sumber tentang feminisme selalu terdapat hal-hal menarik didalamnya tergantung dari sudut mana penulis menceritakannya. Sedikit banyak dari tulisan ini saya tercerahkan terlebih feminis dalam kacamata islam, dan semoga di zaman "beyond post modern" ini generasinya tidak menutup pandangan terhadap apa yang terjadi.
    Wallahu a'lam

    BalasHapus
    Balasan
    1. @popi Aamiin.. tugas kita sbg generasi milenial untuk membantu yang lain membuka pandangan :))

      Hapus
  2. Harapannya semoga feminis menjadi landasan gerakan kohati hehe. Dan kalau bisa ada tulisan mengenai penjelasan feminis secara spesifik, karna setau saya feminis tidak hanya membahas ketertindasan kaum perempuan atas kaum laki laki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Feminisme luaas sekali.. penjelasan spesifik berarti juga memakan waktu yg lama.. karena banyaknya hal-hal yg trjadi di dalam isu feminisme. Betull.. kohati harus feminis..hehehe

      Hapus

Posting Komentar