Kelanjutan post sebelumnya..
Saya juga pernah mendengar kalimat yang
menfsirkan perihal penciptaan manusia, terutama mengenai kisah Adam-dan Hawa,
belum lama ini saya baru tersadar bahwa ternyata Hawa tidaklah menggoda Adam
untuk memakan buah Khuldi. Bukan salah Hawa ketika manusia dihukum oleh Allah
untuk turun ke Bumi. Sejak kecil saya seringkali mendengar bahwa di dalam
neraka, ada lebih banyak wanita daripada lelaki, itu karena kelakuan sang
wanita yang suka menggoda laki-laki entah dalam bentuk pakaian, suara atau
semacamnya, dan hal tersebut dikaitkan dengan kisah Adam Hawa di surga.
Bahkan belum lama ini, teman saya pernah
mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa ‘kalau hawa tidak menggoda adam,
kita semua sudah berada di surga sekarang’
yang membuat saya pribadi menjadi keheranan atas pandangannya yang
menunjukkan seakan-akan seluruh manusia di muka bumi ini kena kutukan
dikarenakan perilaku Hawa. Belum lama ini, saya mendapati bahwa tuduhan hawa
yang menggoda Adam adalah tafsiran dari Ibnu Kathīr yang menurut saya dan para
penafsir feminis lainnya tidaklah tepat dengan apa yang ayat Al-Quran kemukakan
sebenarnya dalam surat at-Ta ha ayat 116-123
Ayat 116. Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada
Adam!" Lalu mereka pun sujud kecuali Iblis; dia menolak.
Ayat 117. Kemudian Kami
berfirman, "Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi
istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkanmu berdua
dari surga, nanti kamu celaka.
Ayat 118. Sungguh, ada
(jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang
Ayat 119. dan sungguh, di
sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas
matahari."
Ayat 120. Kemudian setan
membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, "Wahai Adam! Maukah
aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
Ayat 121. Maka keduanya
memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya
dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan
durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Ayat 122. Kemudian Tuhannya
memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Ayat 123. Dia (Allah) berfirman,
"Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu
menjadi musuh sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka
(ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak
akan celaka.
Berdasarkan kutipan Al-Quran
diatas, kita bisa tahu bahwa adam dan hawa memang secara bersama-sama digoda
oleh setan, mereka bersama-sama memakan buah khuldi, hawa tidak menggoda
siapa-siapa. Mereka berdualah yang dibujuk oleh setan untuk mencicipi buah
khuldi, meskipun Allah telah menyatakan bahwa musuh keduanya ialah setan. Selain
itu, tergoda atau tidaknya Hawa dan Adam, sejatinya mereka tetap akan ditunkan
ke bumi. Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk
menjadi khalifah di muka bumi. Jadi, apapun yang terjadi, manusia memang akan
ditempatkan di bumi, karena mereka memang diciptakan untuk menjalankan tugasnya
sebagai khalifah di bumi, bukan di surga.
Tidak
bisa dipungkiri lagi, Islam adalah agama yang membawa apa yang biasa kita sebut
dengan keadilan bagi seluruh manusia. Memang banyak terdapat tafsiran-tafsiran
yang notabene lebih patriarki dan lebih menempatkan lelaki sebagai makhluk yang
lebih superior. Hal tersebut agaknya bisa dimaklumi mengingat 25 nabi yang
wajib kita ketahui semuanya adalh lelaki (tapi konon, nabi ada ratusan
jumlahnya dan bisa jadi nabi-nabi selain yang 25 tersebut ialah wanita) dan
juga banyak penafsir al-quran atau ahli hadits adalah lelaki, maka
tafsiran-tafsiran populer yang digunakan hingga saat ini ialah tafsiran dari
sudut pandang laki-laki, yang mana dalam melakukan penafsiran terdapat kepentingan
ke-laki-lakian didalamnya.
Hal
tersebutlah yang membuat para feminis Islam zaman sekarang menciptakan
apa yang disebut ‘tafsir feminis’ yang mengkaji Al-Quran dalam sudut pandang
yang netral terhadap gender. Tokoh-tokoh feminis pun (lelaki maupun perempuan) sudah
banyak jumlahnya, diantaranya Malak Hifni Nashif, Aisyah
Taimuriyah, Nabawiyah Musa, May Ziyadah dan Huda Sya’rawi, Rifa’ah al-Tahtawi,
Mohammad Abduh, Qasim Amin dan Sa’ad Zaghlul, dan Tahir al-Haddad dari Tunisia.
Meskipun kajian feminis sudah bisa dibilang cukup berkembang
dan cocok terhadap budaya modern saat ini,dimana semua orang telah bebas untuk
menyampaikan pendapatmya dan kaum wanita banyak yang bekerja, ternyata masih
ada beberapa orang yang istilahnya ‘anti’ terhadap feminisme (biasanya kaum
lelaki) yang menganggap bahwa feminisme ialah racun, feminisme dianggap bisa
merusak rumah tangga seseorang, membuat sang istri lebih berani terhadap
suaminya, membuat wanita menjauhkan diri dari keluarga, wanita tidak akan
menjalankan apa yang sudah menjadi kodratnya (dalam hal ini ialah mengurus
rumah tangga), dan ketakutan bahwa perempuan nanti akan bersikap
sewenang-wenang dan menjadi tidak bertanggung jawab, juga terdapat doktrin
bahwa feminisme ialah ideologi barat, yang mana identik dengan
ketidaksesuaiannya dengan nilai-nilai islami. Well, percaya atau tidak
pemikiran seperti ini masih ada dan masih sangat amat banyak. Silahkan mencari
‘bahaya feminisme’ di browser atau di youtube, akan banyak sekali sumber-sumber
yang berbicara demikian.
Padahal islam sendiri datang membawa ide-ide kesetaraan antar
manusia, namun karena memang kebanyakan dari kita masih sedikit banyak
mengadopsi budaya jahiliyah (seperti uang panai yang ada di daerah
sulawesi, perjodohan paksa, pemikiran bahwa lelaki adalah makhluk yang superior
daripada wanita, perempuan ada untuk melayani laki-laki, perempuan makhluk yang
lemah dsb) membuat pemikiran feminisme tidak bisa tumbuh subur meskipun negara
kita lebih dari 80% memeluk agama islam, hal tersebut juga dikarenakan
perempuan sendiri yang justru dibutakan kedalam konstruk sosial yang sebenarnya
merugikan dirinya, dan juga masih banyaknya hadits-hadits yang sifatnya
patriarki yang diambil oleh para ustad Indonesia, dan hal tersebut menciptakan
stigma bahwa memang laki-laki adalah superior alias lebih istimewa daripada
wanita.
Feminisme dianggap sebagai racun
dalam beragama, padahal nabi Muhammad sendiri yang mencontohkan dan mengamalkan
kesetaraan antar manusia. Dia mencontohkan bagaima perilakunya yang halus
terhadap istri-istrinya, dan pada zaman Rasul sudah mulai pula keterlibatan
wanita dalam hal-hal politik dan peperangan, yang menunjukkan bahwa posisi wanita
juga diperhitungkan pada saat itu.
Bahkan pada zaman rasulullah dan
setelahnya terdapat wanita-wanita yang ikut berperang, seperti Khaulah binti
Azur, Nursaybah binti Ka’ab di perang Uhud, Khawla binti al-Azwar yang
memerangi tentara Roma, Aisyah binti Abu Bakar yang memimpin perang Basra, dan Fatimah Az-Zahra
putri Rasulullah yang ikut berperang dalam perang Uhud. Apakah itu kalau
namanya bukan emansipasi, apakah itu namanya kalau bukan feminisme? Dahulu,
mungkin belum ada kata ‘feminis’ sehingga ahli agama saat ini ada yang mengatakan
kalau feminisme itu tidak berasal dari Islam, tapi dari barat. Memang nama
‘feminis’ berasal dari Barat, namun perilaku dan pergerakannya tidak lah lepas
dari nilai-nilai keislaman.
Sayangnya,
sepeninggalan Rasulullah, dominasi laki-laki yang belum bisa dihilangkan
sepenuhnya kembali menguat. Hal tersebut juga disebabkan karna sangat
kurangnya akses wanita di bidang penafsiran al-Qur`an dan penetapan hukum Islam
(fiqh), serta dominasi daripada sahabat laki-laki di bidang penafsiran
ayat-ayat al-Qur`an dan penetapan hukum Islam. Dari sini dapat difahami mengapa
perspektif wanita tidak pernah hadir dalam khazanah ke-Islaman, dan revolusi
sosial yang dibawa Rasullullah s.a.w dalam hal kesetaraan antara laki-laki dan
wanita kian pudar. Seiring dengan berjalannya waktu,dalam sejarah umat Islam
telah lahir berbagai karya tafsir yang ditulis oleh para ulama dalam rangka
memberi penjelasan terhadap al-Qur`an.
Tidak jarang dalam kitab tersebut
memuat suatu pendapat, fikiran atau wacana yang melihat perbedaan kelamin
sebagai cara pandang terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang berakibat terjadinya
diskriminasi gender dalam berbagai literatur tafsir yang ada, dan secara umum
dapat dikatakan , pemahaman yang dimunculkan dari tafsir-tafsir klasik terhadap
ayat-ayat gender selama ini bersifat memihak kepada laki-laki, dimana laki-laki
diberikan peran dominan di bidang publik, sedang wanita hanya terbatas pada
wilayah domestik[1].
Maka dari itulah,
kita bisa fahami mengapa banyak sekali hadits-hadits yang sifatnya mendukung
dominasi lelaki dan sedikit yang menerangkan mengenai emansipasi perempuan, tidak lain dan tidak bukan ialah
karena penulisnya adalah sesorang yang bukan feminis. Namun, penafsiran kembali
tentunya akan bisa terus kita lakukan, Al-Quran adalah kitab yang tak lekang
oleh waktu, ia sangat dinamis dengan lika-liku zaman, dan yang membuatnya
dinamis ialah karena bisa ditafsirkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan
zaman.
Di zaman beyond
post modern ini masih banyak orang yang anti terhadap kesetaraan gender,
dan lebih nyaman dengan sikap ke-patriarkian-nya dan menganggap feminisme
adalah sesuatu yang membahayakan. Namun, feminisme bukan racun bagi agama, ia
ada bersama agama Islam sebagai pembebasan manusia dalam belenggu
ketidakadilan. Ia hanya akan menjadi racun bagi orang-orang yang tidak mau
membuka pemikiran dan pemahaman, dan dibenci oleh mereka [terutama kaum lelaki]
yang memiliki semangat zaman Jahiliyah, semangat untuk menjadikan perempuan sebagai
hak milik yang bisa dia gunakan dan
menjadikan dirinya sendiri sebagai manusia superior.
Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi
Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)
Daftar pustaka
Tri Handayani dan Deddy Ilyas. 2013.Isu
Gender : Potret Relasi Masa Lampau, At A Glance. Jurnal JIA. Th.XIV No.1 : 1-20
https://www.makintau.com/2015/12/wanita-wanita-tangguh-di-zaman-rasulullah.html
[1] Tri Handayani dan Deddy Ilyas , ‘’Isu Gender : Potret Relasi Masa
Lampau, At A Glance’’. Jurnal JIA. Th.XIV
No.1,2013, 1-20

Kajian mengenai feminisme selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya, sejauh saya mencari sumber tentang feminisme selalu terdapat hal-hal menarik didalamnya tergantung dari sudut mana penulis menceritakannya. Sedikit banyak dari tulisan ini saya tercerahkan terlebih feminis dalam kacamata islam, dan semoga di zaman "beyond post modern" ini generasinya tidak menutup pandangan terhadap apa yang terjadi.
BalasHapusWallahu a'lam
@popi Aamiin.. tugas kita sbg generasi milenial untuk membantu yang lain membuka pandangan :))
HapusHarapannya semoga feminis menjadi landasan gerakan kohati hehe. Dan kalau bisa ada tulisan mengenai penjelasan feminis secara spesifik, karna setau saya feminis tidak hanya membahas ketertindasan kaum perempuan atas kaum laki laki.
BalasHapusFeminisme luaas sekali.. penjelasan spesifik berarti juga memakan waktu yg lama.. karena banyaknya hal-hal yg trjadi di dalam isu feminisme. Betull.. kohati harus feminis..hehehe
Hapus