Para wanita (dan juga lelaki)
pernahkan kalian menghadapi sebuah fenomena ini? Fenomena yang cukup biasa,
bahkan mungkin bisa dibilang menjadi budaya dan tentunya masih akan dilakukan
entah sampai beberapa yahun atau bahkan beberapa puluh tahun lagi. Kali ini,
saya ingin membicarakan (masih) mengenai hal yang berhungungan dengan gender.
Mengapa? Karena perkara gender bukanlah perkara yang singkat. Masalah
kesetaraan menurut saya lebih urgent dan lebih mengakar daripada persoalan
demokrasi/ oligarki dan lain-lainnya. Mengapa bisa sampai begitu? Tentu saja
bisa, sebab masalah gender bukanlah
masalah milik komunitas, ia bukan permasalahan milik suatu daerah, dan juga
bukan milik negara. Ia adalah masalah dari tiap-tiap manusia, dia adalah
masalah privat, pribadi. Lebih spesifik lagi, masalah gender adalah masalah
identitas diri.
Bohong tentunya jika mengucapkan
masalah identitas diri tidaklah lebih penting daripada permasalahan negara.
Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa kepemilikan atas diri kita sendiri, mau
se-seosialis apapun, rasa bahwa kita memiliki kesadaran diri adalah rasa yang
tidak pernah bisa kita ingkari. Manusia membutuhkan identitasnya untuk bisa
menjadi dirinya sendiri. Manusia butuh pengakuan yang mencirikan dirinya, ia
membutuhkan jawaban atas pertanyaan ““Siapakah aku?”“. Identifikasi diri bahkan
bisa dibilang merupakan seluruh proses yang kita jalani selama hidup di dunia
ini, tujuan manusia untuk hidup menurut saya merupakan rantai proses mencari
tahu siapakah diri mereka (entah dicari tahu melalui sains, dari masyarakat,
dari agama dll) dan bagaimana kita mengenali diri kita sendiri. Dan gender,
merupakan kepingan dari identitas diri kita yang utuh. Sayangnya, kepingan
bernama gender ini meskipun sederhana menyimpan permasalahan yang pelik dan
cukup luas di dalamnya.
Salah satu permasalahannya ialah apa
yang kali ini saya ingin bahas. Fenomena ini disebut dengan “catcalling”.
Apakah itu? Catcalling biasa disebut dengan kata lain verbal harasement
atau gangguan/pelecehan verbal. Hal yang biasa kita lihat sehari-hari seperti
di jalan, halte, trotoar, lapangan, kampus, tempat makan dsb. Pelakunya biasanya
ialah orang yang tidak pernah kita kenal, yang tiba-tiba menggoda kita atau
mengucapkan sesuatu yang menganggu perasaan kita. Pernahkan kalian semua, saat
sedang berjalan-jalan santai sendirian ataupun pergi bersama teman-teman,
menyaksikan (bahkan menjadi korban ataupun pelaku) wanita yang digoda oleh
laki-laki? Contohnya saja: siulan saat wanita berjalan, sapaan yang menganggu,
tatapan mata yang tidak normal kepada orang yang bahkan tidak
dikenalnya, atau kiriman foto tidak senonoh bagian badan seseorang, tangan yang
tiba-tiba dipegang oleh orang asing atau yang lainnya? Apakah kalian salah satu
korban, atau kalian juga pernah menjadi pelaku aksi yang seperti itu? Atau mungkin
ada yang pernah merasakan hal seperti Via Vallen, digoda lewat media sosial
oleh manusia asing yang kita tidak pernah mengenal sebelumnya.
Catcalling sebenarnya bisa terjadi ke
gender apasaja, laki-laki juga bisa jadi korban catcalling terlebih kalau dia seorang
public figur. Namun tulisan kali ini saya ingin memfokuskan kepada wanita
sebagai korban dari catcalling/ kekerasan seksual lainnya, karena memang
korban terbanyak dari hal seperti ini sejauh yang saya tahu sebenarnya adalah perempuan, dan banyak dari
mereka yang tidak tahu bagaimana menanggapinya. Banyak tanggapan mengenai
permasalahan catcalling, ada yang menyebut bahwa itu adalah hal-hal yang
wajar saja, dan ada yang menyebut itu termasuk kekerasan verbal hingga terdapat
pula yang menyebut catcalling sebagai bentuk pujian. Sebelumnya, saya
ingin memberitahu kalian semua yang mungkin memiliki perasaan bangga ketika
digoda oleh orang asing ( dalam bentuk siulan,sapaan dsb) bahwa sesungguhnya catcalling
sama sekali bukanlah sebuah pujian. Catcallers tidak memandang apakah
anda cantik, berbadan bagus ataupun berpakaian seksi. Siapapun bisa terkena catcalling,
dengan disiuli atau disapa di jalan, bukan berarti lho anda itu spesial
dan bisa menarik hati orang lain yang baru saja melihat anda. Saya membaca
banyak cerita dari korban catcalling, dan kesemuanya tidak menunjukkan
bahwa korban haruslah wanita cantik dan berpakaian terbuka. Saya pernah membaca
kisah dan juga mengalami catcalling bahkan ketika saya sendiri memakai
kerudung dan baju yang longgar. Bahkan ketika saya memakai seragam sekolah pun
perilaku catcalling masih tetap ada dan terjadi kepada saya. Hal yang
menurut saya unik adalah, kebanyakan orang yang menjadi korban catcalling
justru tidak mendapat dukungan dari yang lain.
Mari kita ambil contoh dari
kasus Via Vallen, ada banyak orang yang justru menyudutkan Via, dengan
mengaitkan Via yang berkerja sebagai penyanyi dangdut yang notabene memang
mengundang godaan lelaki dan digoda orang yang tidak dikenal adalah konsekuensi
pekerjaan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “Coba kalau kamu pakai baju yang
menutup aurat, sesuai perintah agama. Pasti ga akan diperlakukan seperti itu”. Tapi,
hey.. Catcalling sekali lagi tidak terlalu memperdulikan apakah
kamu pakai baju syar’i atau tidak, kebanyakan dari mereka tetap akan menggoda
kamu asalkan mereka sedang ingin untuk melakukan catcall. Tahukah anda
di Arab Saudi masih ada banyak sekali pelaku kejahatan seksual meski wanita
disana memakai pakaian yang sangat syar”i ? Tahukah kalian bahwa di Arab Saudi
pelecehan terhadap perempuan sangatlah tinggi? Lalu bagaimana komentar kalian
semua tentang pelecehan jemaah haji yang beritanya menyeruak pada akhir tahun
lalu?
Jadi, sebenarnya catcalling
tidaklah menyasar kepada orang-orang yang tidak menutup aurat saja, tapi juga
menyasar kepada mereka yang juga telah menutup aurat (pada intinya, bisa
menyasar ke siapa saja). Permasalahan dari catcalling sebenarnya tidak
terletak pada si korban. “kamu sih pakaiannya terbuka”, “salah kamu sendiri bajunya
ga longgar”, “kalau menutup aurat pasti ga akan digoda” menurut saya adalah
ungkapan-ungkapan yang salah. Korban bukanlah penyebab catcalling/pelecehan
terjadi, justru yang menjadi penyebab merupakan si pelaku sendiri. Mengenai hal
ini, sebenarnya agama Islam sendiri pun sudah memiliki pandangan dalam Q.S. an-Nur
ayat 30
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ
ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada
orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
Bagi orang
muslim, tentu kita tidak asing bukan dengan kata “ghodul bashar” yang berarti
menjaga pandangan. Saya pernah pada suatu kesempatan berdiskusi dengan seorang
lelaki yang tidak mau menatap mata saya selama kami berbicara. Pada saat itu
saya berfikir bahwa mungkin dia sedang menerapkan apa yang kita semua sebut
dengan menjaga pandangan, dengan menundukkan pandangan juga pengamalan hadist
yang membolehkan pandangan pertama namun tidak tidak membolehkan pandangan yang
berikutnya. Namun, apakah benar tidak memandang lawan jenis adalah cara kita
untuk menjaga menerapkan perintah agama dalam hal bergaul/bersosial?
Benar bahwa kita
diperintahkan Allah untuk menahan pandangan kita (terutama kepada lawan jenis)
dan memelihara kemaluan kita, namun yang perlu digarisbawahi disini ialah
bagaimana cara untuk menundukkan pandangan. Perlu diperhaatikan bahwa yang harus dilakukan ialah ghoddul bashar (menundukkan
pandangan) bukan ghodul ‘uyun yang berarti menundukkan mata. Maka dalam konteks
ini bukanlah berarti mata secara harfiah yang harus kita tundukkan sehingga
senantiasa tidak melihat lawan jenis, melainkan cara pandang kita terhadap
lawan jenislah yang harus kita tundukkan/kontrol. Percuma saja bukan, kalau
kita hanya menundukkan kedua mata kita tapi pandangan kita alias fikiran kita tidak
dikontrol dan dibiarkan berimajinasi liar kemana-mana? Yang semestinya
dilakukan ialah mengontrol dengan tepat bagaimana cara kita memandang lawan jenis. Lantas
bagaimanakah caranya untuk mengontrol pandangan yang sesuai dengan tuntunan Islam?
Saya mendapat banyak
pencerahan mengenai hal ini setelah saya menonton vidio pendek berjudul “Batasan
Memandang Lawan Jenis” yang disampaikan oleh Dr. Nur Rofiah Dosen Institut PTIQ
Jakarta, dalam penjelasannya dikatakan
bahwa cara yang bisa dilakukan dalam rangka “menundukkan pandangan” (dalam hal
ini cara pandang) ialah dengan memandang lawan jenis kita bukan sebagai makhluk
seksual. Dicontohkan bahwa pandangan yang sehat dalam pergaulan ialah
dimana kita melihat lawan jenis bukan seperti kita melihat seorang pejantan
atau betina. Bukan fungsi seksual yang dilihat, melainkan dari segi adanya akal
budi di dalam diri manusia lain. Itulah yang membedakan sifat manusia dari
sifat binatang.
Tentu kita pernah
bukan melihat sesorang dan mempresepsikannya sebagai makhluk seksual, atau
melihat lelaki mupun wanita sebagai objek yang memiliki fungsi seksual,
sehingga hal tersebut memicu timbulnya kasus-kasus seperti catcalling, sexual
harassement hingga kasus pelecehan? Untuk menjauhi terjadinya hal-hal yang
seperti itu, Islam telah mengajarkan bahwa hal pertama yang semestinya
dilakukan ialah mengontrol fikiran. Gantilah pandangan bahwa lawan jenis
sebagai makhluk seksual, dengan pandangan bahwa lawan jenis ialah makhluk intelektual
yang sama seperti kita. Dengan memandang orang lain sebagai makhluk berakal,
dan bukan semata-mata memiliki fungsi reproduksi saja, akan timbul rasa untuk
lebih menghargai antar sesama, dan akan terciptalah lingkungan yang lebih
nyaman untuk kita semua baik laki-laki maupun perempuan dalam menjalankan hidup.
Menjadi korban catcalling
bukanlah hal yang menyenangkan. Ada yang merasakan hal traumatis ketika dia di
goda oleh orang asing, ada pula saat-saat dimana kita merasa diri kita ‘murah’
karena banyak orang tak dikenal yang menggoda kita, ada pula saat dimana kita
terlampau takut saat berjalan sendirian diantara gerombolan lawan jenis yang
tiba-tiba ‘menyapa’ kita. Akar permasalahan dari hal ini bukanlah kecantikan
korban, alasan catcall bukanlah karena pakaian yang dikenakan korban, bukan
juga dari bentuk badan korban. Melainkan pikiran dari pelaku yang dibiarkan
bebas berimajinasi. Maka dari itu, yuk mulai belajar untuk menjaga pandangan
kita semua, yuk kita belajar untuk melihat semua orang baik laki-laki ataupun
perempuan sebagai makhluk berakal yang memiliki status yang sama di mata Tuhan.
Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi
Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)
Sumber;

Komentar
Posting Komentar