HMI dan Cita-Cita Kebangsaan



(Refleksi Atas Perjalanan Panjang HMI)

Berbicara tentang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi hal yang menarik dengan setidaknya pertimbangan dua hal. Pertama, karena HMI merupakan organisasi mahasiswa islam terbesar yang ada di Indonesia dan terdiri dari berbagai macam kelompok keagamaan. Baik dari kelompok modernis, tradisionalis, atau bahkan juga ekstrimis. Kedua, karena HMI telah turut serta dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Tercatat, usia HMI yang telah berdiri sejak 5 Februari 1947 hanya terpaut kurang dari dua tahun jika dibanding dengan usia kemerdekaan bangsa ini. Itu artinya, sejak awal pergolakan yang ada di negeri ini, HMI telah turut serta di dalamnya atau setidaknya turut menjadi saksi atas apa yang terjadi terhadap bangsa.

Keterlibatan HMI dalam pergolakan bangsa ini setidaknya terlihat saat HMI turut serta aktif dalam menentang presiden Soekarno yang pada tahun 65-an kebijakannya dituduh melindungi ideologi komunis. Di akhir 90-an HMI juga turut terlibat dalam menggulingkan pemerintahan rezim Soeharto yang dinilai otoriter,  banyak melakukan pelanggaran terhadap HAM serta gagal dalam mengatasi krisis yang melanda Indonesia.

Semua usaha HMI ini tentu dilaksanakan dengan tujuan agar terwujud sebuah bangsa yang adil, aman, dan makmur. Atau dalam bahasa khittah perjuangan disebut dengan baaldatun thoyyibatun wa rabbun ghaafur. Kisah tentang baldaatun thoyyibatun ini pernah diceritakan oleh al Qur’an ketika menggambarkan keadaan yang ada pada negeri Saba’. ( QS. as Saba: 15) Sebuah negeri yang di samping kanan kirinya terdapat perkebunan yang subur. Perkebunan, pada masa itu, merupakan gambaran tentang bagaimana sebuah negeri bisa dikatakan sebagai negeri yang makmur. Negeri yang makmur inilah yang sebenarnya menjadi cita-cita kebangsaan HMI. Meskipun kemudian perlu dipahami bahwa pengertian makmur yang sekarang berbeda dengan makmur pada masa negeri Saba.

HMI kemudian memberikan beberapa karakter yang menggambarkan keadaan negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Keadaan sebuah Negeri yang pastinya dicita-citakan oleh segala bentuk Negara yang ada di dunia. Dua diantara tujuh karakter yang disebutkan oleh HMI, seperti yang tergambar dalam khittah perjuangan adalah “memiliki semangat persaudaraan (ukhuwah), saling memahami, toleransi, saling menasehati dan tolong menolong” serta “tumbuhnya sikap untuk tidak selalu merasa benar atau tidak adanya klaim kebenaran”.

Dua karakter ini secara otomatis mensyaratkan kepada HMI untuk menghormati setiap perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut bisa saja berupa perbedaan penafsiran agama, etnis, suku dan bahasa. Hal ini jugalah yang kemudian menjadikan HMI menjadi sebuah organisasi yang menampung semua model penafsiran agama. Bahkan, karena sikap demokratisnya, bukan sangat tidak mungkin paham Islam ekstrimis (yang anti pada sikap toleran, saling menghargai perbedaan ideologi) akan tetap diterima dalam organisasi ini. Meskipun harus tetap diakui, paham ekstrimis akan sulit berkembang di organisasi ini karena sifatnya yang erbeda dengan karakter organisasi.

Selain sikap saling menghormati, karakter bangsa yang ideal menurut HMI adalah keadaan suatu masyarakat yang di dalamnya tidak ada klaim kebenaran. Dengan kata lain, HMI bercita-cita agar semua agama boleh saja menganggap bahwa tafsiranya (tentang agama) adalah benar namun tidak dibenarkan jika beranggapan bahwa tafsiranya adalah yang paling benar. 

Dalam bahasa Multikulturalisme Amin Abdullah, sikap hidup umat Islam, khususnya di Indonesia tidak cukup jika hanya sekedar menerima perbedaan pendapat, umat Islam Indonesia juga harus bisa menghormati perbedaan tersebut. inilah yang kemudian dalam cita-cita Nurcholish Madjid disebutnya sebagai masyarakat Madani. Merujuk pada apa yang terjadi di zaman Nabi ketika beliau memimpin masyarakat yang ada di Madinah. Dengan berbagai perbedaan suku yang telah terbiasa hidup dalam sebuah permusuhan dan persaingan, kedatangan Muhammad SAW telah membuat menjadi lebih tenang dan damai. 

Namun yang kini terjadi di negeri ini nampaknya justru jauh dari bangsa ideal seperti apa yang diharapkan oleh HMI. Para penafsir agama di negeri ini sekarang bukan hanya sedang terjebak dalam sikap saling mengklaim kebenaran, di mana mereka merasa bahwa hanya tafsir mereka atas agamalah yang paling benar, namun mereka juga mulai kehilangan rasa saling menghormati antara satu dengan yang lain. Ironisnya, sikap yang tidak saling menghormati perbedaan diantara umat Islam di Indonesia akhir-akhir ini justru marak terjadi di tengah-tengah umat Islam Indonesia.

Karena itu jangan heran jika akhir-akhir ini pengkafiran seringkali terdengar mudah diucapakan oleh para pemimpin agama yang terkadang justru ironisnya, seringkali menyasar mereka yang sama-sama beragama Islam. Hanya karena sebuah perbedaan kecil dalam penafsiran agama kemudian saling menyalahkan, atau bahkan sampai pengkafiran. Sebuah keadaan yang sangat jauh dari karakter ideal sebuah bangsa seperti yang dicita-citakan HMI, sesuai dengan apa yang tertera dalam khittah perjuangan.

Sebagai organisasi Islam yang turut serta dalam memberi warna perkembangan bangsa, maka selayaknya HMI selalu berpegang pada garis perjuangan organisasi (khittah perjuangan). Karena khitah perjuangan HMI adalah sebuah kesimpulan atas segala jenis pergolakan tafsir agama yang ada dalam organisasi. Dengan selalu berpegang pada garis perjuangan organisasi, maka cita-cita HMI untuk mencapai masyarakat yang diridhoi Allah swt akan semakin dekat. HMI, tetaplah berjalan sesuai dengan khittahmu..

*Hamdani Mubarok
(Penulis merupakan post struktural komisariat Ushuluddin UIN Suka Yogyakarta)

Komentar

  1. Lantas, bagaiman upaya HMI (dalam pergerakannya, bukan hanya wacana) dalam mengatasi krisis moral (saling mengkafirkan, menyalahkan, pudarnya rasa saling menghormati, dll) di Indonesia dan mewujudkn bangsa YANG IDEAL yg diharapkan oleh HMI ?

    BalasHapus
  2. Terima ksih atas pertanyaan yang telah Saudara sampaikan. Karena saya yang menulis artikel diatas, maka saya mempunyai tangggung jawab untuk meluruskan pertanyaan Saudara, bukan menjawab. Karena memang mukhatab pertanyaan Saudara adalah HMI, sementara saya tidak punya kuasa untuk berbicara atas nama HMI, (Saudara bisa bertanya pada pengurus HMI yang sekarang) Tapi jangan khawatir, sebagai kader saya akan sedikit menjawab rasa penasaran Saudara.
    Baik, sebelum menjawab pertanyaan Saudara,
    saya kira penting untuk menyelaraskan pemahaman kita tentang gerakan dan wacana(karena inilah yang menjadi sumber pertanyaan Saudara), saya kira, Saudara memahami wacana sebagai sesuatu yang ada dalam pikiran, sementara gerakan adalah apa yang sudah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Jika benar pendapat Saudara seperti ini, maka, mungkin saya akan menjawab pertanyaan Saudara, jika tidak, maaf, saya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Saudara.
    Kembali ke pertanyaan pokok Saudara.. sebagai kader HMI, yang telah saya lakukan untuk membentuk masyarakat yang toleran sementara ini hanya sebatas menuliskan gagasan (wacana) saya serta menyebarkanya melalui blog HMI ini. Tulisan saya pun sebenarnya juga belum menyentuh ke tahap solusi pembentukan masyatrakat yang toleran, tapi hanya sebatas usaha untuk menyadarkaan kembali teman-teman HMI untuk kembali ke garis perjuangannya (khittahnya) yang di dalamnya terdapat ajaran tentang toleransi.
    Saya harap sampai di titik ini Saudara bisa mengerti bahwa wacana dan menuliskan wacana adalah sesuatu yang berbeda. Wacana adalah pemikiran sementara menuliskan wacana adalah gerakan menyebarluaskan pemikiran. Sebagai kader HMI, hanya itu yang sementara ini bisa saya lakukan, itupun hanya sebatas lingkungan HMI. Mudah-mudahan kedepanya saya (dan Saudara) bisa melakukan lebih dari ini.
    Maaf agak telat menjawabnya. Terima kasih.
    Hamdani Mb.

    BalasHapus

Posting Komentar