Gregetnya Si Kumal


Gregetnya si Kumal




Masih setengah berjalan tadarusan malam ini, rutinitas sehari-hari yang mesti ku lakoni saat ramadhan tiba. Kalau ditanya kenapa? taulah sendiri aku masih ngekost di rumah Tuhan, maka begitulah. Sudah ngerti. Jika belum juga kita skip saja. Ya aku lirik keatas sana tepatnya jam dinding putih diantara pembatas kamarku, baru menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Tiba hape berdering whatt apps aplikasi chattingan itu, bergeser aku melihatnya. Ada berbagai kabar baru aku terima, salah satunya kajian kumal. Kalian kenal kumal bukan? Kader HMI dan MPO lagi, gak kenal kumal, jiaaah memalukan. Itu loh makan penutup buka puasa, ya jelas bukan. Nantilah aku ceritan lebih dalam, lain kesempatan dan ruang.

Kembali ke laptop, topik maksudnya. Kajian Kumal menghentakkan kakiku untuk segera berdiri, meletakkan kitab suci yang saya pegang, eits aku sudah baca ya. kan giliran, tadarusan. Gotong royong menamatkan al-quran. Dengan sedikit mendesak, aku harus datang. Pemantik, oh Cak Nun. Kajiannya Buku tulisan ketum Cabang sekarang, Mas Fikri. Boleh juga, judulnya “Di Bawah Naungan Khittah Perjuangan” bukan di bawah lindungan kabah, emang ada ya bukunya. entahlah. coba tanya sama si Mbah Google. Butuh amunisi ini, kataku. Dengan mengais-ngais isi lemari, mencari recehan bekal membeli penyakit kanker, jantung dkk. Dasar ahlul hisap. Satu hal yang aku hampir lupa, mau pake apa kesana? Jangkrik. Tanpa mengurangi rasa hormat dan menebalkan alasan, akhirnya motor kawan sekamar aku embat ngacir ke kajian kumal, dan tidak lupa sogokan snack tadarusan khilaf juga aku bawa. hahaaa.

Sebenarnya malam ini, pengen rasanya satu peraduan dengan kawan-kawan yang bisa hadir menikmati bahtera kerinduannya Sanggar Nun-Tanwin, apalah daya aku tiada bisa Kagebhunsin, maka masih tetap stay satu dan asli, insyaallah. Kalau ketemu aku yang lain itu diluar tanggungjawab aku sebagai pemilik aku, Tuhan telah mengamanahi aku, untuk aku menjaga aku. Bila ketemu yang lain mungkin bisa kasih salam lima jari, tanyakan kepadanya 3 kali 3 berapa? jika benar berarti salah, jika salah berarti benar. Pusing, atau mumet dengan tulisanku. Ndak kan, minum pil dulu ya, cap badak sekalian sama kalengnya. 

Jadi begini, nah mulai serius aku ini. Mode sennin. Ketika aku hadir bergabung, emmm ada sekitar bentar, satu, dua, pemantik, dua akhwat satu moderator, dan satu pendengar jadi ada etooo, tujuh orang. Maklum matematika sepuluh kebalik. Hadirnya aku jadi tambah satu, itu delapan ya. Ya begitulah, forum sudah berjalan, sepertinya diskusi sedang hangat. Samar-samar aku dengar kata-kata khittah, pedoman perkaderan, dan Cak Nun, Mas Fikri. Kan Cak Nun hadir, luarbiasa. Setelah aku perhatikan dengan memperbaiki letak kacamata, dan menerawang sekeliling, kok gk ada Cak Nun ini. Kemana gerangan, apa bertukar jasadnya dengan pemantik kita malam ini, Michael S. Entahlah. Persoalannya Cak Nun tadi yang nyebarin berita kajian. Sudahlah, skip dulu lagi saja. Kemudian aku berbisik dengan moderator menarik kertas kajian. Tapi malam ini kumal sedang sejahtera kawan, info saja. Mungkin kalian mau tau lebih gitu.

Sebagai pendatang kajian yang terlambat aku harus tau etika, datang, sapa, salaman, duduk manis, dengarkan, tebar senyum, sekali-kali tarik jajanan yang tersedia, angguk-angguk, bisik-bisik bila ada perlu, dan keluarkan senjata. kretek cap jempol, tarik, lepaskan, pejamkan mata, dan buka dengan cara yang segar sekaligus sumringah. Menyatu dengan alam, dan hembusan angin malam, baru masuk terus fokus ke materi. Begitulah. 

Maafkan aku jika terkadang asapku, melanglang menusuk matamu, dan aromanya tercium oleh hidung-hidung sensitif. Khususnya para akhwat. Menjauhlah aku, jadi malu. Oke mari kita fokus ke materi. Begini, setelah aku melihat, menimbang, memperhatikan dengan seksama, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Maka aku memutuskan untuk hanya menulis beberapa point saja, bukan karna persoalan penting atau tidaknya. Hanya karna keterbatasan cara menangkap, mencerna dan mengingat aku yang sedikit nyantol. Karna jika aku mau menuliskan semuanya, insyaallah jadi satu buah novel dengan ketebalan kisaran seratus halaman, tanpa titik temu, dan masih bisa berlanjut jika mau dibuatkan tetraloginya, saingan sama karya-karyanya Pram. Mungkin.

Gagasan Ketum Cabang. Sebagai kader mpo, mungkin kita pernah sekilas mendengarkan baik itu dalam forum RAK atau pas Pelantikan, Mas Fikri pernah bilang sebagai kader HMI adalah sebagai seorang akademisi dan bagian dari Civil Society. Bener gk sih, nnti kalau salah hubungi aku ya. Jadi begini, tafsiran bebasnya, tidak merujuk kepada atau menyandarkan kepada para Mufassirin tersohor, hanya pake pikirannya aku sendiri. 

Jadi kurang lebih begini, sebagai kader himpunan, kita harus sadar bahwa kita punya tanggungjawab di kampus sebagai seorang yang terdidik di sana. Meletakkan embel-embel Mahasiswa, maka melepaskan HMI. Karna kita mengenal himpunan, dan bisa mengaksesnya adalah melalui jalan sebagai seorang Mahasiswa, maka jangan lupakan itu. Berperanlah di kampus, jika tidak ingin berpolitik, cari wadah lain. Misal dengan berkontribusi di bidang penulisan jurnal, membangun komunitas dalam kampus, mengikuti lomba atau olimpiade tingkat Nasional bahkan internasional. Buktikan bahwa kader himpunan ini adalah orang-orang berkualitas. Begitu kiranya. Jangan sampai menjadi kacang lupa kulitnya.

Meninggalkan kampus berarti menunda kelulusan, membebankan pikiran orang tua. Memang aku sedikit memahami ada kader kita yang konsen dalam perjuangan massa. Nanti aku bahas dalam bagian satunya. Nah ini bagaimana, ya caranya bisa dengan memberikan pemahaman kepada kader-kader komisariat. Peran kader himpunan dalam kampus, gerakan kembali ke kampus, bahasa java-nya back to campus harus ditelaah lagi, apa yang kita inginkan. Kalau kita artikan kembali ke kampus adalah bentuk pengekangan Mahasiswa, atau menjauhkan Mahasiswa dari rakyat. 

Saya rasa tidak juga seperti itu, kita belajar untuk melihat pola kader kita yang kebanyakan adalah generasi milenial patut kita sadari, mau atau tidak. Kemudian generasi milenial adalah produk jelek, jelas belum tentu dan sangat absurd kalau kita mengiyakan semuanya seperti itu. Nah, bagaimana membentuk kader himpunan generasi milenial menjadi berkualitas adalah tanggungjawab bersama, bukan hanya pak Zuhad-PB, Mas Fikri-Cabang, atau ketua-ketua Komisariat. Seluruh elemen, baik angin, api, air, tanah, eh bukan maksudnya dari tataran stuktural atas hingga akar rumput himpunan, yakni komisariat, semuanya sumbangan energi, pikiran dan gagasan, tinggal bagaimana nanti mengaplikasikannya.  

Kader himpunan harus sadar, kita adalah bagian dari masyarakat, rakyat, para kaum mustad afin. Kita adalah kepingan puzzle, pelengkap di masyarakat, kalau enggak ada masyarakat kita mau memperjuangkan apa? Jabatan, uang atau apa. pada titik ini, saya melihat memang ada beberapa kader kita yang mau totalitas untuk turun ke aksi massa, advokasi rakyat dsb. Tapi kita terkadang melupakan kewajiban dasar sebagai Mahasiswa, yakni masuk kampus. 

Persoalannya sekarang sistem kampus punya targetan dalam berapa tahun kita harus berada di kampus, mentok-mentok 14 semester atau 7 tahun lebih dari itu di drop out. Sedikit saya coba menyinggung terkait siapa itu kaum intelektual menurut Ali Syariati, Kaum intelektual adalah orang yang berpikir, sadar realitas sosial dan punya nilai-nilai religiusitas. Dan mereka tidak hanya terlahir dari ruang-ruang pendidikan kelas atas atau kampus saja, mereka bisa terlahir dari golongan mereka sendiri, yakni rakyat, sebagai sesama orang-orang yang tertindas. 

Maka tidak ada batasan mereka orang-orang yang mengeyam pendidikan lantas bergelar sebagai para elit intelektual, padahal ada banyak produk-produk pendidikan kita saat ini malah membuat peraturan atau mendukung pemerintahan padahal itu merugikan rakyat. Kita berusaha untuk menyadarkan para kader posisi mereka dan apa peran mereka seharusnya. Karna perjuangan itu biasanya sedikit tawa banyak air mata. Perjuangan itu pedih, berat, merasa berjalan sendirian dalam kesunyian dan kesulitan. Tapi lihatlah mereka yang berusaha kita bantu, atau mereka bantu kita. Lihatlah senyumannya begitu tulus. Tawa anak-anak yang masih belum tau banyak hal, dunia tanpa beban. Maka jangan diam, kader himpunan harus bergerak dan berkontribusi.

Ahh terlalu menggebu-gebu akhirnya. Maafkan, maklumlah habis sahur. Yakin Usaha Sampai. Wallahu allamu bisshawab.


"Inginnya tetap menjadi kader, ternyata amanah menghampiri. Sekarang sebagai Ketua HMI Komisariat Ushuluddin, uin_suka Yogyakarta." 

*Hamdan Ns
(Penulis merupakan ketua HMI MPO Komfak Ushuluddin)



Komentar