Cinta di Ujung Senja





Di ujung senja kulihat dia sibuk dengan segala aktivitasnya, kesana kemari  untuk membentangkan sebuah kain tenda untuk membuat tempat bersantai, di terik panas yang menyengat. Aku tak tahu apa  yang ia inginkan, ingin aku membantunya, tapi aku merasa malu dengannya. Dia adalah seorang perjaka tampan yang berasal dari daerah terpencil namanya Ricki. Ricki merupakan seorang mahasiswa pindahan dari Jakarta.

“ Nak Ricki, Ibu sudah siapkan sayur asem untukmu”
“ Ibu kos berbicara padanya.”
“ Baiklah  Bu, aku akan segera makan sore.”

Meskipun hubungan  mereka hanya sebatas ibu dan anak kos, tapi kulihat mereka sepertinya akrab sekali.

’’ Ah!! Aduh sakit sekali’’  
“ Tiba-tiba Ricki  menghampiriku’’
“ Kamu kenapa? kakimu berdarah’’
“ Tidak apa-apa, aku hanya kepleset, aku kira aku yang ceroboh.’’ 
“ Tunggu sebentar aku ambil P3K.’’ 

Aku merasa malu dengannya, gara-gara aku melihatnya terus dan tidak fokus berjalan, aku jadi terjatuh, dan sekarang pipiku menjadi merah merona.

“ Sini kakimu aku obati, oya by the way namamu siapa?.”
“ Namaku Nadin, kamu Ricki bukan?.”
“ Iya aku Ricki , kamu mengetahui namaku?’’
“ Iya aku tahu dari teman-temanku yang se kos dengan mu.”
“ Oooh aku kira kamu peramal, ternyata kamu tahu dari mereka.”
“ Apaan  sih, musyrik tahu kalo kamu  percaya  aku  peramal.”
“ Iya deh, Nadin cewek tengil, heee.’’
“ Ih ngledek lagi, mending aku tengil daripada kamu  bolot! Rasain wle.”

Setelah itu  aku pun bergegas untuk pulang kerumah, karena hari mulai  larut malam. Hatiku rasanya bahagia dan rasa bahagia ini datang setelah aku  mengucapkan terimakasih pada Ricki. Jantung ku jadi berdebar-debar, semalaman, aku tidak bisa tidur. Menurutku aku terlalu membawa perasaan dalam hal ini.

Esok harinya, aku sedang bersiap diri  untuk berangakat sekolah, kemudian aku berpamitan  dengan orang tua, dan menunggu bus di depan rumah. Satu menit kemudian ada orang yang menghampiriku, aku tidak  tahu  dia siapa. Tapi setelah ia membuka helmnya  aku terkejut ternyata dia Ricki.

“ Nadin, ayo ikut aku, kebetulan aku ada kepentingan didekat SMA mu.” 
“ Emang tahu SMA ku dimana Kak?”
“ Tahu dong, udah jangan bawel, percaya deh.” 
“ Emm gimana ya, tapi aku….’’
“ Sudah ayo cepat.”

 Kemudian dia menarik tanganku aku tak menyangka ternyata dia melakukan hal seperti itu,  padahal kami baru  kenal  kemarin. Di sepanjang  jalan aku terdiam, merenung, dan  dalam hatiku  bertanya-tanya, kenapa Ricki begitu baik padaku, apakah wajar karena itu sifatnya atau ada hal lain, oh tidak aku berfikir terlalu jauh. Ya Tuhan ampunilah hamba.

“ Makasih ya Ka Ricki.” 
“ Ia sama-sama, tapi mangillnya Ricki  aja sih.”
“ Kan  Kaka sekarang Mahasiswa, jadi aku panggilnya Ka Ricki aja.’’ 
“ Ya udah terserah putri tengil aja deh.”
“ Eh bilang apa tadi.”
“ Putri tengil  Nadin.”
“ Kaka bolot Ricki nyebelin iih, udah ah aku mau ke kelas, makasih ya ka sampai jumpa   kembali.’’
“ Uh dasar Nadin tengil.’’ Sambil melambaikan tangannya padaku.

Baru pernah aku merasakan seperti ini, hatiku rasanya seperti melayang terbang, dan akhirnya takut jatuh karena hanya sebuah mimpi belaka. Bel berbunyi dan aku masuk ke kelas.

“ Selamat pagi anak-anak.”
“ Pagi Bu Nita.”
“ Sekarang ibu akan memberi informasi pada kalian bahwa SMA kita kali ini akan memilih beberapa dari kalian yang bisa mewakili sekolah dalam ajang lomba Bela Negara tingkat SMA Se-Kabupaten. Untuk siswa yang dipilih  untuk segera keruang audio video sepulang sekolah untuk persiapan lomba. Siswa yang dipilih yaitu Nadin Anggraini, Rasti Indah Sari dan  Flora Ariska.”
“ Aku tak menyangka jika aku terpilih dalam lomba Bela Negara tersebut. Tak lupa aku ucap syukur pada Mu Ya Alloh , Tuhan Semesta alam.”

Siang harinya aku berlatih diruang audio video bersama teman lainnya.Sungguh  menyenangkan berlatih Bela Negara, jadi serasa berjuang di tahun 45. Setelah selesai aku langsung pulang kerumah, untuk mempersiapkan diri menghadapi Evaluasi besok, aku sangat semangat dalam lomba ini, dan aku selalu ingat kata motivator “ Tiada hari tanpa belajar, sebesar apapun badai itu, aku takkan tergoyahkan karena aku mempunyai semangat yang lebih dulu menghancurkan badai itu, sebelum aku dijatuhkannya.”

Sampainya di rumah aku  memberi kejutan  pada ibuku .
’’ Asalamu’alaikum.’’
“ Walaikumsalam.’’ 
“ Ibu aku  punya kabar gembira.” 
“ Syukurlah, kabar gembira apa nak?.’’ 
“ Aku dipilih lomba  Bela Negara sama Bu Nita.”
“ Oh ya, terimakasih Ya Alloh, Ibu bangga padamu  nak, tetap pertahankan prestasimu ya  nak.’’ 
“ Oke Bu.” 
“ Jangan lupa berdoa, ingat tanpa Alloh kamu tidak ada apa-apanya nak.”
“ Iya Bu, aku akan selalu berdoa untuk kebaikan Nadin, Ibu, dan Ayah.”
           
Sekitar jam setengah empat aku keluar rumah untuk menyiram tanamanku yang layu, tak disangka lagi Ka Ricki sedang di tenda depan kos-kosannya. Menurutku kebiasaannya aneh dan unik, tapi kulihat dia tak sendiri, ternyata dia bersama Rasti anak Ibu kos sekaligus teman kelasku pula. Aku memperhatikan mereka begitu detail, entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan canda tawa mereka. Tanpa melihatnya kembali aku langsung masuk kamar, sedih rasanya melihat mereka asyik berdua.

“ Kenapa mereka harus duduk bareng sih, menyebalkan!.”
Tiba-tiba Ibu mengetuk pintu kamarku “ Nadin keluar nak, ada orang yang mencarimu.”
“ Siapa Bu? Kalau nggapenting bilang aja aku lagi tidur Bu. “
“ Eh anak Ibu ngga boleh kaya gitu, kalau kamu mau di hargai orang lain kamu juga harus  menghargai orang lain, jangan seperti itu, sudah keluar cepat.”
“ Ibu selalu saja seperti itu.”

Sesampainya di ruang tamu aku terkejut.

“ Rasti, Ka Ricki, kalian sudah lama disini?. “ 
“ Tidak,  kami baru saja kesini.” Jawab Rasti.
“ Oya Nad, kita pergi keluar yuk, ke tempat festival sepeda di taman kota.”
“ Em gimana yah aku banyak tugas nih.” Jawabku.
“ Masalah tugas jangan dipikirin Nad, aku aja belum di kerjain sama sekali tugasnya.“ Jawab Rasti.
“ Udah Nad, ayo jangan pake lama, Bu Mira pinjem Nadin sebentar ya Bu.“  Ka Ricki keluar  sambil membawa lari diriku.

”Iya nak, hati-hati.” Jawab ibuku. 
“Iya Ibu siap.” Jawab Ka Ricki

Lagi-lagi aku di seret Ka Ricki, dasar anak tidak sabaran.

“ Ka Ricki lepasin dong tangannya, cape banget lari-lari kaya gini.”
“ Nadin tengil ini kan deket, segini aja cape, Rasti aja juga kuat ko.” 
“ Iya nih Nad, aku aja kuat masa kamu engga.“
“ Apaan sih Ras, kita mau ngapain lagi ke sini.”
“Kita mau naik sepeda pastinya dong, nanti aku ikut festivalnya sama Ka Ricki ya Ka bolehkan?”
“ Boleh-boleh aja.” Jawab Ka Ricki.
“Yes!, makasih Ka” Jawab Rasti.

Oh sungguh aku di ajak kesini cuma untuk menyaksikan mereka pacaran, apa gunanya aku ada di sini, ngga penting banget cuma buang-buang waktu. Lima belas  menit kemudian  festival di mulai mereka berboncengan layaknya sedang berpacaran, aku malas melihatnya dan akhirnya aku putuskan untuk pulang. Mungkin Ka Ricki tau kalau aku akan pulang, akhirnya dia meninggalkan niatnya untuk memenangkan festival itu.

“ Nadin kamu mau kemana?.” 
“ Aku mau pulang, aku takut ibuku mengkhawatirkanku karena ini sudah sore.“
“ Nadin kamu udah gede kali, jadi ibumu pasti tenang, lagian ibumu juga sudah tahu kalau kamu sama aku dan Rasti.” Jawab Ka Ricki.
“ Ngga aku tetep mau pulang.”
“ Kamu kenapa sih Nad kamu cemburu sama Rasti ?.”
“ WHAT!!!, cemburu? Apaan sih Ka.” Jawabku.
“ Kalau ngga cemburu kenapa Nad? Kamu kaya ngga bergairah banget” Jawab Ka Ricki
” Udah lah Ka Ricki, Nadin kan udah bilang, dia mau pulang biarin aja sih, kenapa ko kelihatannya Kaka yang sewot.” Jawab Rasti.

Tanpa panjang lebar Rasti langsung mengajak Ka Ricki pulang. Rasti berbisik-bisik  padaku “ Jangan sampai kamu suka sama Ka Ricki Nad, aku yang lebih dulu memilikinya.”  Aku hanya terdiam dan berusaha menutupi rasa amarah serta kekecewaan.
***
Hari esoknya aku, Rasti dan Flora mengikuti lomba Bela Negara dan tak kusangka ternyata Ka Ricki menjadi tim penilai dalam lomba tersebut. Tapi aku berusaha profesional di depannya dan pada akhirnyatim kami mendapat juara satu.

’’ Terimakasih Ya Allah semua ini atas berkatmu.”
“ Selamat ya Nad kamu mendapat  juara satu.”

         Akupun berjabat tangan dengan Ka Ricki walau hanya tersenyum. Akhir acara aku langsung pulang, dan entah kenapa kemudian Ka Ricki mengejarku.
“ Nad kamu kenapa jutek kaya gitu sih.”
“ Apa sih ka, aku hanya ingin diam saja.”
“ Tapi masalahnya Nad.”
“Udah Ka, bukan salah Kaka.” 
“Tapi Nad... “

Dengan perasaan sangat berat aku meninggalkan Ka Ricki, aku tak kuasa menahan air mata ini, sejenak aku pergi ke taman kota, aku merenungi apa salahku sehingga keadaan membuatku harus menjauhi Ka Ricki.

Tiba-tiba Rasti datang dan berkata ” Kamu ngga salah ko Nad pilihanmu benar.”
“ Apa maksudmu Ras, kamu tega mengorbankan perasaan orang lain! Kamu egois Ras!.”
“ Maaf Nad tapi semua ini aku lakukan karena aku mencintainya.”
“ Kalau kamu cinta padanya kamu tidak akan menghancurkan hatinya dan hati orang lain   Ras!.”
“ Sudah lah Nad, lagian ini demi prestasimu, dan aku berterimakasih sebelumnya, kamu udah lakuin apa yang aku mau.” Jawab Rasti.

Hari demi hari hingga minggu berikutnya, aku hanya bisa meratapi betapa hancurnya perasaanku, ketika aku tidak bisa bercanda tawa dengan Ka Ricki. Sekarang Ka Ricki sedang sibuk dengan kuliahnya sehingga kamipun jarang bertemu. Satu tahun kemudian, aku telah berhasil menyelesaikan pendidikanku di SMA, dan yang membuatku bahagia aku mendapatkan peringkat pertama. Orang tuaku sangat bangga padaku, sampai-sampai mereka melakukan sujud syukur sebagai tanda terimakasih pada Alloh Swt.

Dan tak disangka, ternyata Ricki berada dibelakang Ayah dan Ibuku. Akupun langsung berpaling darinya kemudian aku lari keluar dari gedung sekolah, Ricki langsung mengejarku dan segera ia memegang tanganku dan ia berkata ” Nad tunggu aku minta kamu dengarkan aku.”  “Apa lagi Ka?’’ 
“ Nad cinta itu ngga bisa dibohongi, ditukar ataupun diabaikan.”
“ Maaf Ka aku ngga tahu maksud Kaka dan maaf aku harus pergi.’’
“ Tunggu dulu Nad.’’
“ Apa lagi sih Ka,  ngga ada yang perlu dijelasin lagi Ka, lagian ini salahku bukan salahnya Kaka.’’
“ Nad, I love you.”

 Aku terdiam seperti membatu, aku hanya bisa menangis, rasa sakit hanya diri sendiri yang tahu dan tak mungkin orang lain kan mengerti.

Setelah itu Rasti menghampiriku “ Nad, kamu ngga apa-apa?.” Aku hanya terdiam. 
“ Nadin jawab Nad!  Aku minta maaf jika selama ini, aku telah membuatmu terluka, aku tahu Nad aku egois, aku minta maaf Nad.”
Lalu, aku menjawab nya “ Ucapan maaf memang mudah untuk  di lisankan tapi yang perlu kamu tahu Ras, aku sudah menyakiti Ka Ricki selama ini, betapa pedih hatiku ketika aku harus menjauhi Ka Ricki, semua itu hanya untuk kamu Ras, sahabat aku.”

Rasti hanya bisa menangis. Semua penyesalan memang selalu datang di akhir.
“ Aku maafin kamu Ras, aku sadar mungkin ini memang jalan agar aku bisa meraih cita-citaku untuk masa depanku, mungkin jika aku bersama Ka Ricki mungkin aku tidak akan mendapatkan  peringkat satu ini, karena pacaran hanyalah membuatku terlena dalam napsu.”
“ Terimakasih Nad, kamu memang sahabat terbaikku dan maaf atas semua kesalahanku Nad.” “Iya udah jangan nangis, kelihatan cengengnya tuh.’’ Jawabku 
“ Kamu juga tuh Nad.” 
“Apaan sih Ras, ngga lah”
                                                                        ***
Tujuh tahun lamanya, aku telah sukses menggapai karirku, dan  ternyata Ricki telah menjadi seorang direktur disuatu perusahaan pertambangan di Kalimantan. Saat ulang tahunku tiba, 18 Nopember genap usiaku berumur 25 tahun, aku merayakannya dengan teman-teman dan keluargaku. Meski sangat sibuk aku yakin Ricki bisa menyempatkan waktunya untukku dan diapun datang tepat waktu. Kue pertama ku berikan kepada Orang tuaku, kue kedua aku berikan kepada Ricki.

Perasaan bahagia aku rasakan, Ricki menerima kue pemberianku dan ia berkata
“ Terimakasih, kamu memang cantik Nad,  hatimu bersih, dan kamu yang terbaik, I love you Nad.”  
“ I love you too Ricki, terima kasih untuk semua perjuanganmu dan maaf aku dulu mengecewakanmu.” 
“ Bukan salahmu Nad, yang terpenting bagiku kita bisa bersama lagi Nad.”
“ Aku berharap seperti itu Rick”
***
Keesokan harinya, Ka Ricki datang kerumahku dan apa yang ia tunjukkan kepadaku dan orang tuaku, ia menunjukkan sepasang cincin emas perkawinan, aku menangis bahagia, ternyata dia benar-benar berjuang demi aku.

” Nak Ricki, jika nak Ricki memang benar-benar serius dengan  keputusan nak Ricki untuk menikahi Nadin , kami tidak akan melarangnya, kami sangat merestui rencana pernikahan kalian.” Kata ayahku. 
“ Terima kasih Pak Bu, saya janji akan berusaha menjaga Nadin dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.” Jawab Ricki. 
“ Kamu udah buktiin ko kalo kamu emang bener-bener sayang dan cinta sama aku, terimakasih Ricki.” Jawabku.
“ Iya Nad, insya Alloh amanah.” Jawab Ricki sambil tersenyum.

Satu bulan kemudian, kami menikah. Dengan perasaan bahagia, akhirnya kami telah      menjadi sepasang suami istri dan kehidupan yang sebenarnya mulai kami jalani.
 SELESAI

*Leli Rahmawati
Ditulis ketika SMA kelas sebelas
(Penulis merupakan mahasiswa prodi Sosiologi Agama)



Komentar