Patut kita cermati bersama ada banyak nilai-nilai keagamaan yang mulai beralih dengan adanya arus informasi yang begitu deras. Dunia internet dan media sosial, bisa menjadi "alat" yang membawa para pengguna menjadi orang-orang sholeh dalam kacamata agama, dan bahkan bisa membuat penggunanya menjadi manusia yang jahat sekalipun, tergantung bagaimana "user" memposisikan dunia internet dan media sosial.
![]() |
| Peran Medsos dan Agama_MalangTODAY |
Tindakan apa yang harus dilakukan oleh orang beragama dengan kehadiran internet dan media sosial. Agama jelas tidak mungkin bisa mengontrol arus informasi di internet, semua orang bisa berbagi, share informasi. Apakah internet menjadi teman atau musuh? sekali lagi dalam kacamata orang beragama. Mungkin kita pernah mendapatkan berita terkait berpindahnya suatu pemeluk agama ke agama yang lain, hanya karena mendapatkan "pencerahan" melalui internet bahkan media sosial. Bahkan, orang yang beragama (theis) berubah menjadi orang yang tidak mempercayai Tuhan (atheis), itu beberapa kasus yang terjadi sekarang akibat adanya internet dan media sosial.
Sebagai seorang yang beragama, patut dipertanyakan ulang ketika belajar agama hanya melalui internet dan media sosial. Apakah itu cukup memberikan asupan gizi bagi spritualitas kita? kehadiran blog, youtube, layanan streaming yang mewadahi tempat orang-orang berdakwah dan sebagai user kita bisa mengaksesnya kapanpun kita inginkan, asal kuota internet mencukupi. Bagaimanapun ketika "mengaji" lewat internet atau media sosial kita dipisahkan oleh jarak, tidak hadir secara langsung, dan belum tentu juga mendapatkan feel, emosi yang disampaikan oleh para "pendakwah" agama.
Maka muncul persoalan baru, apakah kehadiran para ulama akan tergantikan oleh dunia internet? sebagai seorang yang masih perlu belajar jelas-helas kita tidak akan mengamininya, akan tetapi kehadiran internet rupa-rupanya bisa menyediakan kajian-kajian yang kurang lebih sama. Misalkan sebagai pegawai perusahaan yang notabene tidak punya waktu untuk selalu hadir dalam pengajian, untuk antisipasinya bisa didapatkan melalui tanya kepada "mbah" google. Nah, akan menjadi permasalahan jikalau pengguna tadi tidak memahami secara benar, apa yang disampaikan pendakwah kepada para jamaahnya. Bagaimana pendengar dalam hal ini jamaah, bisa yakin bahwa itu adalah yang benar. Jangan sampai akan hanya membawa kepada arah kefanatikan buta tehadap agama, merasa orang yang paling benar hanya karena mendengarkan ceramah agama, bukankah sepatutnya kita bertabayyun terlebih dahulu, introspeksi diri, memilah dan memilih informasi yang masuk dari dunia internet dan media sosial. sehingga menjadi orang yang beragama dengan cara yang cerdas, bukan mempercayai satu sumber tanpa ada proses pencarian dan penggalian lagi terhadap keyakinannya dan tidak terombang-ambing oleh berita atau informasi "hoax".
Satu pertanyaan mendasar, apakah dengan kehadiran internet dan media sosial agama akan mati? Agama tidak akan mati. Tapi tata cara, perilaku orang yang beragama itu berubah iya. sebelum kehadiran ponsel pintar "smartphone" misal akan saya contohkan al-quran, bagaimana posisi al-quran ketika berupa teks-teks atau buku kita memperlakukannya? mungkin bisa didahului oleh berwudu, sikap baca menghadap kiblat, mencium setelah membacanya dan lain-lain. Namun bagaimana posisi al-quran ketika berada dalam smartphone? apakah kita masih berwudu? ataupun lainnya? itulah cara beragama ada pergeseran didalamnya. ataupun bersedekah bisa online, zakat online, dan lain sebagainya. Mungkin sebagai orang beragama sering kali kita tertipu dengan sesuatu yang di embel-embeli oleh agama. Contoh yang pernah booming adalah kirim doa. kegiatan kirim doa yang dilakukan di Makkah dalam suasana haji atau umrah dan dibarengi dengan mahar, dan contoh yang paling akut adalah politisasi agama. Dan kasus yang masih hangat adalah internet atau media sosial sebagai tempat cyber war bagi agama. orang menyebarkan berita-berita propaganda, saling menyerang, menyebarkan isu-isu sara, dan saling mengklaim kebenaran. Indonesia salah satu pengguna terbesar di dunia sebagai pemakai internet dan media sosial. sudah sepantasnya internet dan media sosial bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih produktif lagi. Seandainya kita sebagai pemeluk umat beragama yang mayoritas sadar, dan melek pengetahuan maka kita menciptakan kedamaian lebih banyak lagi, bukankah agama hadir untuk pesan-pesan kemanusiaan.
*Hamdan Ns, Menempuh pendidikan di Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga dan aktif di Organisasi HMI MPO UIN_SuKa.

Komentar
Posting Komentar