Pernahkah
kita memperhatikan bagaimana seekor ulat yang biasa akhirnya menjadi kupu-kupu
indah berwarna-warni. Atau mendengarkan tembang
saat kita masih kecil, telor-telor, ulet-ulet, kepompong, kupu-kupu, kasian
deh lu. Menjadi tembang edukatif tapi
harusnya tanpa di embel-embel kata kasian deh lu, bisa diganti dengan kata
semangat lain yang lebih bersifat positif . Penulis mungkin dalam keadaan
kurang ngopi jadi terbawa suasana ingatan masa lalu, anggaplah begitu.
Bukan
bermaksud penulis untuk menyamakan KOHATI dengan ulat ataupun kupu-kupu, tapi
ada pelajaran yang bisa diambil dalam “proses” perubahan (metamorfosis) wujud
dari ulat menjadi kupu-kupu. Butuh waktu 7-20 hari tergantung dari spesies kupu-kupunya. Dalam
perjalanan dan perubahan bentuk dari ulat ke kupu-kupu jelas membutuhkan banyak
energi dan perhatian khusus, sehingga kita bisa menikmatinya dengan melihat
rupa yang baru dari ulat menjadi lebih menarik.
![]() |
| Ilustrasi_oesteraas-menighet.no |
KOHATI (Korps
HMI-Wati) sejak dilahirkan pada 17 September 1966 M atau bertepatan dengan 2
Jumadil Akhir 1386 H di Kongres Solo VII, merupakan gerakan kesadaran dari para
HMI-Wati terhadap peran perempuan dalam masyarakat dan kesadaran pendidikan
merupakan hak bagi para perempuan juga, selain berperan mengangkat senjata
melawan para Komunis pada masa itu. Melihat perjalanan HMI-Wati selama ini
patut kita apresiasi dalam membuka pengetahuan kepara perempuan untuk melihat
peran dan fungsi dari perempuan di keluarga dan masyarakat. Dalam istilah
jawanya, Wedok niku menggone soalane
dapur, sumur, kasur. Permasalahan ini sudah ada sejak lama dan ditanamkan
kuat dalam mendidik anak perempuan, kita bisa lihat sejarah kerajaan-kerajaan
bagaimana perempuan sering dijadikan strategi dalam menaklukkan sebuah kerajaan
atau bahkan menghancurkannya, dengan “kawin paksa” bahasa lembutnya
“perjodohan”. Padahal bisa jadi perempuan tersebut tidak mau atau punya
pilihannya sendiri.
Bahkan
sejarah pra-kemerdekaan dalam persoalan pendidikan kaum perempuan mendapatkan
diskriminatif, sulit mendapat akses memperoleh sekolah. Kita mengenal R.A
Kartini, yang gelisah seakan hidup dalam “kotak” dalam surat-suratnya kepada
sahabatnya yang jauh, R.M Abendanon. Bagaimana adat dan agama seakan mengekang
jalan hidup seorang perempuan, dan KOHATI berperan terhadap paradigma yang ada
di masyarakat sekaligus memberikan pemahaman mendalam, apa yang seharusnya
perempuan lakukan dan dapatkan. Penulis melihat gerakan perempuan di Indonesia
pada umumnya sudah mulai terwadahi dengan baik. Kemudian, apakah perempuan
harus sejajar dengan para lelaki?
Peran dari
KOHATI di sinilah sangat penting, untuk mendudukkan kembali wanita sebagai fitrah yang lembut. Indonesia memiliki
banyak wanita hebat, di mulai dari yang ikut memimpin perang kita mengenal Cut
Nyak Dien, R.A kartini sebagai tokoh emansipasi, bahkan kita pernah punya
Presiden perempuan, Megawati Soekarno Putri. Bahkan belakangan ini, penobatan
Sri Mulyani sebagai menteri terbaik Dunia di World Development Summit di Dubai. Membuktikan bahwa
perempuan Indonesia sangat punya potensi untuk memimpin dan berkualitas.
Bagaimana itu bisa dicapai? Peran para Ibu sangat mendasar dalam mendidik anak-anaknya,
Ibu sebagai orang yang pertama mengajarkan pendidikan, norma kepada anaknya.
Maka, kita bisa melihat orang atau tokoh besar punya seorang Ibu yang kuat,
punya prinsip dalam mendidik.
Kita mungkin pernah membaca kisah Thomas
Alfa Edison saat sekolahnya menolak Thomas kecil untuk dapat belajar bersama
dengan anak-anak lainnya. Saat surat sekolah yang di baca Ibunya, mengatakan
Thomas kecil takkan mampu mengikuti kegiatan pelajaran sekolah. Ibunya
mengucapkan bahwa “kamu terlalu istimewa sehingga sekolah tak mampu mengajari
orang istimewa seperti kamu, biarkan ibu mengajarimu”. Dan kini kita tau siapa
itu Thomas kecil itu sekarang, seorang ilmuan dengan banyak penemuan dan
penemuannya sangat bermanfaat hingga sekarang. Dan segalanya tidak akan terjadi
apabila Ibunya menyerah pada saat itu, sosok Ibu yang kuat. Saat yang lain ingin menjatuhkan, Ibu ada
untuk mendampingi kita anaknya, selalu. Benarlah pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan kasih anak
sepanjang galah.
![]() |
| Penataran Kohati uinsuka |
Islam mengajarkan untuk menghormati Ibu
lebih tinggi dari Ayah. Surga di bawah kaki Ibu. Ridho Allah tergantung ridho
orang tua (Ayah dan Ibu), dan murkanya orang tua murkanya Allah. Bagaimana
Islam menjunjung tinggi peran seorang Ibu dalam rumah tangga, karena Ibu
sebagai Madrasah bagi kita, anak-anaknya. Dapat kita ambil benang dari tulisan
ini, untuk memiliki seorang buah hati yang baik bisa kita mulai dari memilih
Ibunya. Memilih calon Ibu bagi keluarga sangat penting dan mendasar, bisa kita
mulai dari harta, kecantikan, nasab (keturunan),
dan agama. dan yang paling utama dari keempat bagian tersebut adalah agamanya.
Dan KOHATI saya pikir sudah memiliki tiga dari empat bagian tersebut, tinggal
persoalan harta bisa diusahakan bersama-sama.
Kegiatan Penataran KOHATI salah satunya, yang
diajarkan di forum-forum diskusi, mengenal pribadi, peran baik dalam keluarga
dan masyarakat. Pendidikan di KOHATI akan sangat bermanfaat dalam mengarungi
bahtera kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. Maka, kita berharap bagi
para kader ikhwan dan akhwat untuk tidak berhenti belajar. Teruskan pendidikan
baik di HMI dan KOHATI khususnya para akhwat sebagai upaya melahirkan
kader-kader Mar’atus Shalihah. Sapa lagi yang akan diuntungkan kalau bukan para
Ikhwannya, ciyeeee. Maaf hanya khusus bagi yang sudah serius saja ya, jangan
baper. Maklum penulis kurang Ngopi. Wallahu a’lamu bisshawab.
*Hamdan Ns, kader di Komisariat Ushuluddin uinsuka, YK.


Komentar
Posting Komentar