HMI Berkarya untuk Negeri



            Harapan Masyarakat Indonesia yang diucapkan oleh Jendral Soedirman dalam Milad yang pertama pada tahun 1948 di Yogyakarta memang menjadi salah satu harapan kita semua. HMI harus mampu memberikan kontribusinya kepada bangsa ini, baik menjaga kesatuan dan persatuan, juga memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.

HMI dan Gagasan _Galih Andreanto
Dalam usianya yang ke-71 pada 05 Februari 2018 HMI sudah berumur dan matang secara organisasi ke-Mahasiswaan, memang selain faktor organisasi Islam pertama yang lahir pada 05 Februari 1947 di Yogyakarta dan pendirinya Drs. Lafran Pane. Perjalanan panjang yang telah ditempuh HMI membawa banyak pelajaran, dengan semangat keindonesian menjalani berbagai aksi baik di jalanan mupun digagasan sebagai langkah pendewasaan bagi HMI itu sendiri. Bagi penulis sendiri yang belum lama menjadi kader di himpunan mengucapkan banyak terima kasih bagi HMI yang sudah mau memberikan wadah bagi saya untuk ber-“proses” menjadi manusia yang melek pengetahuan, karena komisariat mewadahi dan mendukung para kader. Komisarat  sebagai basis pengetahuan dengan budaya membaca, diskusi, dan aksinya akan banyak memberikan manfaat nyata dan sadar betapa luasnya lautan pengetahuan.

Bertepatan dengan milad HMI juga ada agenda besar PB HMI yang baru terlaksana yakni Kongres HMI yang diadakan di dua kota Ambon dengan HMI Dipo dan di Sorong-Papua,  HMI MPO. Kita berharap dari dua kota yang berbeda bisa menambah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualtas muncul dan bisa memberi spirit baru bagi HMI. Dinamika HMI selama ini yang sudah kita ketahui bersama tidak lagi terus-terusan menjadikan alasan untuk tidak berbenah dan berkarya lebih baik untuk HMI dan juga Bangsa Indonesia. Cak Nur pernah berkata bahwa kita harus bisa menjadi sosok pembaru, karena menjadi pembaru itu hal yang penting sehingga tidak terjebak dalam stagnasi,  baik itu stagnasi gerakan ataupun stagnasi pikiran.

Ijtihad atau pembaruan haruslah merupakan proses terus menerus dari pemikiran yang orisinal, berlandaskan gejala-gejala sosial dan sejarah, yang sewaktu-waktu harus ditinjau kembali benar salahnya.[2] Dalam Khittah perjuangan HMI mengajarkan dalam pembentukan diri sebagai seorang kader himpunan standarnya diantaranya, Muabid, Mujahid, Mujtahid dan Mujaddid. Salah satunya Mujtahid, memiliki kemampuan berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya.[3] Maka berijtihad dalam gerakan dan pemikiran itu sangat penting untuk memperbarui sesuatu, apa yang harus dibenahi sehingga kita tidak terpaku dalam suatu kondisi yang sama, terulang kembali. Dalam usianya yang sekarang HMI harus terus berbenah dan diperbarui agar tidak ketinggalan kereta jaman.

Sebagai salah satu gerakan Mahasiswa HMI yang sudah banyak menelurkan generasi terbaik dan berkontribusi nyata, kita sebagai orang yang masih mendiami HMI jangan terlena dengan sejarah masa lalu HMI. Ibaratnya obat tidur yang melupakan tujuan awal untuk appa  masuk HMI? Menjadi sosok kader yangberintelektual progesif bukan hanya berwacana saja, tapi apa aksi nyata kita terhadap persoalan bangsa. Melatih diri, terus berproses jangan mudah untuk menyerah karena perjuangan bukan taman bermain kanak-kanak tidak mudah dan penuh tantangan. Tetapi itulah jalan yang harus ditempuh kita jika ingin memberikan kontribusi bagi bangsa ini.

Maka para kader HMI harus berijtihad dengan kata lain mau berusaha. Pekerjaan pembaruan adalah pekerjaan mereka dari kalangan masyarakat yang mempunyai kemampuan sebesar-besarnya untuk mengerti dan berpikir. Dengan perkataan lain, pekerjaan kaum pelajar. Maka tanggung jawab kaum terpelajar sungguh besar dan berat di hadapan umat manusia dalam sejarah ini, dan di hadapan Tuhan kelak di hari kemudian.[4] Sebagai penutup saya sekali lagi mengucapkan selamat milad untuk HMI mari kita bersama menjadi harapan seperti yang diinginkan Jendral Soedirman, tetap menjadi organisasi yang berdikari, berkarya untuk Indonesia yang lebih baik. Wallahu a’alamu bisshawab.

*Hamdan Ns[1]


[1] Kader Komisariat Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga
[2] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan keindonesian, hal. 258
[3] Khittah Perjuangan
[4] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan keindonesian, hal. 259

Komentar