Bila mata tertuju pada ujung lorong dalam kegelapan, terlihat saja kegelapan terbentang begitu luasnya. bertemunya titik pikiran pada kesepian, rindu, tangis bisu dan tanda tanya. Sudah jauh perjalanan yang di lewati entah berapa kali pula hanya sekedar mampir dalam bayang mimpi, menghasilkan cemas dan gelisah yang bertautan.
![]() |
| Keheningan_twitter.com |
Detik waktuku selalu berdentang keras, mengingatkanku untuk bangun lebih awal. Pengingat akan garis yang sudah ku guratkan dalam secarik kertas "perubahan", yang terlihat lusuh dan kusam berdebu. Bila penyair merindu dalam bait-bait tertulis indah dan menawan, menyihir para pembaca dan pendengarnya, aku hanya sekedar mampu meluangkan kata tak bermakna yang coba ku ungkap dalam sepi. maafkanlah diri ini yang berkalang kata tak bermakna, tak usah jualah kalian terlalu serius untuk menanggapi, tulisan ku nantinya, karna memang aku tak menulis tapi melukis pikiran mencoba sesadar mungkin.
Sahabat dalam kerinduan yang memanggil untuk berjalan, melangkah dalam derap seirama dan senada. melihat dan mendengar alam yang bernyanyi dalam sunyi dan berkabut. Terlalu memang aku yang terhenyak bangkit, jalan masih panjang, bukan kesedihan saja yang bercerita tapi kebahagian juga perlu punya ruangnya untuk kembali menceritakan kisahnya sendiri. Sudah terlalu lama juga aku hanya mengikut rindu yang berpaling, jiwa dan raganya bukan untuk ku. Ia yang berjalan melenggok syahdu tak sekalipun melirik ketepian, mungkin ia sedang sakit leher, tak sudi melihat ku duduk sepi dan merintih. Ia yang terbuang dalam memori, terkikis dalam balutan hujan malam hari. Ia dan aku mesti menyambut surya tanda hari berganti bukan gelap saja dan kisah rembulannya yang sendu, tapi sang surya juga mampu terangi ceruk gelap hingga tepian gelap, dedaunan yang menari bernapas terdengar menawan.
Belum lama juga aku merasakan, hasrat, dan gairah akan yang "ada" entah karna sebelumnya tak mau aku untuk berjalan pada lorong ini. Kerancuan yang di dengungkan atas yang "ada" bagi seharusnya ada itu sendiri. Jika dulu hanya menjadi pendengar kini masuk dala berperan merubah bahwa semestinya ''ada" menjadi ketiadaan yang mampu mengungkapnya. Dalam lingkaran yang pernah coba ku datangi, mereka yang mengagungkan akal sebagai alat penyelesaian masalah, menafikan kehadiranNya. Maka mencoba ku renungkan dalam diam dan kesendiriannya, menepi dari segala kebisuan hidup. Dan terlalu bodohnya aku yang tak mampu mengangkat secuil pun dari yang Maha Tahu.
Manusia selalu di berikan jalannya untuk menyelesaikan tanggungannya semampunya, kegilaan akan pengetahuan membuat mudah terkadang untuk mengerdilkan yang lain. Bila aku tersesat dalam pencarianku nanti, aku berharap ada yang mau masih memanggilku baik dalam do'anya, kata-katanya, bahkan caciannya untuk ku yang tersesat dalam pencarian.
*Hamdan Ns, Bergelut dengan dunia kuliahnya di UIN Sunan Kalijaga dan sebagai kader di HMI MPO komisariat Ushuluddin Yogyakarta.

Komentar
Posting Komentar