Teh Hangat Penawar dingin Malam di Malioboro

HMI_UY. Jalanan riuh rendah bunyi kendaraan yang melintasi titik nol Yogyakarta dan hiruk pikuk suara manusia mencari kebahagan di malam minggu (30/12), kami sibuk untuk menjajakan minuman penghangat badan, teh hangat ala "aktivis" demi menambal kekurangan dana dan sebagai bentuk perkaderan di Himpunan.

Pinggiran Titik Nol 
Sejak sore itu di Marakom Institute beberapa kader sibuk mempersiapkan jajakan dan kebutuhan "dagang", sekali-kali pesan via What Apps berseliweran ajakan untuk hadir bersama melatih mental, membawa baki berisi minuman penghangat. Pukul 20.00 WIB setelah menunggu kendaraan mencukupi maka dimulailah misi pengangkutan manusia yang akan "berjuang" menuju jalanan keramaian Malioboro-Titik Nol. Beberapa kader yang menjanjikan bisa hadir dengan langsung datang ke lokasi, tidak banyak memang tapi setidaknya ada dan bisa berjuang bersama. Bersama kita bisa kata slogan Parpol yang ingin menarik simpatisan untuk mencoblos. Ah lupakan dulu sejenak tentang mereka, toh walaupun tahun 2018 tinggal menghitung jari satu lagi.

Dari wawancara langsung seperti yang disampaikan oleh Megawati selaku Bendahara Komisariat mengatakan, "Jualan atau usaha ini memang menjadi program dari pengurus dan bendahara, dilakukan satu bulan sekali. Ya walaupun ada beberapa kendala juga, sedangkan tujuannya adalah sebagai sarana melatih mental kader untuk lebih berani tampil didepan publik." Deni Setiawan menambahkan "Di HMI ada tiga bentuk proses yang harus dilalui para kader, perkaderan, kegiatan dan jaringan. Nah, usaha jualan seperti ini adalah bentuk dari perkaderan karena melatih kader dan bagaimana cara kita berkembang." ujarnya selaku pengurus di perkaderan.

Tanggapan dari kader antusias atas kegiatan ini, "Menarik ya mas, selain menambah pengalaman juga melatih sabar ya. Dan juga bisa melatih untuk berbisnis, kan sesuatu yang besar harus dimulai dari yang terkecil," ungkap Siti Sarah. "kalau saya sih senang ya dengan kegiatan ini, selain tadi yang sudah disebutkan sarah juga bisa berbaur dengan masyarakat," ucap Naila menambahkan.

Baik Sarah dan Naila adalah kader dari komisariat Ushuluddin, selain mereka juga ada banyak kader yang datang serta dari beberapa pengurus. Terlihat di lapangan saat mulai "aksi" ada beberapa kader yang masih malu-malu untuk mengangkat serta menawarkan teh hangatnya. "Kalau kita di jalan yang benar kenapa harus malu" ungkap Deni saat evaluasi kegiatan.

Kisah di balik teh hangat yang dijual juga patut disorot. Berawal tertinggalnya kader yang membeli es karena kurang kendaraan harus bolak balik menjemput dan teh hangat sudah sampai di lokasi. Sedangkan suasan rintik hujan sudah mulai turun, maka diputarlah otak agar jualan tidak terhenti begitu saja. "Lah kenapa enggak jualan teh hangat saja ya, kan rintik-rintik hujan. Dingin-dingin minum es kan kurang cocok, pasnya minum hangatkan." begitu kata salah satu kader yang tertinggal. Maka disulaplah es teh yang pada rencana awal menjadi teh hangat, yang dijual dan tidak disangka-sangka pembeli lebih menyukai teh hangat kami dibandingkan es teh yang dijual penjual lain. kekuatan membaca peluang sangat diperlukan dalam membaca situasi atau jurus kepepet keluar juga akhirnya.

Dan ditutup oleh forum evaluasi usaha kita pada malam itu membuahkan hasil. Kenangan akan selalu tersimpan rapi dalam ingatan, maka buatlah kenangan sebaik mungkin dibarengi usaha sekuat tenaga serta alunan do'a. Yakin usaha sampai.


Komentar