Kajian Sosial : Konflik Budaya Pasca 65'


Resensi Buku: Kekerasan Budaya Pasca 65
Author: Wijaya Herlambang
Publisher: Margin Kiri
Pendahuluan

Sejak kecil secara tidak sadar saya dibayang-bayangi dengan “politik” yang bernama PKI, bagi saya yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar tidak terlalu memusingkan dengan PKI, tau PKI saja tidak akan tetapi ada sebuah ketakutan dalam alam bawah sadar jika PKI akan bangkit kembali. Masuk ke universitas seolah saya mengakami represi kembali mengenai PKI, dengan melihat sebuah lambang Partai Mahasiswa yakni Partai Proletar itu berlambang mirip dengan lambang PKI, dan ada ketertarikan tersendiri untuk mengetahui bagaimana peristiwa itu terjadi. Belum ada istilah ilmiah saat saya berfikir seperti itu, yang saya lakukan adalah mencari dan mencari dengan berbagai sumber informasi mengenai gerakan kiri di Indonesia, mulai dari video, audio, e-book dan buku saya lahap habis tidak ada rasa lelah jika saya mendalami peristiwa seputar kejadian 65 dan gerakan kiri khususnya era kolonial sebelum Indonesia merdeka.

Akan tetapi dari sekian banyak informasi yang saya dapatkan baru satu informasi yang saya rasa ini cukup menjadi pembeda dari informasi-informasi yang saya dapatkan, saya mendapatkan pengalaman baru ketika membaca buku karya disertasi doktoral Wijaya Herlambang dengan judul “Kekerasa Budaya Pasca 65”. Jika informasi-informasi terdahulu itu menyajika konflik fisik dan ideologi yang umum didiskusikan akan tetapi dalam buku ini menyajikan bahwa konflik dan kekerasan tidak hany terjadi dalam ranah fisik dan ideologi akan tetapi konflik dan kekerasan juga terjadi dalam wilayah kebudayaan. Bagaimana orang-orang yang saya anggap adalah seniman atau lebih tepatnya adalah sastrawan yang menghargai sisi humanisme universal yang tulisan-tulisannya juga menentang pembantaian 65 dan mendukung sebuah rekonsiliasi menganai peristiwa itu tetapi disisi lain secara sadar atau tidak mereka juga melanggengkan proses masuknya sistem kapitalisme di Indonesia. Jika biasanya saya hanya mendengar “mafia Berkeley” yang menjadi dalang liberarisasi ekonomi di Indonesia dengan Arsitek Ekonomi orde baru dan FE UI menjadi pusat dari Ekonomi Pasar Bebas, ternyata dalam bidang kebudayaan kita juga dibredel oleh CCF yang sebagaimana diungkapkan dalam buku tersebut adalah organisasi kaki tangan CIA.

Pengalaman saya membaca buku ini adalah bahwa susahnya Freeport hengkang dari Indonesia, dan menjalarnya ekonomi liberal yang semakin menjauhkan jarak antara yang kaya dan miskin, penyerobotan lahan, dan pemodal lah yang mejadi kasta paling tinggi dalam kehidupan sehari-hari semua bermula ketika kejadian pergantian kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto, saya melihat bukan hanya perang antara militer dan pihak Komunis melainkan adalah proses peperangan antara masyarakat yang dikelabui oleh pemodal-pemodal kelas kakap, dan saya membenarkan legitimasi Hatta dengan mengatakan “Jika Indonesia berpihak antara blok barat dan blok timur sama saja Indonesia bunuh diri, jika kita berpihak kepada blok barat maka blok timur akan menggilas kita begitu juga sebaliknya” dan terbukti perkataan Hatta ketika tahun 60 an Soekarno semakin dekat dengan blok timur atau komunis.

Bayang-bayang Hantu Komunis

Malam tanggal 30 September 1965, pasukan yang sebagian besar adalah pengawal presiden Chakrabirawa pimpinan kolonel Untung melancarkan operasi militer untuk menculik tujuh “Dewan Jendral” Angkatan Darat: Nasution, Ahmad Yani, Suprapto, Soetoyo, Haryono, Panjaitan, dan S.Parman. Nasution berhasil lolos hanya saja yang menjadi miris, penculik menembaki secara serampangan anak bungsu Nasution, Ade Irma dan meninggal beberapa hari kemudian. Tidak mendapat Nasution maka penculik menyeret ajudannya yakni  Tendean. Ketujuh korban penculikan dimasukan kedalam sebuah lubang yang dinamakan saat ini adalah lubang buaya. Aneh bagi saya jika peristiwa penculikan tersebut diinterpretasi oleh Angkatan Darat sebagai usahap kup terhadap pemerintah, jika ingin berdiskusi lebih lanjut Militer atau lebih tepatnya TNI itu aparatur pemerintah atau aparatur negara? Dan hanya satu orang pimpinan senior Angkatan Darat yang tidak menjadi korban Penculikan tersebut padahal jika ditelisik pangkatnya juga besar, yakni Jendral Soeharto yang saat itu adalah Panglima Kostrad (Komando Cadangan Angkatan Darat). Pada Pagi 1 Oktober 1965 Soeharti membuat pernyataan bahwa PKI dibawah pimpinan  DN Aidit menjadi satu-satunya dalang dibalik penculikan para jendral tersebut. Menyusul tudahan ini, Soeharto segera mengambilalih pimpinan Angkatan Darat. Soeharto juga mencurigai bahwa dalam melakukan aksinya, PKI dan kelomp Untung didukung oleh Angkatan Udara. Dalamwaktu singkat Angkatan Darat yang dipimpin oleh Soeharto melancarkan kampanye kekerasan terhadap PKI dan para pengikutnya yang mengakibatkan ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh, hilang, atau dipenjara tanpa proses Pengadilan.
Setelah orde baru berhasil digulingkan dan sayangnya mahasiswa melakukan kesalahan waktu itu, mereka hanya terfokus oleh Soeharto padahal jika ingin dilihat lebih lanjut pemerintahan yang berlangung selama 32 tahun tidak mungkin hanya memiliki satu kepala dan satu kaki. Oleh sebab itu reformasi yang diidam-idamkan hanya berganti baju saja karena tidak bisa menyeret Soeharto kepengadilan, pernah saat eras Abdurahman Wahid hanya saja ia keburu dilengserkan oleh Amien Rais dan “Kanjeng Mami”. Wijaya mengisahkan juga ketika November 2000, sekelompok orang yang dipimping oleh YPKP (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966) berkumpul di sebuah hutan di daerah Wonosobo. Sementara ornag ramai menonton di tengah gerimis yang mengguyur. Akhrinya jelas bahwa mereka sedang melakukan penggalian tulang belulang itu adalah korban pembunuhan massal yang dilakukan oleh militer di bawah koando Jendral Soeharto sebagai akibat dari peristiwa 30 September 1965. Para korban ini adalah yang terduga sebagai anggota PKI, yang dituduh militer sebagai pengkhianat bangsa. Kemudian setelah selesai melakukan penggalian, anggota keluarga korban dibantu YPKP berencana melakukan pemakan ulang sebagaimana layaknya dilakukan oleh anggota masyarakat yang lan di desa Klaoran, dekat Yogyakarta. Namun pada 25 Maret 2001, ketika upacara pemakaman ulang hendak dilaksanakan, sekelompok orang yang menamakan diri FUIK (Forum Umat Islam Kaloran) berusaha menghalanginya. Anggota keluarga dan hadirin dihadang oleh masa FUIK yang secara tegas menolak pemakaman yang henda dilakukan di desan mereka, Kaloran. Mereka mengancam para pengurus upacara, merampas dan menghancurkan peti-peti dan memorak-morandakan tulang belulang korban. Massa FUIK menuduh YPKP sebagai usaha membangkitkan komunis di Indonesia.

Ada banyak sekali produk-produk kebudayaan yang digunakan oleh pemerintah orde baru dam agensi-agensi kebudayaannya seperti, ideologi negara, museum, monumen, diorama, flokfor, agama, buku-buku pegangan siswa, materi penataran, film, ideologi kebudayaan dan karya sastra. Meskipun dalam aliran Strukturalis dan Formal sastra tidak diakui sebagai penyedia kebenaran karena sastra adalah “fiksi” bukan fakta, akan tetapi orde baru melakukan pendekatan kebudayaan untuk meligitimasi pikiran anti-komunis sepanjang masa kekuasaannya.

Yang menjadi kebingungan saya seniman-seniman yang idsebutkan oleh Sijaya Herlambang dalam buku tersebut disatu sisi ia menjadi agen yang memfasilitasi masuknya ideologi barat atau lebih tepatnya ideologi liberalistik dan melgitimasi naiknya rezim orde baru. Sebagai contoh orang-orang Gemsos atau organisasi underbow nya PSI (Partai Sosialis Indonesia) dengan “dedengkot” nya adalah Sumitro yang menjadi menteri di era Soeharto meskipun pernah terlibat dalam pemberontakan PRRI-Permesta yang digawangi oleh teman-teman Masyumi yang kecewa dengan pemerintahan Pusat. Sebagai contoh adalah Agus Budiman kakak kadnung Gie dan juga Gie sendiri, mereka berdua paling getol mengkrtik Soekarna karena sifat otoriternya, bagaimana Gie mengisahkan dalam buku hariannya ia mengkritik Soekarno karena membungkam Mochtar Lubis karena tulisannya dianggap menghina pemerintah, ia juga menjadi generasi 66 yang dianggap berjasa menatuhkan rezim Soekarno, akan tetapi dalam kejadian pembantian korban G30S ia menulis berita mengenai pembantaian manusia yang terjadi di pulau Bali dengan nama samaran Dewa. Kakaknya juga tidak kalah dengan Gie, Agus Budiman dianggap menjadi pelopor generasi golongan putih atau (Golput) pada pemilu pertama orde baru karena dianggap pemilu yang diselenggarakan orde baru adalah settingan belaka dan hanya melgitimasi kekuasaan Soharto saat itu. Ia juga mengecam kejadian pada tahun 1974 yang dikenal peristiwa Malari.

Lancarnya kegiatan-kegiatan para agen kebudayaan yang anti-komunis tidak bisa dilepas dari lembaga donor bagi budayawan-budayawan yang dianggap pro barat, yakni organisasi  kebudayaan dan filantrofi asing seperti CCF (Congres for Cultural Freedom), yang didonori oleh Ford Fondation dan Rockefeller Fondation. Intitusi kebudayaan tersebut mendudukung segala uapaya yang dilakukan oleh agen-agen kebudayaan dalam melgitimasi kekerasan kepada budaya yang berideologi kiri. Wijaya Herlambang mencontohkan dengan Komunitas Utan Kayu pimpinan Goenawan Mohammad yang berisitegang dengan kelompok-kelompok marjinal seperti  KSI (Komunitas Sastra Indonesia) dan buletin boemiputera serta beberapa kelompok lain seperti rumah dunia dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam diskusi dan mari berdialektika guna membentuk gagasan bukan mencari pembenaran atau menyalahkan satu pihak dan pihak lainnya.

Komentar