Dua tahun sebelum saya merasakan dunia
kampus, saya sudah familier dengan nama HMI meskipun belum terlalu intens. Tak
ada rencana sama sekali untuk ikut bergabung dan berproses di organisasi yang
lahir pada 5 februari 1947 tersebut.
Setelah memasuki dunia kampus dan mendapat
gelar maba, mata saya seolah terbuka dari anggapan lama bahwa organisasi di
kampus itu hanya HMI saja dan kemudian melihat banyak organisasi yang eksis
disana. Terlihat dengan jelas beberapa pengurus dari masing - masing organisasi
menggunakan jurus paling ampuh untuk menarik para anak culun yang masih polos
akan pengetahun tentang organisasi untuk masuk ke organisasi mereka.
Pertarungan merebut hati para maba pun tak
bisa dihindarkan. Ada yang menggunakan pendekatan persuasif, ada pula yang
memanfaatkan kepanitiaan mereka di PBAK (ospek) untuk menambah kuantitas kader
di organisasi mereka.
Pertanyaannya kemudian, kenapa saya tidak
sempat tersangkut di jaring rayuan organisasi yang kuantitasnya melimpah
tersebut..? Kenapa harus HMI..? Tentu, jawaban dari pertanyaan itu pasti mengalami
perubahan baik saat pertama kali memutuskan untuk bergabung dan saat setelah
beberapa bulan berproses.
Jawaban lugu hadir pada saat pertanyaan itu
dilontarkan saat awal masuk di himpunan yang lahir di kota Yogyakarta ini.
Gambaran jawabannya kira kira begini : Ya karena HMI telah mencetak alumni
alumni keren dengan nama besarnya di negara kita, ya makanya saya masuk HMI.
Jawaban yang berbeda justru hadir setelah
beberapa bulan berproses dan paling tidak tingkat keluguannya lebih rendah dari
jawaban pertama. Kalau Pertanyaan kenapa harus HMI itu dilontarkan kepada saya
saat ini. Kenapa bukan PMII yang notabene saya adalah NU tulen ? Kenapa bukan
GMNI yang pendirinya adalah salah satu tokoh favorit saya yang juga presiden
pertama Indonesia ? Dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan lain.
Nah, kenapa harus HMI..?
Banyak corak dan banyak warnalah yang
mebuat saya semakin mantap untuk berproses dan bertahan di himpunan ini. Saya
pernah mendengar kalimat "tersesat di jalan yang benar". Kira kira
seperti itulah penjelajahan saya di dunia kampus saat ini. Jawaban sederhana
dari satu pertanyaan yang mungkin akan terus muncul dalam perjalanan atau proses
saya di himpunan ini. Jawaban jawaban yang tingkat keluguannya semakin rendah
akan hadir disaat saya berproses di hmpunan tercinta ini adalah harapan
terbesar saya.
YAKUSA
Oleh : Muh Alfian Al ahsan
(Kader HMI Ushuluddin 2018)

Komentar
Posting Komentar