Toleransi Sebuah Paradoks Dalam Demokrasi

Belum lama ini saya mengikuti sebuah acara yang mana mendatangkan tokoh-tokoh terkenal yang berjudul ‘beda itu biasa’.  Tema yang menurut saya merupakan tanggapan atas aksi teror yang baru-baru ini dilakukan di berbagai tempat di Indonesia. Keresahan akibat kasus  terorisme agaknya mengundang Catatan Najwa untuk menjadikan perbedaan sebagai tantangan untuk bangsa Indonesia. 

Para narasumber pun agaknya memiliki fikiran yang sama. Bahwa perbedaan sebisa mungkin haruslah tidak menciptakan konflik. Perbedaan dicoba untuk dialihkan, bukan sebagai pemecah tapi sebagai penguat.  Para narasumber memperkuat dengan statement-statement pluralitas seperti fakta sejarah yang menyatakan indonesia lahir karena keragaman, indonesia menjadi kuat karena perbedaan dst.. dst..

Salah satu tokoh yaitu Alissa Wahid yang sangat bersemangat untuk mengkampanyekan toleransi kepada semua golongan, termasuk kepada kelompok marjinal sekalipun. Begitupula Najwa Shihab yang dipandang sebagai bintang pada acara tersebut, juga memiliki gelagat yang sama yaitu mendukung pendapat dari narasumber. Kemudian ketika acara beralih ke narasumber selanjutnya yaitu dari ketua pemuda muhammadiyah, beliau mengkampanyekan toleransi dengan tur mengelilingi indonesia, masuk ke gereja-gereja dan melakukan dialog. 

Menurutnya, kunci toleransi adalah melalui dialog bersama atau ngopi bareng. Lalu Kinan yang didaulat sebagai duta damai Indonesia mengkampanyekan tolerasi melalui lagu-lagunya. Tapi yang paling menarik menurut saya ialah pembicara terakhir, yaitu pak Yudian Wahyudi Rektor Uin Sunan Kalijaga. Beliau menceritakan mengenai revolusi Iran dan dampaknya terhadap Indonesia (baca: Faham Syiah yang tersebar di Indonesia) yang mulai masuk ke dalam dunia kampus dan juga faham wahabi yang ada di Indonesia serta kaitan dua kelompok ini dengan peristiwa intoleran berupa teror yang ada di Indonesia baru-baru ini. Pernyataan tersebut diakhiri dengan dukungan bahwa kita harus menjauhi sikap intoleran.

Menarik menurut saya, ketika kita bisa melihat bagaimana pandangan para tokoh nasional terhadap perbedaan dan toleransi dewasa ini. meskipun narasumber pertama menyebutkan harus ada toleransi yang merata kepada semua termasuk kelompok marjinal. Saya juga sangsi, apakah benar toleransi bisa diberikan kita kepada kelompok marjinal juga? Hal tersebut diperkuat juga dengan argumen Pak Yudian Wahyudi, yang menunjuk dua kelompok marjinal dan secara tidak langsung mengaitkan nya dengan kasus intoleransi yang terjadi di indonesia.

Toleransi, sebenarnya apakah itu?

Toleransi, mungkin adalah kata yang sedang di dengung-dengungkan oleh masyarakat kita dewasa ini, apalagi di bulan Ramadhan. Karena memang toleransi memang merupakan kata yang khas dan dekat dengan segala hal yang berbau keagamaan. Tapi apakah toleransi itu? dalam KBBI diterangkan bahwa toleransi adalah sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. 

Istilah Tolerance lahir pertama kali di Barat, di bawah situasi dan kondisi politis, sosial dan budayanya yang khas. Toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, sekalipun pendapatnya salah dan berbeda. Sepertinya yang perlu digaris bawahi disini ialah poin dimana kita tetap membiarkan atau menghormati orang lain yang punya pandangan yang berbeda sama sekali dengan kita. Tapi, yang membuat saya skeptis disini ialah apa benar bahwa manusia bisa menerapkan apa yang dinamakan dengan toleransi?

Seperti diawal acara tadi, Ibu Wahid mengatakan betapa pentingnya kita juga menghormati segala golongan yang ada, termasuk pula golongan marjinal, namun di akhir acara Pak Yudian mengatakan dan menyebutkan golongan marjinal dan bahkan mengaitkannya dengan kasus teror di Indonesia baru-baru ini. tidakkah itu berarti intoleran? intoleran terhadap dua kelompok marjinal tersebut? memerangi mereka yang berfaham beda, yang tingkah lakunya berbeda, bukankah lantas kita yang menjadi intoleran? bahkan ketika kita mengatakan ke-tidak mau kompromi-an kita kepada pada teroris, sebenarnya kita sudah menjadi intoleran terhadap teroris.

Begitulah sikap kita terhadap PKI dan HTI, yang kita perangi atas nama sesat. Padahal arti toleransi ialah membiarkan mereka yang pendapatnya berbeda sama sekali dengan kita. Sudahkah kita membiarkan mereka? sudahkah kita memberi ruang mereka dalam berekspresi, terutama dalam demokrasi ini? dan mari kita fikirkan lagi, sebenarnya sudahkah kita bertoleransi?

Mungkin banyak yang mengatakan kepada diri mereka sendiri ataupun kepada orang lain ‘saya toleran terhadap sesama’. Namun ketika dia dihadapkan oleh sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dan berpotensi menyerang keyakinannya, orang tersebut lantas melakukan tindakan sebagai ekspresi ketidaksetujuan terhadap hal yang ‘berbeda dari nya’ tersebut. Misal saja negara demokrasi. kita tahu demokrasi berarti menampung segala aspirasi yang ada dalam warganya. Namun kita sadari pula, bahwa negara demokrasi ini pun memiliki pengecualian. 

Terbukti dengan pembantaian G30S dan yang baru-baru ini pembubaran ormas HTI yang alasannya bertentangan dengan NKRI. Itulah yang juga dicontoh oleh masyarakat kita saat ini. Masyarakat kita menyatakan toleransi, asal tidak bertentangan dengan dengan nilai-nilai yang ditetapkan oleh dirinya sendiri. Itulah paradoks dari toleransi yang kita terapkan. Lantas, apakah indonesia gagal menerapkan demokrasi? apakah indonesia telah gagal menerapkan toleransi? jawabannya tentu saja iya. Bahkan lebih radikal lagi, tidak ada satu negara pun yang berhasil menerapkan demokrasi dan toleransi.

Mengutip pemikiran seorang filsuf Slovenia, Slavoj Zizek  yang menyatakan bahwa toleransi menurutnya ialah salah satu bentuk dari ideologi. Ia menjelaskan toleransi yang hendak diwujudkan melalui cara saling mengerti satu sama lain sehingga bisa memahami bagaimana cara pandang suatu golongan dan berinteraksi dengan mereka yang berbeda dengan kita sebenarnya bukanlah solusi untuk menciptakan kedamaian. Menurutnya, komunikasi juga merupakan awal dari kemunculan konflik. Semakin kita mengetahui orang lain, semakin banyak pula hal-hal yang menurut kita berbeda dengan mereka. Semakin terdapat konflik dan masalah yang akan timbul karena komunikasi. 

Menciptakan kedamaian tidak dapat dicapai dengan berusaha mengerti cara pandang suatu golongan, justru kedamaian akan dicapai dengan mudah ketika kita menyingkir dari jalan orang lain. Biarlah orang itu berjalan pada jalannya, biarlah kita berjalan di jalan kita sendiri. Ketika kita sebisa mungkin tidak berusaha untuk ikut campur, kita bisa menghindari konflik. Itulah menurut saya sebuah hakekat dari pluralisme. 

Menurut saya, itulah toleransi. Ketika kita berhasil membiarkan orang lain atau golongan lain berjalan pada jalannya sendiri, kedamaian akan terwujud. Tentu saja bukan berarti kita tak boleh berinteraksi dengan mereka. Namun yang saya tekankan disini ialah: batas. Ada batas dimana kita tidak boleh terlalu mengganggu jalan hidup mereka. Ada batas dimana kita tidak boleh terlalu ikut campur dan berfokus pada jalan kita sendiri. Itulah toleransi menurut seorang filsuf kontemporer saat ini.

Dalam hal relevansi, agaknya memang sangat relevan dalam hal penalaran. Memang benar bahwa konflik terjadi karena adanya interaksi. Konflik terjadi karena kita terlalu ikut campur di jalan orang lain. Tapi, menurut saya konsep postmodern ini harus difikirkan ulang jika hendak di adopsi ke dalam konteks keindonesiaan. Menjadi pertanyaan kita semua saat ini sebagai generasi yang baru dan pemuda, bisakah konsep toleransi Barat kita ambil untuk mewujudkan kedamaian Indonesia?

Ersa Khaiya
(Penulis merupakan Mahasiswi Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Suka)

Komentar

  1. Wkwkwk terimakasih haikal 😂

    BalasHapus
  2. Tulisan anda menarik, meski perlu penegasan ulang pada pandangan anda ttg Toleransi menurut anda sendiri. Di tengah banyak orang dan golongan bicara Toleransi tapi faktanya intoleran, tulisan anda telah menyuguhkan pandangan yg Egaliter dan cukup adil di dalam menjelaskan permasalahan yg tengah terjadi pada bangsa kita.teruslah adil dalam mencermati masalah, apresiasi buat anda.
    Semoga berkelanjutan....

    BalasHapus
  3. Membacanya seperti dapat pencerahan haha

    BalasHapus
  4. Terimakasih kritik sarannya @sangnabi ..
    @amal wkwkwk terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar