![]() |
| Ilustrasi Perjuangan_naubhas.in |
Pada masa 70-an gagasan yang diusung
oleh HMI adalah fight against-perjuangan
melawan. Ketika itu HMI ikut andil dalam berbagai perlawanan, khususnya
terhadap pergolakan PKI. Setelah perjalanan yang ditempuh hingga saat ini, HMI
dalam usia matangnya bukan lagi terus menggunakan gagasan yang sama perlu ada pembaharuan.
Maka salah satu gagasan yang harus diangkat oleh HMI adalah gagasan fight for-perjuangan untuk. Sehingga HMI
tidak hanya berjuang secara fisik saja tapi mampu juga memberikan solusi
konkret bagi persoalan bangsa, menelurkan ide-ide segar dan keindonesian.
Pada
tataran setingkat cabang di HMI harus mempunyai beberapa point utama sebagai
landasan gerakan dan kepemimpinan, dalam hal ini cabang Yogyakarta. HMI cabang
Yogyakarta tidak saja bergelut dengan persoalan internal serta menciptakan solidarity making saja, tetapi mulai
beranjak pada pada tahapan probelm
solving sehingga mampu berperan bagi penyelesaian permasalahan ummat. HMI
sekarang membutuhkan sosok Hatta-Hatta baru yang mempunyai konsep kepemimpinan,
gagasan-gagasan cerdas. Bukan hanya memperbanyak seorang Soekarno yang
berkobar-kobar, semangat bergelora. Kita membutuhkan sosok konseptor ulung.
Memang dalam kerja pencarian solusi terkesan kalem, tetapi dibutuhkan ketekunan
ekstra, serta melibatkan analisa mendalam untuk sampai pada tujuannya.
Perhelatan Konfercab setingkat cabang
harus memunculkan sosok pemimpin yang berintegritas. Menjadi seorang pemimpin
memang bukan perkara yang mudah, harus melalui proses yang panjang dibarengi
dengan pengalaman-pengalaman memimpin, dan HMI mengajarkan itu semua. Pemimpin mesti
merangkul semua elemen untuk berbaris dalam satu arahan dengan satu visi yang
sama. Berbicara persoalan pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin.
Bagaimana jadinya bila kata-kata seorang pemimpin tidak lagi didengarkan dan
perbuatannya tidak lagi untuk diikuti. Maka hanya akan menciptakan suasana
menjadi tidak kondusif, ngawur, dan
tidak sedap dipandang.
HMI cabang Yogyakarta sekarang
membutuhkan sosok pemimpin yang mampu membawa pada sinar yang lebih terang.
Memiliki visi jelas, berkarakter, berintegritas, loyal, bukan sosok yang mencla-mencle, mudah terbawa arus. Dan
sosok seperti inilah yang dibutuhkan cabang Yogyakarta saat ini, dan saya rasa
kriteria yang pantas untuk menjadi Imam bagi sekelas cabang Yogyakarta.
HMI mengajarkan kepada kita bahwa ada
hak dalam memutuskan dan itu tidak seorangpun yang mampu menghilangkan hak
tersebut, independensi-the right to
decide. Kita lah yang menciptakan
sejarah bagi perjalan kita sendiri, bukan orang lain. Maka segala kepentingan
yang berasal dari luar sebisa mungkin untuk kita redam. Karena hanya akan
merusak dan menciderai kegiatan Konfercab, apalagi sampai ada pemimpin pesanan.
Mari kita buka akal sehat dan renungi kembali. Apakah kita akan merusak rumah
kita sendiri? Tentu jawabannya hanya diri masing-masing dan Allah swt saja yang
tau. Maka pilih dan putuskan sosok pemimpin yang benar-benar berkompeten, dan
kita butuhkan saat ini. Bukan pemimpin yang mau main-main atau bahkan
mempermainkan kegiatan seperti ini (Konfercab).
Pemimpin harus memiliki tujuan dan
pandangan ke depan. Mau kemana langkah dari cabang Yogyakarta akan diarahkan.
Kita sedang mencari sosok pemimpin yang bisa memberi harapan dan usaha. Bukan
sekedar bualan serta harapan palsu dan sosok yang kita butuhkan adalah seorang
pemimpin yang tidak mudah goyah, tidak bisa diintervensi baik dari internal
(senior) atau eksternal HMI. Dengan akan terpilihnya nanti pemimpin bagi Imam
cabang Yogyakarta kita berharap untuk mampu berbenah dan terus berusaha membawa
HMI cabang Yogyakarta berjalan ke depan dengan gagasan dan visinya sehingga
mampu membangun peradaban yang diridhoi Allah swt. Wallahu a’lamu bisshawab.
*Hamdan Ns
[1] Ditulis
sebagai pandangan pada kegiatan Konfercab ke-67
[2] Kader
Komisariat Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar